Apa Penyebab Yuyun Diperkosa sampai Mati?

Oleh: Niken Satyawati

Pilu dan nyesek dada ini mendengar kisah Yuyun, gadis mungil asal Bengkulu yang diperkosa hingga meninggal, kemudian jasadnya dibuang begitu saja. Pelaku "menggarap" Yuyun bergiliran. Mereka adalah 14 anak laki-laki (sebagian besar masih di bawah umur) yang kini sudah ditahan aparat Polri. Mereka akan merasakan dinginnya sel penjara selama kurang lebih 10 tahun, walau hukuman berapapun rasanya tak setimpal dengan kebiadaban yang mereka lakukan terhadap Yuyun. Kasus Yuyun hanya satu di antara banyak kasus perkosaan yang akhirnya sampai ke meja hijau.

Berdasarkan catatan Komnas HAM, selama lima tahun terakhir hingga 2015 ada 2.898 kasus kekerasan terhadap anak, 59,3% di antaranya kejahatan seksual. Namun hanya 179 kasus yang dilaporkan. Selebihnya yang jauh lebih besar jumlahnya, tidak dilaporkan dengan mengingat berbagai pertimbangan.

Tak urung, kasus yang menimpa Yuyun mungkin menjadi kasus paling sadis, yang membuat miris siapapun yang masih punya nurani. Para orangtua ditegur agar makin waspada. Pemerintah dan diingatkan keras agar memiliki sistem untuk melindungi warga negaranya. Institusi pendidikan ditampar dan dianggap tak berhasil melahirkan generasi yang lebih beradab.  Yang cukup menarik adalah ketika minuman keras (miras) disalahkan dan dianggap sejumlah pihak sebagai penyebab utama terjadinya pemerkosaan terhadap Yuyun. Apakah orang yang minum miras akan lebih tinggi libidonya sehingga bisa melakukan perkosaan beramai-ramai terhadap seorang gadis, dan kemudian membuangnya dalam keadaan tangan terikat ke dasar jurang? 

Menurut saya pribadi, miras mungkin saja berpengaruh dan menjadi faktor penyebab. Namun itu hanya kecil saja. Sebagai catatan, saya bukan pendukung eksisnya minuman keras, bahkan saya jauh-jauh dari miras karena jelas itu diharamkan sesuai ajaran agama yang saya anut. Alih-alih menyalahkan miras, ada faktor-faktor yang lebih besar pengaruhnya sehingga lebih pantas "disalahkan".  Faktor-faktor itu adalah:

1. Keluarga

Keempatbelas pelaku bukan begitu saja ada di dunia. Dia adalah produk sebuah keluarga. Keluarga berperan besar dalam membentuk karakter seorang anak. Keluarga yang paling berpengaruh kenapa 14 anak itu bisa menjadi  jahat bahkan biadab. Keluarga khususnya kedua orangtua ikut bertanggung jawab kenapa anak-anaknya masuk ke pergaulan yang salah.  

Di mana kedua orangtua atau sanak keluarga lainnya ketika 14 anak itu mulai suka berkumpul, lalu berlanjut merencanakan kejahatan terhadap Yuyun? Bukahkah mayoritas mereka masih di bawah umur, thus mereka seharusnya masih di dalam pengawasan keluarganya? Di mana keluarga ketika anak-anak kecil itu mulai mengenal minuman keras? Di mana keluarga sehingga anak-anak itu mulai mengakses video adegan intim orang dewasa? Apakah begitu sibuknya para orangtua dan sanak keluarga untuk urusan mencari penghidupan dan lain-lainnya sehingga tidak tahu anak-anak mereka suka berkumpul dengan anak-anak nakal?  

Satu anak, kemungkinan besar tak akan tega dan berani melakukan kejahatan sekeji itu. Tapi ketika itu dilakukan beramai-ramai, maka mereka menjadi lebih berani dan tidak terkendali.  Keluarga  khususnya para orangtua berkewajiban memberikan pendidikan yang baik bagi anak-anaknya. Mereka harus terus diawasi dan diarahkan agar menjadi manusia yang baik dan selalu mengedepankan nurani. Keluarga mestinya menanamkan nilai-nilai etika dan budi pekerti yang akan tertanam kuat pada diri setiap anak. Sehingga anak-anak akan takut berbuat jahat. Anak akan takut berbuat tidak senonoh kepada siapapun. 

2. Lingkungan sosial

Lingkungan di mana anak-anak itu tinggal juga faktor yang ikut berpengaruh. Apa yang dilakukan orang-orang di sekitarnya ketika melihat anak-anak mulai berkumpul? Apa yang dilakukan orang-rang ketika anak-anak yang berkumpul mulai membawa minuman keras? Apa yang dilakukan ketika ada kumpulan anak-anak suka menggoda dan mencegat anak perempuan? Apakah segitu abainya masyarakat setempat dan begitu besarnya permakluman terhadap kenyataan adanya bibit-bibit kejahatan di sekitarnya? Apakah ketika ada kumpulan anak-anak yang suka mabuk beramai-ramai, tidak ada yang melaporkan kepada pihak berwajib?

Andaikan saja ada satu atau dua orang di sana yang suka mengumpulkan anak-anak untuk bermain bola atau mengaji, atau melakukan karya lainnya. Tujuannya agar mereka tidak menghabiskan waktu dengan berkumpul nggak jelas dan terjerumus ke hal-hal yang tak diinginkan.  Masyarakat yang bersikap abai terhadap bibit-bibit kejahatan di sekitarnya juga ikut bertanggung jawab kenapa kasus Yuyun terjadi.

3. Pemerintah 

Kasus Yuyun adalah tamparan keras terhadap pemerintah untuk yang ke sekian kalinya. Pemerintah dalam hal ini gagal memberikan perlindungan kepada warga negara. Sistem pemerintahan khususnya di tingkat terkecil telah kecolongan sehingga kasus Yuyun ini terjadi.  Kenapa itu terjadi? Apakah karena taraf hidup yang rendah sehingga masyarakat dan para orangtua menjadi lebih sibuk terhadap urusan mencari makan dan penghidupan, sehingga kecolongan dengan kasus perkosaan seperti yang menimpa Yuyun ini.

Sementara itu sistem Hukum terbukti tidak berhasil membuat kejahatan seperti ini terhenti, bahkan sebaliknya jumlah kasusnya lebih tinggi dari tahun ke tahun. Hukuman atas kasus kejahatan seksual di negeri terlalu ringan. Keempat belas pelaku kejahatan terhadap Yuyun hanya 10 tahun penjara. Dengan berbagai remisi dan pertimbangan kelakuan baik, 5 atau 6 tahun saja prakteknya anak-anak itu menjalani hukuman.  Hukuman yang ringan terhadap pelaku kejahatan sosial sekeji itu terlalu ringan dan tidak menimbulkan efek jera. Pemerintah hendaknya mengkaji ulang hukuman yang diberlakukan terhadap kejahatan jenis ini. Beri hukuman yang maksimal dan menimbulkan efek jera. 

4. Sistem pendidikan

Yang saya amati kondisi sekolah kita adalah makin sibuknya anak-anak dengan urusan akademis. Anak-anak sibuk mengejar nilai tinggi dan pelajaran begitu banyak serta melelahkan. Ironisnya, begitu banyaknya mata pelajaran yang diberikan sedangkan saat lulus hanya tiga atau empat pelajaran yang diujikan.   Sistem pendidikan sekolah kita juga membuat orangtua lebih bangga ketika anak-anaknya mendapat rangking pertama. Mereka tidak menunjukkan kebanggaan yang sama ketika anak menunjukkan sikap mandiri, menghormati orang lain, kejujuran, taat pada orangtua, tidak bulang sampah sembarangan, mau antre dengan tertib dan sikap-sikap baik yang menujukkan mulianya budi pekerti. 

Sistem pendidikan dan sikap orangtua yang seperti itu melahirkan anak-anak yang mungkin pintar matematika, bahasa dan ilmu pengetahuan alam, namun kurang peduli dengan sekitarnya. Nurani mereka juga tidak diasah untuk lebih peka dan terpanggil ketika melihat sesuatu yang salah di depan mata. Mereka jadi tidak termotivasi untuk berbuat baik karena orangtua hanya peduli ketika sang anak menunjukkan rangking yang baik ataupun trofi kejuaraan.

5. Budaya patriarki

Mesti diakui budaya umum yang berlaku di Indonesia menempatkan perempuan sebagai makhluk kelas dua. Laki-laki masih mendominasi dan dianggap lebih kuat serta unggul. Ini sedikit banyak membentuk sikap mudah melecehkan, merendahkan dan perempuan. Perempuan dianggap lemah. Pemahaman dan budaya seperti itu harus didobrak.

Perempuan harus menunjukkan bahwa mereka tidak selemah itu.  Memang hidup tidak selalu berjalan mulus. Kita memang tidak bisa mengendalikan apa yang terjadi di luar sana. Namun setidaknya kita bisa melakukan sesuatu mulai dari diri kita sendiri. Saya sendiri punya tiga anak perempuan. Saya menyadari benar itu amanah dari Allah SWT yang tidak main-main. Kesadaran yang membuat saya rela meninggalkan pekerjaan saya, untuk bisa mengawasi dan memastikan mereka baik-baik saja.

Saya juga bertanggungjawab membentuk mereka sebagai pribadi yang tangguh, dan melawan ketika dilecehkan.

(Sumber: Kompasiana)

Sunday, May 8, 2016 - 11:30
Kategori Rubrik: