Apa Mayoritas Harus Menindas?

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Viral beberapa hari ini atas kejadian penutupan sebuah resto di mall di Makassar, yg menjual makanan non halal. Kasus yg sama walau tak serupa tapi esensinya sama bahwa agama minoritas ini menjadi objek penindasan dari agama mayoritas, yang makin tak berkualitas.

Ada nisan bersalib dipotong atasnya, ada izin gereja yg tiba-tiba dibatalkan, belum lagi caci maki, kopar kafir yg bgt entengnya disemburkan dgn stigma seolah mereka bakal masuk neraka semua, dan kita pemeluk agama bermata surga ini begitu pongahnya seolah surga adalah kita, sayang kita bukan surga, tapi kitalah neraka, karena mulut dan prilaku kita bak Srigala.

 

Saya adalah pemeluk islam sejak lahir, pendidikan agama saya juga pas-pasan. Ibu saya pernah berpesan, belajar agama yg bisa dipakai bermanfaat sesama, bukan "merasa" Tuhan selalu pro kepada kita, tapi kita memusuhi Tuhan dgn merusak ashmaul khusnaNya. Jelas ya, agama yg rahmatanlilalamin ini hanya dipakai maaf utk urusan alat kelamin, bukannya meneruskan arrahman arrahim dalam takaran mikro kosmos.

Andai semua orang sadar kita ini hanya punya hak pakai, termasuk nyawa, maka tidak ada hak kita mendikte manusia lainnya ttg agamanya, makanannya, dan apa saja yg menyangkut pribadinya selama dia tdk bersinggungan dgn pribadi orang lain. Karena kebebasan orang secara pribadi akan dibatasi dgn kebebasan orang lain.

Jadi, bagaimana bisa di negara demokrasi, berideologi pancasila yg disepakati, ada banyak preman berjubah agama, berlabel ulama, pemuka masyarakat, bahkan pejabat, konon IMB rumah ibadah warga negaranya dibatalkan, hanya krn mereka minoritas. Ini kan jadi pemicu kesenjangan bernegara. Ribut warung non halal yg jual makanan berisi daging babi, ntar kalau dibalas orang Bali gak boleh jualan rendang sapi, apa gak tutup rumah makan padang disana, kadang mikirnya terbelakang, tapi gayanya sok terpandang. Ndro, ndro, mau ke surga kok lewat neraka.

Ingat ya, bila pikiran kita disekat dgn pandangan mayoritas, minoritas, pada akhirnya kita akan jadi penindas atau ditindas. Dan endingnya akan kelihatan siapa yg buas. Prilaku seperti ini akan terus membuat orang lain was-was.

Beragama itu untuk mawas diri, bukan membuaskan diri.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

 
Friday, August 2, 2019 - 09:00
Kategori Rubrik: