Apa Kabar, Gus?

Oleh: Denny Siregar

Berita di sah-kannya Gus Dur menjadi pahlawan nasional cukup membuat saya merenung sejenak.

Bukan gelarnya itu yang membuat saya merenung, karena saya yakin beliau sendiri orang yg tidak perduli akan itu, tetapi jadi teringat kembali sosoknya yang familiar dengan wajah tertawa.

Saya banyak belajar dari pemikiran beliau. Visinya yang jauh ke depan membuat banyak orang terbangun sesudah tidur panjang begitu lama. Begitupun banyak yg salah mengartikan langkah2nya. Ke-legowo-an beliau untuk turun dari kursi kekuasaan demi menghindari perang saudara adalah bukti bahwa beliau lebih mementingkan utuhnya bangsa ini daripada sekedar jabatan yg juga akan hilang ditelan bumi. Sejarah mencatat dengan bersih perjalanan beliau selama ini.

Jadi, tidak ada salahnya jika saya kembali mengangkat catatan lama ini.

Saya masih ingat tanggal itu, 30 Desember 2009. Ketika itu saya sedang berkunjung ke Medan.

Tiba2 mata terpaku pada running teks di salah satu stasiun Televisi. Guru bangsa itu meninggal.

Saya mengeraskan suara televisi, tapi masih kurang keras dari gema suaranya yang berkata, "DPR itu taman kanak2." Saya tertawa keras pada waktu itu. Mentertawakan kebodohan negeri sendiri. Mentertawakan orang2 tua yang tidak tahu diri.

Sudah lama bagi saya tidak ada yang mendobrak penjara kepalsuan yang dipertontonkan Harmoko dan kawan2. Sebuah lontaran langsung yang menohok dan langsung menampar telak. Sebuah kejujuran berucap dalam sikap feodalisme yang ditanamkan selama Soeharto menjabat.

Lebih keras lagi saya tertawa ketika banyak "orang2 terhormat" itu kelabakan. Mereka tidak biasa mendengar teguran. Itu seperti membuka mata orang bahwa selama ini mereka tidak bercelana. Mereka malu dan untuk menutupinya, mereka marah.

Slogannya, "begitu saja kok repot.." mendobrak birokrasi pemikiran yang sudah terbiasa berbelit dan rumit. Menyederhanakan masalah karena memang masalahnya sederhana. Lugas dan cetas. Menyakitkan telinga.

Kakinya belum kuat untuk menjaga negeri ini sebagai Presiden, karena masih begitu banyaknya serigala buas para penjaga harta. Tapi setidaknya, ia telah memulai usaha.

Sambil terus menonton detik2 pemakamannya, tidak terasa saya tersenyum dengan mata basah.

Ada keterikatan emosional yang dalam antara saya dan dia. Dia mengajarkan kejujuran berbahasa. Dia mengajak saya berpikir lebih luas dengan hati terbuka. Kekehnya ketika ada sesuatu yang lucu menggambarkan bahwa tidak ada yang sulit di dunia, semua ini hanya permainan semata.

Saya tidak pernah mau mengucapkan selamat tinggal kepadanya, karena ia selamanya hidup dalam diri saya.

Apa kabar, Gus ? 
Tunggu saya di perjalanan kedua.

(Artikel diambil dari Facebook)

Monday, November 9, 2015 - 08:00
Kategori Rubrik: