Apa Hukumnya Mengkritik FPI?

Oleh: Helmi Hidayat
|

Beberapa kawan Muslim saya pernah bertanya, apa hukum mengkritik Front Pembela Islam -- FPI? Awalnya mereka kaget ketika saya jawab, jika kita sayang FPI dan cinta Islam, hukum mengkritik FPI adalah boleh bahkan harus!

Saya sengaja tidak menggunakan kata ''wajib'' karena kata ini berbau hukum dalam Islam dan berimplikasi akhirat. Minimal, kata wajib biasanya dioposisikan dengan kata ''haram''. Saya tidak mau dengan saya menggunakan kata ''wajib'', orang yang mendengarnya lalu menggunakan logika terbalik, ''Kalau begitu haram hukumnya dong jika tak mengkritik FPI.''

 

Mengapa mengkritik FPI boleh? Pertama, FPI adalah organisasi keislaman biasa layaknya NU atau Muhammadiyah. FPI bukan Islam itu sendiri. Islam adalah nilai-nilai langit yang bersifat absolut dan tak bisa salah. Tapi, pemahaman dan tafsir manusia atas Islam itulah yang bisa salah dan karena itu boleh dikritik. Kedua, FPI adalah makhluk, Setiap makhluk pasti bisa salah. Hanya Allah yang tak bisa salah.

Nah, karena sebagai makhluk FPI bisa salah, para pendiri dan petingginya juga manusia biasa yang bisa salah, maka membiarkan FPI tumbuh besar tanpa kritik adalah kesalahan. Tokoh-tokoh besar zaman dulu menjadi tiran karena masyarakatnya saat itu tak ada yang berani mengkritik. Apalagi FPI menggunakan kata ''Islam'' sebagai nama. Jika suatu ketika organisasi ini membesar lalu terpeleset pada kesalahan, citra apakah yang tercoreng? Terima kasih, Anda baru saja bergumam: ''Ya citra Islam ... ''

Dalam konteks seperti itulah mengapa saya bisa paham orang seperti Mohammad Monib dan Ade Armando sangat gencar mengkritik FPI. Semua itu berangkat dari kecintaan mereka yang sangat besar kepada Islam. Jka FPI dan sejenisnya dibiarkan besar tanpa kritik, mereka khawatir jbila suatu ketika organisasi ini terpeleset dalam kesalahan, citra Islam jadi taruhan. Ini argumentasi etis dan filosofis.

Sekarang mari lihat argumentasi sosiologis dan politis. Indonesia adalah negeri multikulturalis. Jika Front Pembela Islam berdiri kuat dan memberi warna kehidupan berbangsa dan bernegara di setuap lini, sangat mungkin anak bangsa di luar Islam khawatir dan merasa terancam, lalu diam-diam atau terang-terangan mendirikan:

FRONT PEMBELA PROTESTAN 
FRONT PEMBELA KATOLIK
FRONT PEMBELA BUDHA
FRONT PEMBELA HINDU
FRONT PEMBELA KONGHUCU

Mungkin saya berlebihan. Tapi, jika ini terjadi, saya tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi atas anak-anak negeri ini di masa depan.

Terakhir, saya tentu salut dengan FPI. Berbeda dengan ormas-ormas lain yang lebih banyak melakukan ''amar ma'ruf'', FPI melangkah lebih jauh dengan menggelorakan ''nahi mungkar''. Keduanya adalah perintah dalam Islam.

Tapi ingat, janganlah dalam melaksanakan ''nahi mungkar'' itu kita kebablasan. Kita punya aturan main dalam berbangsa dan bernegara. Inilah yang disebut ''social contract''. Dalam kontrak sosial itu kita dan para pendiri bangsa telah bersepakat, jika terjadi kejahatan di tengah masyarakatt, hanya polisi yang bisa melakukan tindakan polisional menanganinya, hanya jaksa yang bisa menuntutnya, dan hanya para hakim yang bisa memvonisnya -- bukan tentara, bukan satpam, bukan satpol PP, bukan main hakim sendiri, bukan ormas apa pun termasuk bukan Front Pembela Islam.

Jika ada kejahatan sosial, laporkan semuanya pada polisi. Jika polisi hanya diam atau pilih kasih, kritiklah aparat hukum ini, bukan kita main hakim sendiri. Hanya dengan begitu, sebagai bangsa kita semakin beradab. Hanya dengan begitu, kita semakin dewasa. Jika Anda cinta Islam dan cinta FPI, berilah kritik membangun atas organisasi ini,

Jadi, apa hukum mengkritik FPI? Saya kangen kisah raja-raja besar yang selalu tersenyum setiapkali rakyatnya datang membawa sekeranjang kritik!

 

(Sumber: Status facebook Helmi Hidayat)

Saturday, February 11, 2017 - 15:00
Kategori Rubrik: