Antara yang Menerima Vonis Penjara dan yang Kabur

Oleh: Liza Novijanti

 

Teringat waktu kecil, saya tidak pernah mempermasalahkan agama teman saya. Bermain bersama, pinjem2an buku, jalan dan bercanda bersama, terasa indah.

Waktu SD, ada teman Kristiani yang selalu duduk di depan saya karena kami berempat peringkat 1-4 selalu didudukkan berdekatan. Kami selalu bercanda dan belajar bersama tanpa ada sekat. Saat ini ketika non muslim disebut kafir, tidakkah itu bisa menimbulkan luka kebangsaan?

Ketika Ahok divonis 2 tahun, luka itu semakin menganga di hati saya. Saya tidak mampu menulis serius karena terlalu pedih. Setiap Ahok terlihat di TV saya mbrebes mili, karena rasa kemanusiaan saya terusik. Saya tidak habis pikir ngomong seperti itu saja bisa dipenjara 2 tahun. Sedangkan orang yang kata2nya kasar mendekati biadab, dipuja2 setinggi langit, karena mengaku ulama mewakili mayoritas, berjubah dan bersorban.

 

 

Ketika saya menanggapi rekonsiliasi nasional yang didengungkan oleh wan Anies, tiba2 ada yang komen, gantung aja Ahok. Orang yang suka berargumen pakai dalil Islam, kok seperti itu komennya. Belajar Islam dari mana, sampai bisa hatinya sekeras batu, kejam tak berperikemanusiaan seperti itu?

Saya sempat goyah, seperti itukah Islam yang seharusnya? Bertentangan sekali dengan logika saya, yang selama ini berkiblat pada kisah2 kelembutan dan kesabaran Rasul saw. Bagi saya beragama seharusnya menjadikan manusia lebih Paripurna. Menjadikan Manusia lebih lembut hatinya, lebih peduli pada sesama, lebih sabar, pemaaf, adil, jujur, dan lain2 seperti sifat Rasul.

Saya juga malu ketika ada yang ngetwit membela yang sedang kabur. Seperti Bersedia tidur dengannya untuk jihad. Jihad apa yang sampe perlu dengan zina? Atau ndak papa cabul syariah. Ya Allah saya malu banget, mereka2 itu menggunakan kata2 jihad dan syariah untuk membela perbuatan mesum Ulama Kabur.

Kalau sorban dan jubah diidentikkan dengan Islam, dan pemakainya harus selalu dibela. Suatu ketika ada maling ketangkap sedang nyolong, berpakaian jubah dan sorban, dan dari mulutnya keluar dengan fasih dalil2. Bisa2 orang ragu untuk menangkap apalagi menggebukinya, karena takut dituduh menyerang Islam. Itulah jika atribut mengaburkan esensi. Nyolong ya nyolong, walaupun ulama atau orang berpakaian ala ulama, atau ngaku2 ulama, jika melanggar hukum, ya harus tetap dihukum sesuai dengan hukum yang berlaku.

Repotnya kalo dipanggil sebagai saksi saja sudah kabur, padahal ngakunya pemimpin besar umat Islam.. Kalah sama yang dia bilang kafir penista agama, dimana ndak pernah satu kalipun mangkir ketika dipanggil pengadilan...

 

(Sumber: Facebook Liza N)

Tuesday, May 23, 2017 - 15:00
Kategori Rubrik: