Antara Washington DC dan Jakarta

ilustrasi
Oleh : Muhammad Jawy
Hari-hari ini Washington DC dipenuhi oleh ribuan pendemo yang datang dari berbagai kota. Mereka adalah pendukung Trump yang menolak hasil pemilu presiden yang memenangkan Joe Biden. Mereka menganggap bahwa pemilu November lalu dipenuhi kecurangan, dan suara mereka direbut secara ilegal. Demo ini dilakukan menjelang pengumuman Kongres Amerika yang akan melegitimasi hasil pilpres kemarin.
Sounds familiar?
Yak, ini persis banget dengan demo besar di Jakarta pasca KPU mengumumkan hasil Pilpres 2019. Tanggal 21-22 Mei 2019, Jakarta dilanda demo yang diwarnai kerusuhan, ratusan orang cedera, dan 8 orang meninggal dunia. Mereka yang datang juga meneriakkan kalau Pilpres 2019 diwarnai kecurangan akbar, baik oleh KPU maupun pihak lain.
Ada yang berteriak Server KPU dikendalikan oleh Tiongkok. Ada pula yang menyebut bahwa SITUNG dihack. Ada yang sangat percaya bahwa kecurangan terjadi massif, terstruktur dan sistematis. Banyak issue yang mereka bawa, dan sebagian besar diantaranya sebenarnya adalah HOAKS yang sudah lama diklarifikasi.
Namun inilah dunia post truth.
Orang tak lagi mengambil pendapat berdasarkan kekuatan faktanya, tetapi lebih dominan siapa yang berbicara, dan di kelompok mana pendapat itu tersebar. Di tengah polarisasi masyarakat di era media sosial ini, yang masih teramplifikasi oleh filter bubble, maka sungguh mengkhawatirkan sikap orang yang mudah sekali tergerak karena issue yang beredar di media sosial, sebagian adalah issue yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Hingga kini, bahkan ketika Prabowo-Sandi sudah bergabung dalam satu rumah dengan Jokowi-Ma'ruf, tetap masih ada yang percaya banget kalau Pilpres 2019 itu penuh kecurangan, TSM, dengan tuduhan dan sikap sinis kepada KPU, Bawaslu dan ekosistem terkait pemilu seperti MK, lembaga survey. Sedangkan semua tuduhan itu terpatahkan dengan gamblang di sidang MK.
Kita sering menganggap Amerika jauh lebih superior dari kita. Ya dalam beberapa hal mungkin benar. Tetapi dalam urusan lemahnya berpikir kritis, kurangnya keterampilan dalam memilah fakta, sepertinya sebagian masyarakat Amerika juga masih bermasalah besar seperti halnya sebagian masyarakat Indonesia.
Dan memang masalah kegagapan manusia memilah informasi di era digital adalah issue global, negara maju seperti Amerika dan Inggris tidak kebal. Dan ini menjadi issue keamanan sebuah negara, karena kita tidak lagi bicara keamanan terbatas dalam konteks teritorial saja, tetapi juga bagaimana negara harus berdaulat dalam informasi, sesuatu yang sangat menantang di era media sosial ini.
Saya berharap demo di Washington DC ini berjalan damai, tidak ada kerusuhan apalagi korban jiwa. Dan keramaian yang muncul tanpa masker (banyak pendukung Trump yang condong menganut teori konspirasi, anti masker, anti vaksin), tidak memperparah situasi pandemi COVID19 di Amerika yang termasuk sangat buruk dengan kematian lebih dari 350.000 orang dari 21 juta kasus terkonfirmasi positif.
 
Sumber : Status Facebook Muhammad Jawy
Thursday, January 7, 2021 - 08:45
Kategori Rubrik: