Antara Virus Corona dan ISIS

ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Tidak ada moment of truth yang lebih bugil daripada reaksi kita terhadap situasi pandemik. Di kepanikan amat hiruk, di kecemasan paling membukit, berdiri sebuah pilihan tentang kemanusiaan.

Saya terkejut ketika Pemerintah Indonesia memutuskan untuk menutup semua pintu dari dan kepada Tiongkok. Kita begitu bergairah melindungi diri, menutup mata kepada penderitaan Wuhan, membiarkan Tiongkok mengurus nasibnya sendiri.

Saya tak mengerti kenapa penerbangan dari dan ke Tiongkok dihentikan. Orang-orang Cina dilarang datang, orang-orang Indonesia dilarang pergi ke sana. Kita seolah berkata: buktikan kalian tidak mampus, buktikan bahwa kalian sanggup memadamkan bencana, sebelum kita berhubungan lagi seperti biasa. Alangkah dinginnya. Transaksional.

Kemanusiaan ikut musnah bersama rasa cemas. Cinta menguap ke udara oleh kepentingan sepihak. Kita ternyata sekumpulan manusia bengis.

Betul, isolasi adalah tindakan standar penanggulangan pandemi. Banyak negara memilih ini. Amerika Serikat terkenal paling jumawa. Dan kita ikut-ikutan.

Tapi Jepang, Thailand, Finland, bersuara lain. Mereka tidak menutup pintu. Mereka memang mengawasi arus keluar-masuk dengan seksama, tapi mereka membuktikan kepada kita bahwa kengerian tak berkuasa membasmi cinta.

Indonesia tiba-tiba terasa asing buat saya. Belum lagi kegetolan satu menteri bau kencur merancang kepulangan 600 Kombatan ISIS. Juga ketua Komnas HAM bau pesing yang berkaok-kaok bahwa tak ada satu pun yang berhak menghalangi kepulangan Kombatan ISIS. Kamu rupanya kurang matang, kecepetan diangkat dari penggorengan.

Secara fisik ISIS memang bukan negara, tak elok mengaitkan mereka dengan pelanggaran "bergabung dengan tentara asing." Tapi dari aspek legal, ISIS adalah penjahat, teroris, dan algojo kemanusiaan.

Betul, negara tidak bisa menghalangi mereka pulang. Tapi negara tidak berkewajiban menjemput. Dan, satu hal musti dipastikan, negara harus memasukkan mereka ke penjara dengan persangkaan terlibat dalam gerakan yang menghancurkan kemanusiaan di bumi. Mereka pernah bersorak di hadapan kepala-kepala yang dipenggal. Sekarang mereka kita dudukkan di sebuah sel untuk mendengar kidung cinta membahana di Indonesia.

Corona dan ISIS dua perkara berbeda. Yang satu adalah cara alam merawat buana, yang satu cara manusia menghancurkan peradaban.

Presiden Jokowi, harap beritahu saya ke arah mana Anda menghadap.

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Thursday, February 6, 2020 - 11:00
Kategori Rubrik: