Antara Vero, Puput Dan Luput

ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Saat menulis "DUH AHOK" saya sebetulnya bermain di wilayah pikiran lelaki. Kebanyakan kaum kami memang mendamba kemudaan perempuan untuk mendamping kegemilangan usia matang.

Seorang lelaki kawin pada usia 25 - 29 tahun, kebanyakan. Saat itu karir baru saja dimulai. Pebisnis baru meletakkan dasar-dasar. Rumah tangga dibangun dengan bermodalkan semangat menghemat di sini-sana. Cinta berdegupan kencang. Belai, sapa lembut, dan saling menguatkan, bahkan doa bareng, adalah menu harian.

Bersama waktu, karir menaik, bisnis bertumbuh. Usia kita menua. Tiba di usia 45 - 50 tahun, pencapaian hinggap di puncak. Anak-anak menjelang masa depan mereka yang gilang-gemilang. Mereka sibuk menghantam tantangan, meranggas dengan gagasan kereatif.

Ada seseorang tertinggal.

Istri kita menua, tak ada cara membuatnya belia selain operasi plastik. Tapi para suami tahu jeroan istri. Sekinclong apa pun tata rias dan kemustajaban operasi Korea, suami sadar bahwa itu tipuan bedak, kelabuan rouge, dan rekayasa plastik. Sejatinya gak begitu. Aslinya adalah apa yang tertemukan saat membuka mata di pagi hari, pada tubuh yang merenta, pada kemilau yang memudar, pada kesabaran yang menipis.

Kadang saya membatin: 3-5 tahun lagi, perempuan yang tidur di sebelahku ini adalah seorang nenek. Aku tidur dengan calon nenek. Tak lama lagi.

Padahal tubuh para suami masih sehat. Mereka masih sanggup berlari pagi 10km. Ketangguhannya masih cukup untuk melayani 2-3 ronde binal di malam paling banal. Kegagahan mereka menyempurna bersama rekening bank yang membuncit, dan status sosial yang memuncak. Perempuan di sebelah mereka terasa tak pas dengan semua imaji kemegahan itu.

Lalu perempuan-perempuan berusia 25-35 lewat di depan mata. Mereka tak sungkan menyapa dengan tawa belia dan rona segar. Percakapan lalu dimulai. Ada sesuatu terasa berbeda.

Di rumah, para suami berhadapan dengan aneka persoalan. Tentang anak, tentang pompa ngadat, tentang genting bocor, tentang tagihan cicilan mobil, cicilan rumah, dan bayaran uang arisan.

Di luar rumah, para suami bersenda dengan tawa paling manja, celoteh paling segar, rona paling kinclong, dan semua optimisme. Tak ada persoalan dibincang kecuali bagaimana menyusun kencan tanpa ketahuan istri.

Saya paham jika sebagian kaum saya menjustifikasi perasaan dengan milyaran alasan. Semua disusun dengan premis mayor-minor terafdhal, silogismenya dibangun kuat dan kokoh. Siapa bisa menyalahkan kalau Pak Rudi kemudian mengawini perempuan berusia 28 tahun?

Apa alasannya?

Tidak ada kecocokan lagi dalam berumahtangga. Itu gak bohong. Rudi memang merasa kalau Lina tak lagi sepadan dengan apa yang dia capai sekarang. Dia tak berlebih, tidak juga mengada-ada. Perasaan tidak pas, tidak cocok, tidak seimbang, hadir bersama perubahan yang melanda hidup Rudi.

Trus bagaimana?

Saya gak tahu. Saya tak punya perasaan tak pas macam itu. Istri saya adalah seorang perempuan paling tangguh yang menemani saya melewati bara paling mendidih, semak-belukar paling menyakitkan, titian di jurang paling curam, untuk sampai pada titik ini.

Dia memang tak semuda dulu, tak seanggun sekian belas tahun lalu, tak sebinal saat kami baru kawin. Ada yang berubah.

Dia semakin matang, semakin tangguh, semakin bijak, semakin kreatif, semakin ambisius, semakin commanding, semakin perkasa melindungi saya.

Bayangan keriput memang mulai tumbuh. Tapi degup di jantungnya saat mendekap saya tak berubah. Dalam kerentaan saya mendapati cinta yang bersusun bertumpuk-tumpuk, dibangun oleh 26.5 tahun perkawinan kami.

Dia memang mulai menyebalkan. Beberapa kali Muna mengulang cerita sama. Mulai pikunkah dia?

Mungkin. Satu saya pastikan: semua tanda-tanda ketuaan itu hadir bersebab tahun-tahun yang dia habiskan untuk mencintai saya.

Semoga saya tak pernah luput menyadarinya.

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Sunday, January 27, 2019 - 10:00
Kategori Rubrik: