Antara Tempo dan Jawapos

Ilustrasi

Oleh : Damar Wicaksono

Sudah lama sekali majalah Tempo dan Jawa Pos bersisian. Termasuk saat kemudian seorang wartawan Tempo, Dahlan Iskan, ditunjuk menjadi pimred Tempo di akhir 80an

Dahlan adalah wartawan yang punya insting bisnis tajam. Sesuatu yang membuat saya kagum adalah keberaniannya, walo kadang konyol juga. Jawa Pos akhirnya menumbangkan sebuah koran penguasa Surabaya hanya dalam beberapa tahun sejak ia masuk.

Singkatnya, Dahlan membeli sebagian saham Tempo di JaPos, yang membuatnya menjadi salah satu konglomerat di Jatim. Bisnisnya mulao menggurita. Sempat ada saat (akhir 1990an sd awal 2000an) ratusan koran ia dirikan dengan ciri kata RADAR, di puluhan kota. Graha Pena ia dirikan dengan megah, di banyak kota metropolitan, trmasuk di Jakarta

Kompas, penguasa koran nasional, bahkan sempat limbung dengan strategi Dahlan yang seolah menerapkan strategi Rinus Michel, "Totaal Voetbal", dengan koran RADARnya tadi. Akhirnya Kompas "melawan" dengan menerbitkan koran TRIBUN, di kota yang ada koran RADAR. Harga dipatok 1000 rupiah bahkan sempat gratis (bundling dengam Kompas).

Serangan hancur2an antar dua konglomerat media ini berakhir "damai", saat media daring mulai muncul di mid 2000an. Seiring maraknya penggunaan medsos sprti Twitter dan Fesbuk di Indonesia sejak 2009. Omset Kompas dan JaPos, induk Radar dan Tribun merosot. Sampai akhirnya koran2 besar itu turut meluncurkan edisi daringnya

Well, kemunculan Dahlan Iskan sebagai pejabat publik nyatanya tak membantu peningkatan oplah JaPos. Saat JaPos berpihak (sama sprti Kompas dan Tempo) kepada Jokowi, lalu menjadi oposisi (saat Dahlan tak masuk kabinet Jokowi), memang tinggal menunggu waktu saja kejayaan Dahlan memudar

Nyatanya, walo sempat menerbitkan harapan, dengan fokus pada anak muda (menjadi sponsor kompetisi basket atau olahraga laen), penerus Dahlan, Azrul (anaknya) tak berdaya melawan kejamnya disruption pada industri media massa.

Per November 2017 lalu, keluarga Dahlan keluar dari Jawa Pos. Entahlah apa masih menyimpan 1 atau 3% saham JaPos, tapi ini adalah sebuah kegetiran. Saat ini, saham JaPos didominasi oleh Ciputra, yang juga memegang saham.terbesar majalah dan grup Tempo (ada yg belm tau?). Juga pemilik JaPos lainnya, Eric Samola dan pak GM

Dunia ini tak abadi.
Kisah jatuh bangun Dahlan Iskan membangun bisnis dari awalnya wartawan adalah sebuah inspirasi. Gaya sy nulis salah satunya trinspirasi oleh Dahlan.

Beberapa strategi bisnisnya jg saya adopsi. Misalnya, untuk menghemat biaya survey lokasi, cari saja cabang BCA di lokasi tersebut, radius 2 km. Itu berarti daerah itu akan lebh berkembang. Ilmu ini tenyata sdh trlebih dahulu diungkap pak Hermawan Kertajaya, mahaguru marketing Indonesia

Secara politik, saya tidak cocok dengan gaya Dahlan. Temasuk metodenya mengumpulkan relawan tapi ngga ngaku mau jd Presiden.

(Jadi inget pas sy di-bully di grup Dahlanis, saat sy bilang peluang Dahlan kecil. Lebh baek gabung ke kubu Jokowi. Itu sekitar tahun 2012 sd awal 2014.. hhe)

Tapi, kerja keras, kreativitas dan inovasinya mmbesarkan JaPos akan terus menjadi kekaguman saya.

Maturnuwun Pak Dahlan. Coretan2 "manufacturing hope" selama menjadi dirut PLN dan Men BUMN, akan sy simpan utk dibaca anak2 saya

Semoga njenengan terus bisa kalahkan penyakit itu, Pak

Sumber : Status Facebook Damar Wicaksono

Thursday, March 15, 2018 - 12:15
Kategori Rubrik: