Antara Susi, Sri Mulyani & Archandra

Oleh: Guntur Wahyu Nugroho
 

Susi Pudjiastuti, Sri Mulyani dan Archandra Tahar sudah sangat berkelimpahan secara materi. Pendapatan mereka milyaran rupiah. Tidak ada kendala bagi mereka untuk keliling dunia dengan keluarga dan bersenang-senang. Mereka profesional dan teruji dibidangnya masing-masing.

Lalu, apa yang membuat mereka mau melepaskan gaji milyaran, keluar dari zona nyamannya dan "memilih" menjadi pembantu presiden yang menempatkan diri mereka tepat jadi sasaran publik dan dipusaran kepentingan elit politik dan kekuasaan?

Di perusahaan / lembaganya masing2 ketiga orang tersebut sangat dihormati. Namun begitu memegang jabatan publik, sembarang orang pun bisa menghujat dan memfitnah mereka. Ibaratnya, dimata para penghujat, mereka bertiga ibarat tong-tong sampah.

Motivasi dasar apa yang menggerakkan mereka untuk mau menjadi pembantu Presiden? Saya menduga mereka merasa dapat secara optimal menyumbangkan tenaga dan pikiran mereka untuk sebesar-besarnya kepentingan publik Indonesia secara langsung, menjadi bagian dari pusat kekuasaan politik untuk merealisasikan "best practise" yang menjadi kunci suksesnya masing-masing.

Dengan sentuhan tangan dinginnya, Susi Pudjiastuti mampu mengembalikan kedaulatan Indonesia atas lautan Indonesia yang sangat luas. Ibu Susi telah membuktikan mampu membawa perubahan yang positif. Ibu Sri Mulyani pernah menjadi Menteri Keuangan yang tangguh pada pemerintahan SBY. Dengan dipercaya oleh Jokowi untuk menjadi Menteri Keuangan berarti profesionalitas dan pengalaman Sri Mulyani memang betul2 teruji. Bagaimana dengan Archandra Tahar? Seorang genius, berpengalaman dalam bisnis perminyakan dan gas internasional. Jokowi tentu tidak akan memanggil pulang Archandra Tahar apabila visi beliau tentang Indonesia yang mandiri dan berjaya dibidang energi tidak bisa dijawab oleh Archandra.

Mereka layak diberi kesempatan untuk mengabdikan diri dalam bidang yang sangat mereka kuasai untuk kemaslahatan rakyat dan negara Indonesia. Dan kesempatan itu telah datang. Ini tidak hanya tentang aktualisasi diri. Ini adalah tentang estetika pemaknaan hidup dan pemberian diri yang terbaik dari mereka untuk bangsa Indonesia. Pengabdian terhadap tanah air dan rakyatnya, meskipun terbilang klise selalu lebih bermakna dan memikat daripada menjadi CEO google ataupun fb sekalipun.

 

(Sumber: Status Facebook Guntur Wahyu N)

Sunday, August 14, 2016 - 16:00
Kategori Rubrik: