Antara Sukarno dan Joko Widodo

Oleh : Susy Haryawan

Di antara semua presiden ada dua ini yang identik dalam beberapa hal, sebagai berikut. Tanpa mengurangi rasa hormat dari presiden yang di antara itu. Kondisi dan dinamika yang lima itu cenderung sangat berbeda untuk dimasukan dalam kondisi ini.

Perjuangan.

Keduanya memperjuangan menghadapi berbagai persoalan pelik. Kelima presiden yang lain kurang begitu jelas karena fokus pada reformasi, tata kelola pemerintahan cenderung lebih kuat. Sukarno berjuang untuk lepas dari penjajahan dan imperialisme, tantangan itu dari luar yang mau masuk kembali dan menjadikan Indonesia kembali sebagai jajahan yang bisa sapi perahan mereka.

Joko Widodo, perjuangan mengatasi masalah dari dalam negeri sendiri, mafia minyak yang sudah hengkang, perlawanan mereka yang tersingkir karena periuk nasinya terjungkal. Lima pejabat presiden kemarin cenderung stabilitas politik dari eforia masih kuat, fokus perjuangan belum terasakan.

Infrastruktur

 Infrastruktur era Sukarno meneruskan apa yang sudah Belanda atau Jepang buat, untuk memberikan kesempatan bagi rakyat Indonesia bangga. Ada Jagorawi, komplek Senayan dan Istora, Monas dan sejenisnya. Meskipun sedikit ada tonggak.

Joko Widodo melihat bahwa infrastruktur sebagai sarana memberikan kesempatan yang sama dari sabang sampai Merauke. Cacat cela, kekurangan perlu diambil sebagai risiko seorang pemimpin visioner, bukan hanya wacana dan ide.

Hubungan dengan parlemen yang cenderung tidak mulus

 Keduanya menghadapi dewan yang kritis. Kekritisan yang berbeda. Era Sukarno memang baru belajar bernegara. Kali ini kritis karena tidak bisa maling dan fokus kerja yang susah diikuti karena lelet diajak kerja cepat. Lima presiden yang lain sangat berbeda. Masa presiden kedua karena dewan hanya kelompok dagelan, ketiga hanya sebentar belum terlihat pola yang pasti. Keempat malah menjatuhkan karena memang dunia yang berbeda. Kelima juga tidak ada gerakan sama sekali. Keenam adem ayem karena kekenyangan. Ini identik, susah akur karena kepentingan yang berbeda.

Poros China Rusia

 Pilihan dengan motivasi yang berbeda, zaman itu Blok Timur lebih menjanjikan tanpa syarat dan sikap anti Barat sebagai imperialis masih kuat. Kekinian, condong ke sana karena investasi yang jauh lebih murah dan realistis dalam banyak hal. Pesawat beli Rusia itu lebih mudah dan tidak terlalu banyak syarat beda dengan USA. Kereta cepat memilih China dengan banyak pertimbangan, meskipun tetap menjalin dengan Jepang.

Kewibawaan Soal

kewibaan ini juga identik. Yang lima itu berbeda jauh. Bagaimana Sukarno merupakan pemersatu, penuh wibawa, semua dukung. Untungnya ambil semua keputusan semua rakyat dukung, tidak ada ribet-ribetnya, karena memang orientasi untuk rakyat dan negara. Joko Widodo, krisis pilpres dengan model kinerja itu terjadi banyak yang tidak bisa menerima sehingga barisan sakit hati itu masih kuat dan menjadi riak-riak yang cukup kuat.

Ada jarak terhadap keluarga

Menarik cara pendekatan pada keluarga. Mereka identik, lain dengan yang lima kemarin. Pak Habibi jelas banget dengan istri seperti Pak Harto yang sangat dekat, intim, dan ke mana-mana ada dan hampir selalu bergandengan tangan, ini sama juga dengan Pak Beye, dan Bu Mega ataupun Gus Dur. Pak Karno dan Pak Jokowi tidak menonjolkan itu bahkan ada yang mengupasnya karena istri Pak Jokowi dibiarkan begitu saja pas naik dan turun pesawat. Alasan yang berbeda namun mereka mirip.

 Rongrongan pemerintahan

Rongrongan sangat jelas dalam dua pemerintahan ini. Rezim Pak Harto mana ada yang berani, zaman Pak Habibie relatif sebentar dan tidak jelas. Gus Dur hanya satu dan itu hingga kini pun masih menjadi duri. Zaman Bu Mega tidak kentara. Rezim Pak Beye sama sekali karena semua kekenyangan maling dengan cara masing-masing, sama sekali tidak ada ronrongan. Sukarno jelas saja menghadapi bangsa sendiri dan bangsa asing atau kolaborasinya. Ada PKI, DI-TII, Permesta, RMS, dan banyak lagi. Kali ini, target 100 hari pun ada. Berbagai cara dipakai untuk memperlemah dengan beras palsu, tenaga asing yang dibesar-besarkan, dan tetek bengek yang ujung-ujungnya adalah kepentingannya maling dengan bebas sejahtera itu ditutup. Tidak heran peradilan dari atas hingga bawah malah masuk bui yang harusnya mereka yang membawa malah mereka yang dibawa.

Nasakom

Paling aneh dan ajaib, tiba-tiba komunis lahir lagi dengan gegap gempitanya. Zaman Pak Karno merupakan trio pembangun bangsa yang tidak saling meniadakan dan saling jegal maka lahirlah Nasionalis, Agama, dan Komunis. Lihat mereka bertiga lho tidak ada yang merasa harus membuang salah satunya. Ingat ini bukan soal membela Komunis, melihat apa yang terjadi kala itu. Di lima presiden lainnya sama sekali tidak terdengar , lha kali ini nongol lagi, dan katanya telah memiliki basis masa 15 juta.

 Zaman Pak Jokowi “lahirlah” Komunis di benak beberapa orang. Sepertinya komunis itu jaya seperti era pasca kemerdekaan. Coba mana di dunia ini yang ada Komunisnya itu kuat, hebat, menjanjikan, dan membahayakan? Sama sekali tidak ada, apalagi Indonesia, yang menyebut Komunis saja takutnya seperti menyebut hantu, ular cobra, dan penunggu pohon beringin, eh tiba-tiba katanya mau bangkit dan bisa menggulingkan Pak Harto. Lucu lagi kerja sama dengan kapitalis, lha hebat bener ada komunis gabungan dengan kapitalis, lha yang dijungkalkan apa kalau begitu?

Sering ada ungkapan sejarah itu terulang dan ternyata fakta memberikan buktinya. Beberapa kejadian yang identik dan mirip juga ada. Salam** (ak)

Sumber : kompasiana.com

 

Monday, June 6, 2016 - 07:15
Kategori Rubrik: