Antara SBY dan SJW

ilustrasi

Oleh : Supriyanto Martosuwito

Sebagaimana SBY, SJW pernah harum namanya dan dipuja puja. Tapi, belakangan ini jadi olok olok dan dipandang dengan negatif dan penuh sinisme.

SBY pernah menjabat dua periode dan belakangan melow. Tidak bahagia. Nampak "kuciwa". Sedangkan SJW alias "Social Justice Warrior" - kini mengundang sinisme, karena merasa paling benar, sok paling berjuang menegakkan keadilan sosial - sambil menyalahkan orang yang berbeda pendapat.

SJW - Pejuang Keadilan Sosial - adalah aktifis di media sosial yang rajin membuat seruan - intens menyuarakan isu HAM, kesetaraan hak, lingkungan, anti penindasan, membela kaum minoritas dan isu isu aktual lainnya.

Mereka banyak bermain di media sosial, khususnya Twitter dan Tumblr. Dan mereka tampil perorangan.

Awalnya nama dan kegiatan mereka bermakna positif. Mereka memperjuangkan nilai nilai universal dan kebebasan berpendapat.

Namun, saat ini - mengikuti maraknya Twitter dan event GamerGate - para SJW menjadi orang-orang yang melakukan hal-hal mengerikan atas nama keadilan sosial (social justice).

Ideologi mereka menentang perubahan, tolak ini - tolak itu, tapi tak pernah menawarkan solusi. Hanya antipati.

Anatomi sosok SJW digambarkan anti kapitalisme, tapi pakai iPhone, suka nongkrong di cafe - rokoknya Malboro dan sepatunya Nike.

Mereka mencitrakan gerakan kiri tapi merusak ideologi kiri, pro kesetaraan, liberalisme dan feminisme salah kaprah.

Kini banyak beredar anekdot tentang SJW. "Kalau Anda punya teman nongkrong yang menguasai pembicaraan, fasih berceramah filsafat, politik, pemerintah, hukum dan kebudayaan. Mengesankan sosok idealis dan penuh integritas, tapi buntutnya orang lain yang bayar tagihan makannya, dialah SJW! ".

SJW anti perkebunan sawit dan perusakan hutan - tapi di tempat nongkrong paling rakus makan gorengan.

SJW mengritik pemerintah karena tidak menunda pilkada dengan alasan pandemi dan virus corona. Lalu menggerakkan massa untuk demo. Sehingga terjadilah kerumunan dan muncul kluster baru.

Mereka menegakkan nilai nilai demokrasi dengan cara jalanan dan anarki. Serba melawan.

Tak ada yang benar di mata mereka. Yang disuarakan menolak ini, menolak itu, serba melawan - memprovokasi munculnya anarki. Anti ini, anti itu, dst.

Di layar televisi, mereka menyebut polisi represif, bengis, pemerintah diktator anti demokrasi, melanggar HAM - tapi mengabaikan kerusakan fasilitas umum, hancurnya mobil aparat, dan kebakaran halte busway dan MRT akibat aksi brutal dan anarkis para pendemo.

Mereka cerdas, agresif, sinis dan pemarah. Mereka berprestensi mendidik dan membangkitkan kesadaran masyarakat dengan cara mengutuk dan mencaci maki.

Dimitrios Michmizos menulis di Quora : "Social Justice Warrior is not about justice - it is all about hate and envy of other people. And destroying what they do not have nor are they inclined to work in order to acquire because they deem the effort too much for their perceived privileged existence."

"Pejuang Keadilan Sosial bukanlah tentang keadilan - ini semua tentang kebencian dan kecemburuan terhadap orang lain. Dan menghancurkan apa yang tidak mereka miliki. Juga cenderung tidak bekerja untuk memperolehnya - karena mereka menganggap upaya itu terlalu banyak untuk keberadaan mereka yang dianggap istimewa.

SEBUTAN SJW pertama kali digunakan pada 1991 untuk mengapreasi aktivis asal Kanada, Michel Chartrand, yang telah melakukan beberapa aksi untuk menentang ketidakadilan yang terjadi di masyarakat.

Berjuang untuk keadilan sosial sesungguhnya mulia. Bahkan merupakan salahsatu sila dari Pancasila. Kita semua, pemegang hp dan yang bergabung di media sosial di sini bisa jadi SJW. Bila ada ketidakadilan di sekitar kita dan memotretnya, mempublikasikan dan membahasnya di media sosial - maka kita melakukan apa yang dilakukan SJW.

Namun dalam perkembangannya, terjadi penyalah gunaan perannya.

SJW menyerang siapa saja yang berbeda pendapat - dan terutama kini menyerang pemerintah secara masif, terstruktur dan sistematis - verbal bahkan brutal - sehingga SJW menjadi sebutan negatif.

Veronica Koman dan Dandhy Laksono merupakan sosok ekstrimis SJW. Veronica yang meneriakan hak sipil Papua dari Australia - padahal dia kuliah di sana atas beasiswa pemerintah Indonesia. Alih alih membela kepentingan Indonesia malah memprovokasi kelompok separatis dan dunia seolah Indonesia menindas warga Papua.

Pola LSM digunakan oleh SJW. Mula mula melihat penderitaan orang lain, melihat ketidak-adilan. Lalu mereka menyusun proposal, bikin yayasan, bikin film. Proposal dikirim ke pendonor / NGO asing, dengan dalih advokasi. Anggaran digelembungkan (mark up). Ujungnya, mereka foya foya. Nongkrong di tempat mentereng. Itu pun dibayari orang lain.

Persis seperti serikat buruh yang makan hasil keringat para buruh. Giliran buruhnya di PHK, mereka menghilang dan berkelit. Saat pabrik pabrik direlokasi ke Thailand dan Vietnam mereka menyalahkan pemerintah lagi.

"SJW selalu ada selama penderitaan masih ada. Karena penderitaan orang lain bisa dijual dan bisa jadi proposal" kata pengamat.

SUDAH DIKETAHUI umum bahwa setelah China, maka negara negara Asia Pasifik akan menjadi negara adidaya berikutnya, dengan perumbuhan ekonomi yang pesat. Karena itu, penguasa dunia pertama tak bisa terima dan mengirim "warrior" untuk menggoyang kestabilan politik di kawasan ini dengan kedok isu lingkungan, keadilan sosial, demokrasi, feminisme, dll.

Setelah sukses menghancurkan Uni Soviet dan Timur Tengah, maka China dan Asia Pasifik - Indonesia khususnya - adalah target dan proyek penghancuran berikutnya.

Terbaru, SJW menuduh penama'an jalan Presiden Joko Widodo Street di Uni Emirat Arab terkait pemberian konsesi 200 ribu hektar lahan di Kalimantan.

Mereka mengait-ngaitkan wacana pembentukan ibu kota baru di Kalimantan, dengan UU Ciptaker.

Dengan UU Ciptaker yang disahkan, maka intervensi asing bisa dibuat lebih mudah dilakukan di Indonesia, khususnya mengenai konsesi lahan. Mereka bisa membuat lahan-lahan terbesar di Indonesia, menggunduli hutan. Para aktivis go green pun 'ereksi' dan ejakulasi pemikiran.

Mereka menganggap perizinan lahan dipermudah. Artinya 'global warming' pun akan terjadi. Maka ada SJWs mengait-ngaitkan bahwa bisnis antara Indonesia dan UAE yang membawa ratusan ribu hektar lahan, ditukar dengan nama jalan di sana.

Mereka juga menumpang isu dan mendramatisir penolakan warga pada proyek "Jurasic Park" di pulau Komodo yakni penataan dan pengembangkan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Super Prioritas Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Aksi aksi SJW telah berubah menjadi jahat. Instink mereka menyerang, tanpa solusi. Sebagian dari mereka atau mereka sebenarnya antek asing - boleh jadi korporasi global yang punya agenda terselubung. Bagian dari jaringan / sindikat.

Mereka lah yang di media sosial melabeli netizen pembela pemerintah sebagai "buzzeRp".

Para SJW juga yang membangun narasi UU Omnibus Law Cipta Kerja sebagai "UU Cilaka". Mereka mencoba untuk mengait-ngaitkan pengesahan UU Ciptaker ini dengan apa campur tangan asing.

Mereka sulit ditangkap, karena cerdik, paham aturan dan undang undang dan berlindung di tameng "demokrasi" dan "hak berbeda pendapat".

Jika ada penangkapan terhadap mereka, maka dunia diajak serta membangun opini bahwa "rezim pemerintah Indonesia makin represif". Aparat melanggar HAM. Padahal mereka sendiri menyebar hoax dan fitnah. Dan memprovokasi aksi aksi anarki.

Sampai saat ini, dari belum ada yang diciduk oleh kepolisian.

Sebagaimana SBY, yang 'melow' dan tidak bahagia - terus menerus merasa terdzalimi - padahal punya rumah ratusan miliar, anak cucu berlimpah harta - demikian juga SJW yang kini merasa disudutkan karena menjadi korban kampanye negatif "buzzerRp"

Ironi para SJW adalah pejuang sosial yang jadi bahan kajian pengamat sosial karena kecenderungan mereka yang anti sosial . ***

Sumber : Status facebook Supriyanto Martosuwito

Thursday, October 29, 2020 - 10:15
Kategori Rubrik: