Antara Puasa dan Korupsi

ilustrasi

Oleh : Budi Santoso Purwokartiko

Ada kisah jaman nabi dulu. Beliau sedang berpuasa sunah. Ketika bertamu disuguhi oleh tuan rumah makanan. Maka beliau makan hidangan itu demi menghormati tuan rumah. Lalu diam2 beliau lanjutkan puasa.
Dari sisi pribadi beliau melihat puasa sebagai latihan mengendalikan diri. Jadi ketika makan,lalu lanjut puasa, tidak dianggap batal. Wong memang tujuannya meningkatkan kemampuan mengendalikan diri. Tidak hitam putih batal, nggak dapat pahala. Tujuannya bukan ke sana.
Dari sisi menghargai orang lain, nabi sangat hati2. Tidak ingin pamer atau menunjukkan ke tuan rumah "maaf saya lagi puasa, nggak boleh makan" atau ucapan senada yang lain. Beliau justru menyembunyikan diri dari keramaian bahwa beliau sedang puasa. Tidak ada blas unsur pamernya. Yang ada justru beliau mengorbankan diri demi menjaga perasaan tuan rumahnya. Bahkan untuk tingkatan beliau yang nabi saja, takut sekali melukai perasaan orang lain di bawahnya.

Tingkatan seperti itu pasti sangat sulit dicapai. Kita sering melihat sebaliknya. Kami pernah pergi jauh sebelum ada tol, melayat ke rumah teman di daerah Tulung Agung. Karena perjalanan panjang, di tengah jalan kami mampir makan siang. Ada teman yang sedang puasa sunah. Teman ini memang rajin puasa sunah. Bagi kami yang nggak puasa jadi merasa nggak enak, kita makan tapi ada teman yang puasa. Bagi dia nggak masalah temannya makan. Tetapi saat itu saya membayangkan jika saja dia mau makan bersama kita,lalu lanjut puasa, suasana kebersamaan makin terasa, rasa sungkan menjadi hilang.
Semua merasakan suasana nyaman

(Tapi jangan disamakan ramai2 korupsi lalu yag baik diajak ikut korupsi. Jelas ini beda kasus.)
Etika2 pergaulan begini sering sekali dilupakan karena pertimbangan hitam putih: kalau makan batal, kalau batal nggak dapat pahala. Jadi sering lupa esensi ibadah yang dijalankan itu sebenarnya untuk apa. Ibadah yang lain tentu juga rawan terjadi pembelokan. Memang berat mencegah diri dari pamer, ingin mendapat pujian, ingin populer.Ya sebisanya kita menjaga kadar kecukupan, tidak berlebihan.

Sumber : Status Facebook Budi Santoso Purwokartiko

Saturday, June 6, 2020 - 10:30
Kategori Rubrik: