Antara Mujtahid dan Menghafal Al Qur'an

Ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat

Seorang ibu curhat ke saya bahwa dirinya merasa agak dikucilkan oleh ibu-ibu lainnya. Pasalnya semua anak mereka bersekolah di tempat yang ada program hafal Qurannya, sementara anak ibu itu cuma sekolah di SD negeri.

Jadi tiap ngobrol mereka selalu suka sindir-sindir bahwa generasi qurani itu hanya muncul bila anak-anak kita pada hafal Quran.

Anakku sudah 5 juz lho jeng. Anakku 8 juz. Anakku 15 juz. Gitu lah kira2 obrolan mereka.

Saya bilang ke ibu itu, gak apa-apa anak ibu tidak sekolah di tempat yang ada pogram tahfiznya. Gak hafal Quran juga gak apa-apa.

Jumlah sahabat nabi ada 124.000 menurut Al Imam As suyuthi atau 114.000 menurut Imam ar Razi. Generasi para shahabat resmi disebut sebagai generasi terbaik.

Adakah keterangan bahwa semuanya hafal Quran? Kalau yang terbaik saja tidak semuanya hafal Quran, lalu kenapa kok anak diwajib-wajibkan hafal Quran?

Rata-rata mujtahid itu bukan cuma hafal Quran saja, mereka juga bahkan hafal ratusan ribu Hadits. Tapi dalam syarat-syarat mujtahid tidak ditemukan bahwa mereka disyaratkan harus hafal Quran.

Menjadi mujtahid saja tidak harus hafal Quran, lalu kenapa anak-anak diwajibkan hafal Quran?

Orang Mesir asli kalau kuliah di Al Azhar wajib hafal Quran. Tapi para Wafidin (mahasiwa non Mesir), apalagi yang dari Indonesia ternyata Cuma harus menghafal 4 juz saja.

So nggak harus jadi hafiz Quran kita tetap mulia kok. Gak usah sedih cuma dinyinyirin sama tetangga.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat

Saturday, July 21, 2018 - 18:30
Kategori Rubrik: