Antara Monarki Absolut, Partai Allah dan Partai Setan

Oleh: Amin Mudzakir

 

Anak-anak sekolah di Indonesia mungkin telah mengenal nama Louis XIV sejak duduk di bangku SMP, tetapi saya baru pada usia 35 sekarang ini bisa melihat istana peninggalannya yang terkenal itu. Setelah antri sekitar 2 jam, akhirnya saya bisa masuk ke Istana Versailles yang kemarin penuh sesak dengan turis. Tempat ini memang gila.

Disebut gila karena saya membayangkan bagaimana pada pertengahan abad ke 17 istana super mewah ini dibangun; berapa banyak uang digunakan, berapa banyak manusia dikorbankan. Kita tahu Perancis pada masa itu menerapkan sistem monarki absolut yang mengerikan di mana Louis XIV mengatakan bahwa 'L'Etat c'est moi', negara adalah saya. Tapi bagaimana bisa hal itu bisa terjadi?

 

 

Negara dengan sistem monarki absolut tidak mungkin bisa berdiri tanpa legitimasi agama. Demikian juga Perancis pada masa itu. Aliansi antara negara dan gereja sedemikian kuat, sesuatu yang kelak menimbulkan sikap anti-agama yang luar biasa. Sekularisme Perancis yang tumbuh pasca Revolusi 1789 membalikkan secara radikal relasi negara dan agama sebelumnya.

Jika hari ini di Indonesia ada orang yang masih menggunakan istilah "partai Allah" dan "partai setan", tak pelak lagi orang itu adalah bagian dari kesadaran monarki absolut seperti Perancis di bawah Louis XIV. Orang seperti itu merasa merupakan wakil Allah di muka bumi, tetapi sesungguhnya entah sadar entah tidak sedang mencampakkan keluhuran Allah yang ke keranjang sampah sejarah. Kesadaran monarki absolut mau menarik kita kembali ke belakang ketika kekuasaan manusia yang duniawi bisa berbuat sewenang-wenang atas nama Tuhan Yang Maha Suci.

 

(Sumber: Facebook Amin Mudzair)

Monday, April 16, 2018 - 19:15
Kategori Rubrik: