Antara Marah-marah, Bodoh atau Bau T*i

ilustrasi

Oleh : B Uster Kadrisson

Ketika saya baru memulai usaha bisnis cafe di Amerika, susah sekali mencari orang yang mau ikutan untuk menanamkan modal. Kesana kemari pontang panting mencari pinjaman dan meyakinkan teman-teman kalau bisnis ini cukup bagus sebagai langkah awal. Tetapi rata-rata meminta bagi keuntungan sesegera mungkin, mereka tidak mau menunggu dua tahun dengan merintis usaha sejengkal demi sejengkal. Dalam berbisnis, memang susah untuk mencari pasangan serasi yang berani melangkah dan bertaruh nasib dengan meletakkan resiko, bukan sekedar yang mengharapkan ada potongan coklat di atas bantal.

Walaupun akhirnya cafe bisa berjalan dengan modal seadanya dari sanak saudara yang memberikan dana awal. Saya pontang panting menjaga grafik penjualan supaya tetap bagus, paling tidak kurvanya bergerak naik dan tidak terjungkal. Meminta pinjaman dari bank terlalu banyak persyaratan dan harus ada agunan yang dijadikan sebagai bahan pengganjal. Mengurus surat-surat ijin sudah lebih dari satu semester dan akhirnya ditolak dengan alasan masalah internal.

Suatu hari datang surat entah dari mana yang menawarkan uang pinjaman yang lumayan banyak dengan bunga yang sebenarnya cukup lumayan besar. Sedikit lebih tinggi dari yang ditawarkan oleh bank tetapi masih lebih rendah dari pada yang diminta oleh teman yang mengaku akan bisa menjadi partner sejak dari dasar. Perusahaan yang menawarkan peminjaman ini tidak banyak bertanya dan memberikan persyaratan, hanya meminta dikirimkan grafik penjualan selama 3 bulan serta rekening bank yang benar. Mereka melakukan semua proses melalui online dan percakapan pertelpon, setelah itu hanya dalam tempo satu minggu saja dana bisa cair dan siap untuk digunakan supaya bisnis bisa lancar.

Tiga bulan setelah itu banyak berdatangan surat-surat senada yang menawarkan berbagai pinjaman uang juga. Bunga bervariasi sampai menawarkan lebih rendah dari pada yang pertama asalkan saya mau pindah ke perusahaan mereka. Herannya tidak ada jaminan yang diminta, tidak juga surat agunan rumah atau kendaraan beroda empat atau dua. Mereka percaya saja dengan grafik penjualan yang cenderung meningkat serta rekaman cash flow di rekening bank yang ada.

Ketika kemarin melihat video seorang anggota DPR yang marah-marah saat rapat dengan seorang Dirut Inalum, saya melihat sepertinya dia tidak paham akan permasalahan yang sebenarnya. Dengan gaya arogan yang mengusir sang dirut untuk keluar dari ruangan, dengan bahasa yang tidak pantas diucapkan dalam sebuah sidang terbuka. Dia marah karena menyangka si dirut plintat plintut karena mendapat pinjaman yang banyak untuk mengakuisisi saham Freeport, tanpa ada jaminan apa-apa. Tetapi sudah bisa terbaca, ketika seorang yang bodoh dan tidak mengerti akan sebuah persoalan, maka dengan cara berlagak marah-marah dan menempatkan diri menjadi superior adalah jalan keluar yang terbaik menurut dia.

Saya tidak begitu paham dalam bidang ekonomi tetapi paling tidak narasi yang saya tuliskan di awal, adalah begitu kira-kira. Ketika sebuah perusahaan menunjukkan kinerja yang baik, ramai-ramai orang akan meminjamkan modal tanpa perlu meminta agunan karena mereka memang sudah percaya. Apalagi dengan aset perusahaan yang trilyunan rupiah yang tersebar di mana-mana, sepertinya tidak perlu ada surat-surat bukti yang harus diletakkan di atas meja. Tinggal bagaimana perusahaan mengelola dana yang datang dan tersedia serta memutar balikkan sehingga bisa memperbesar keuntungan untuk kepentingan rakyat dan negara.

Akhirnya terbuka juga kedok si tukang marah-marah ternyata yah.. dia lagi, dia lagi, yang datang dari partai bemobekarat yang tidak jelas menempatkan posisi. Riwayat perjalanan karirnya kemudian dibongkar, ternyata pernah minta duit kepada Pertamina tetapi tidak diberi, sedangkan saudara kandungnya masuk penjara karena korupsi. Dan kemudian di ujung rapat yang berlangsung juga tanpa ada rasa malu-malu anggota DPR yang lain meminta untuk ikut menebeng saat perusahaan pelat merah membagi-bagikan dana CSR untuk rakyat di daerah di mana mereka terpilih. Mereka berdalih hanya sebagai usulan supaya tidak melupakan jasa mereka yang telah mati-matian ikut memberikan sumbangsih, disitulah kemudian saya seperti merasa mencium ada bau t*i.

Tabik.

Sumber : Status facebook B. Uster Kadrisson

Friday, July 3, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: