Antara Leadership dan Dealership

Oleh: Sunardian Wirodono

Dulu dalam kartu namanya, Pak Siswanto, owner Mirota Kampus Yogyakarta, menyebut diri sebagai art-dealer. Apa maksudnya? Pak Sis menjelaskan dia adalah penyambung lidah pelukis di Yogyakarta. Orang Yogya menyebutnya kolekdol, bukan kolektor. Beli untuk di-dol (jual).

Pak Sis banyak membeli lukisan karya seniman-seniman lukis Yogyakarta pada masa-masa awalnya, seperti Nyoman Masriadi dan Putu Sutawijaya dan sebagainya. Waktu itu mereka masih mahasiswa, tentu harganya murah meriah. Adalah keuntungan Pak Sis jika kini harga lukisan mereka melejit melebihi langit.

Tapi saya tak sedang membahas dunia lukis-melukis yang yahud itu. Saya lebih ingin mengajak panjenengan sedaya tentang kata ‘leadership’ dengan ‘dealership’. Komponen hurufnya sama. Cuma dua huruf saja diubah posisi, tapi maknanya berbeda jauh.

Leadership bermakna kepemimpinan, sesuatu yang muncul dari dalam dan merupakan buah dari keputusan seseorang untuk mau mejadi seorang pemimpin, baik bagi dirinya sendiri, bagi keluarganya, bagi lingkungan pekerjaannya, maupun bagi lingkungan sosial dan bahkan bagi negerinya. Sedangkan dealership berarti (kb) hak penjualan. Misal dealership of the Chevrolet, artinya hak penjualan mobil-mobil Chevrolet.

Nah, sampai di sini, saya ingin lebih fokus lagi. Betapa para pemimpin kita, terutama politikus, hanya lebih menonjolkan aspek dealership, bukan leadership. Banyak pemimpin, atau elite kita, hanya lebih berperan sebagai makelar, kolekdol. Daya leadershipnya rendah, daya dealershipnya tinggi, artinya dijual dengan harga tinggi.

Dalam politik uang, segala sesuatu dinilai dengan uang. Jika mereka menyuap dengan angka tinggi untuk jabatan tinggi, kecenderungannya mengambil balik ketika berkuasa, dalam bentuk menerima suap atau korupsi. Apalagi ketika partai politik didirikan seperti Perseroan Terbatas dengan kaum oligarkisnya yang sadis, di mana para politikus di dalamnya terlibat praktik jual-beli ada uang abang sayang.

Pada sisi itu, seringkali seorang pemimpin sejati tak dikenal atau dilihat keberadaanya oleh mereka yang dipimpin. Bahkan cenderung dibenci, misal generasi Jokowi-Ahok, yang terbebas dari hubungan darah dengan Orbasoe. Gaya kepemimpinan mereka relatif lebih bebas. Di luar mainstream masyarakat, bukan sesuatu yang mudah, apalagi ketika kepemimpinan mesti ditest DNA oleh seorang doktor politik, dan seorang penjual agama dianggap manusia suci penjamin surga.

Dalam situasi itu, yakni makin maraknya korupsi, tiba-tiba, mendadak ndangdhut beberapa orang sibuk jualan agama. Walau sepertinya memuliakan dan membela-bela agama, sejatinya justeru sedang melecehkan agamanya. Sementara mereka yang sesungguhnya sedang membela agama, justeru dibully, difitnah, disingkirkan.

Ketika agama dipakai untuk melegitimasi koruptor, dan mendelegitimasi orang-orang baik yang bekerja, di situ sesungguhnya agama sedang dinistakan, oleh para dealernya.

(Sumber: Facebook Sunardian Wirodono)

Saturday, July 15, 2017 - 01:00
Kategori Rubrik: