Antara Kritik dan Nyinyir

Ilustrasi

Oleh : Muhammad Jawy

Foto sebelah kiri, adalah nyinyir dari seorang Netizen terhadap foto dari Anies Sandi yang sedang sholat berjamaah. Masalah kaos kaki ketika sholat, ini adalah nyinyir kelasnya Jonr*, dan memang waktu itu Jonr* juga nyinyir karena Jokowi sholat dengan kaos kaki. Beberapa ustadz menyampaikan bahwa sholat dengan kaos kaki itu sama sekali tidak masalah, sekaligus sebagai bantahan atas ketidakmengertian Jonru dalam masalah fiqh.

Saya tidak tahu apakah si Netizen tengah Satire atau tidak, tetapi tentu postingan Nyinyir seperti itu memang sangat tidak penting, bukan bagian dari iklim demokrasi yang sehat. Hanya menunjukkan kebodohan ala Jonr* dan sebangsanya. Dan lebih parah lagi, karena kalau mau bertarung di level Jonr* sudah pasti akan kalah pengalaman.

Nah untuk foto kanan, itu adalah fenomena yang diamati oleh salah satu media terkait kebebasan informasi di era Anies Sandi. Yaitu tampak ada upaya untuk membuat pemerintah DKI tidak seterbuka sebelumnya. Tentu ini masih harus dikonfirmasi lagi dengan beberapa perkembangan ke depan.

Tapi hal seperti ini yang seharusnya menjadi perhatian serius ketimbang masalah kaos kaki. Daerah yang baik adalah yang paling transparan dalam pengelolaan pembangunan daerah. Baik menyangkut proses perencanaan, keuangan, asset. Jadi ketika ada upaya menutupi kebebasan informasi, itulah yang harus dikritik dengan tajam, tentu dengan data yang baik. Apalagi Anies Sandi yang mengkampanyekan Open Government. Open Government hanya bisa terjadi kalau pemerintah terbuka kepada masyarakat dan pers.

Menjauhkan masyarakat dan pers dari informasi yang seharusnya mereka terima, itu bertentangan dengan semangat Open Government, juga UU Kebebasan Informasi Publik. Sedangkan UU KIP sendiri adalah spirit dari meningkatnya transparansi pengelolaan daerah.

Topik seperti ini yang layak menjadi bahan pengawasan dan kritik, bukan soal kaos kaki.

Sumber : Status facebook Muhammad Jawy

Sunday, November 5, 2017 - 00:15
Kategori Rubrik: