Antara Kisah Christopher, Burhan, Houtman Dan Comfort Zone

ilustrasi

Oleh : Saeful Islam

Christopher L. Jr. mungkin nama yang cukup asing untuk kita dibanding nama – nama seperti Bill Gates, Jack Ma atau Steve Jobs. Namun kisahnya cukup menarik untuk kita simak dan pelajari, bagaimana kisahnya ini bisa mengubah cara pandang kita mengenai pelayanan dalam usaha kita.

Kisah ini Saya cuplikkan dari sebuah tulisan di web..

Suatu ketika Mr.Benz – sebut saja, membutuhkan tukang ledeng untuk memperbaiki kran di rumahnya karena bocor. Si pemilik perusahaan otomotif legendaris Mercedes Benz ini mencoba menghubungi rekannya untuk menanyakan apakah dia punya atau pernah memakai jasa tukang ledeng sebelumnya.

Kebetulan temannya ini pernah menggunakan jasa Chris dan merekomendasikannya kepada Mr. Benz. Tak menunggu waktu lama, Mr.Benz langsung menelepon Chris, tentu saja mereka tidak saling mengenal kala itu.

Benz menjelaskan masalahnya dan meminta Chris untuk membantu memperbaiki saluran ledengnya secepatnya. Namun kebetulan saat itu Chris sedang penuh pekerjaan yang harus diselesaikan dan meminta Benz bersabar untuk menunggu sekitar 2 hari lagi.

Satu hari kemudian, Christopher menelepon Benz dan mengucapkan terima kasih karena telah bersedia menunggu selama 2 hari. Chris tidak tahu sedang berbicara dengan siapa dan Benz, Pemilik perusahaan otomotif terbesar di Jerman ini sangat kagum dengan cara Chris melayani meskipun dia tidak tahu bahwa dia sedang diminta oleh “Bos Besar” Mercy.

Keesokan harinya Chris pun datang seperti yang dijanjikan. Masalah ledeng pun selesai, tapi ceritanya tidak sampai disitu. Setelah membereskan pekerjaannya, Chris pun pamit dan meminta kepada Benz untuk menghubunginya lagi jika ledengnya bermasalah lagi.

Sampai disitu pun dia masih tidak tahu bahwa Benz adalah bos mercy. Dua minggu kemudian, tidak disangka oleh Benz, Chris meneleponnya dan menanyakan kepada Benz apakah ledengnya sudah benar-benar baik dan tidak bermasalah lagi.

Benz pun terkejut dan terkagum. Bagaimana mungkin seorang pekerja sekelas tukang ledeng bisa begitu memperhatikan konsumennya, bahkan kepada konsumen yang tidak diketahui status dan nama besarnya.

Dalam benaknya, Ini yang ia cari untuk perusahaannya, pelayanan total dan tanggung jawab yang besar.

Itu adalah kisah Christopher L Junior yang banyak menghiasi buku-buku motivasi.

Saya juga ada kisah nyata serupa kisah si Christopher tadi.

Sepuluh tahun yang lalu ketika Sy masih ngantor di Surabaya Sy kenal baik dengan seorang OB. Sebut saja Burhan teman si Mawar.
Orang ini supportnya luar biasa. Ketika ngerti Saya kerja lembur sampai malam disamperin sama si Burhan, ditanya?
Pak Saiful mau minum apa?

Mau Saya belikan makanan Pak?

Kalo capek Sy bisa pijit juga loh Pak.

Dan banyak teman-teman yang mengakui kualitas pelayanan Mas Burhan ini. Mulai staff, supervisor, manager, GM, VP pun pernah merasakan pelayanan "Unbelievable" dari Pak Burhan.
Dan yang paling fenomenal adalah kualitas pijitannya.

Sepuluh tahun berselang mampirlah Saya ke kantor itu.
Dan Saya cukup terkejut ternyata Burhan sudah berada di ruangan manager. Gilaaaaaa..
Dari OB menjadi seorang manager perusahaan BUMN besar.
Berada di ruangan mewah, sejuk, ada TV layar super lebar, ada kulkas yang penuh dengan cemilan dan aneka minuman kemasan.

Itu yang Anda pikirkan? Yah.. mungkin Anda terlalu banyak membaca cerita-cerita motivasi.

Kalo Saya ndak sih..
Karena Saya masih melihat Burhan tadi masih ngelap-ngelap meja, bawa semprotan dan vacuum cleaner. Kalo dari penampakannya dan alat-alat yang dibawanya, terlihat jelas kalau Burhan adalah seorang GM..
Looh.. nggak lah. Mana GM bawa vacuum cleaner dan pel-pelaan kemana-mana.
Mas Burhan masih seorang OB sampai sekarang.

Koq bisa sepuluh tahun masih OB? Padahal pelayanannya luar biasa, gak kalah sama Mas Christopher.
Apakah dia gak ketemu sama Mr. Benz?

Kalau boleh jujur Saya tanya..
Berapa peluang kejadian ala Christopher itu berulang?
Amat sangat kecil.. Bisa jadi peluangnya lebih kecil dari 1 juta banding satu.

Di Indonesia tapi ada orang yang merasakan pengalaman seperti Chris..
Namanya Houtman Zainal Arifin.
Ingat.. Houtman bukan Bang Hotman yang jam tangannya milyaran itu.

Saya pertama kali dengar kisah beliau dari Kek Jamil Azzaini pas ikut salah satu workshop beliau. Dan ini juga karena Kek Jamil juga anak angkat Pak Houtman ini.

Pak Houtman merintis karir sebagai OB di citibank strata karir terendah di bank itu, dan berhasil mencapai posisi puncak karir tertinggi Citibank di Indonesia, sebagai Vice President Citibank. Itu adalah pucuk jabatan Citibank tertinggi di Indonesia. Karena CEO nya di US sana.

Berbekal rasa keingintahuan yang amat kuat, dan dorongan semangat untuk naik level yang membuncah, membuat Houtman beranjak dari seorang OB, ngotot menjadi tukang foto kopi, tukang stempel sampai akhirnya diangkat menjadi karyawan dan mencapai puncak karir dalam waktu 19 tahun.

Burhan memiliki kualitas pelayanan yang luar biasa. Tapi ia berhenti disitu saja. Tidak ada keinginan untuk menambah kapasitas pengetahuannya.

Pak Houtman berbeda, ketika beliau meletakkan kertas difotokopi, menyetempel dokumen, rasa keingintahuan beliau sangat besar. Ia ingin mempelajari setiap dokumen yang ia pegang. Apa maksud dokumen ini, apa kegunaannya. Ia mau belajar istilah-istilah rumit di dunia perbankan.
Ia tak malu bertanya ke karyawan di sana tentang istilah-istilah itu. Banyak karyawan yang mencibir ngapain sih seorang OB repot-repot belajar seperti itu. Termasuk ejekan dari rekan sesama OB. Tapi tak satupun beliau gubris.

Apa yang kita dapatkan dari ketiga kisah diatas.
Pertama jangan pernah lelah menunjukkan kualitas pelayanan kita yang terbaik. Bukan hanya kepada atasan, kepada bawahan, kepada sesama rekanan dan yang terpenting kepada customers.

Kedua. Tetapkan arah dan tujuan yang jelas dan tahapan-tahapan untuk menuju ke tujuan itu. Orang yang tidak memiliki tujuan biasanya tidak akan bergerak kemana-kemana. Kalaupun bergerak, gerakannya akan random dan acak. Macam gerakan emak-emak bawa motor, riting kekiri belum tentu kiri, bisa juga kekanan.

Yang terakhir. Perluas zona nyaman. Iya kalo kita gak mau keluar dari zona nyaman, ya perluas teritorinya.
Kalo dulu malas baca buku dan belajar hal baru, sekarang coba nyamankan.
Kalo dulu kurang nyaman ketemu orang baru dalam networking baru, sekarang bikin nyaman.
Kalo dulu malas dikritik dan menerima masukan, sekarang nyamankan.

Satu senti saja sehari zona nyaman kita bertambah keluar. Sudah 365 cm ia melebar keluar dalam setahun. Makin lama kita akan makin nyaman melakukan apa saja. Bahkan ketika orang lain melakukannya dengan berat dan bersusah payah, kita tetap saja "nyaman" dan enjoy sekali melakukannya.
Sampai akhirnya kita benar-benar sampai di tujuan yang sudah kita canangkan sebelumnya.

Semoga tulisan ini berfaedah ya..

Salam Nginbound
Sumber : Status Facebook Saiful Islam

Praktisi Inbound Marketing
bit.ly/inbound_strategy

 

Saturday, October 31, 2020 - 13:45
Kategori Rubrik: