Antara Jonru dan Raisa

Oleh: Muhammad Jawy

 

Saya pertama mengenal nama Jonru di suatu mailing list dengan topik Islam di yahoogroups awal tahun 2000an. Dia termasuk yang cukup aktif menulis, meskipun tulisannya belum bisa disebut berpengaruh. Dan ketika era milis pudar, saya pun lama tak update tulisannya.

Saya baru ikut meramaikan media sosial tahun 2012, dan kebetulan waktu itu ada hajatan politik yang menarik netizen yaitu Pilkada DKI. Ada hal yang menarik waktu itu ketika dunia politik yang biasanya as usual didominasi parpol, mendadak ramai karena masuknya figur Jokowi dan Faisal Basri, yang di luar pakem. Babak pertama berlangsung biasa, karena hampir semua kubu menyerang petahana, Foke Kumis dengan berbagai issue.

 

 
 

Babak kedua barulah medsos semakin membara, setelah ada issue PKS meminta imbalan kepala dinas dan uang sekian puluh M kepada kubu Jokowi. Peluang koalisi Jokowi-PKS yang tadinya sangat mungkin terjadi, karena PKS ikut mengusung kemenangan Jokowi di Solo tahun 2010, mendadak kandas. Disinilah awal mula perselisihan politik di medsos, yang rupanya belum padam hingga sekarang.

Disitulah saya bertemu lagi dengan Jonru yang cukup aktif menjadi juru bicara tidak resmi sikap publik yang berafiliasi dengan PKS. Sentimen negatif kepada Jokowi sudah dimulai sejak saat itu, yang juga digaungkan oleh situs PKSPiyungan dan beberapa situs lainnya. Disini saya sudah melihat pergeseran nilai dari mereka dalam mengelola informasi, karena sudah mulai muncul tulisan yang tidak obyektif, bahkan bernada menghasut. Dan struktural PKS pun terkesan mendiamkan, dan dengannya maka suara publik yang berafiliasi ke PKS pun seolah sering mengamini opini Jonru dan teman-temannya.

Jonru menjadi simbol perlawanan di dunia maya, ketika PKS dibully habis pasca ditangkapnya Luthi Hasan Ishaaq karena kasus suap korupsi sapi. Jonru pula yang berusaha meyakinkan publik bahwa LHI adalah korban konspirasi, kriminalisasi, dan tidak peduli ketika pengadilan tipikor memvonis LHI 16 tahun penjara. Jonru masih menganggap LHI tidak bersalah, dan ikut menggerakkan opini bahwa LHI adalah korban.

Kiprah Jonru semakin meningkat, dan jumlah followernya di Facebook semakin menjulang di era Pilpres 2014. Status Jonru sering menjadi rujukan oleh banyak pihak, dishare ribuan hingga belasan ribu kali, termasuk di group-group alumni kampus ternama di negeri ini. Beberapa disinformasi yang mengandung hasutan seperti postingannya yang meragukan Ibunda Jokowi, juga ternyata dipercaya oleh banyak orang, termasuk yang secara akademik berpendidikan tinggi. Belum lagi analisisnya yang seringkali bertentangan dengan fakta pun digemari oleh banyak orang.

Dan setelah Pilpres itu saya mentag Jonru untuk diskusi di wall saya, saya mengingatkan tentang kewajiban seorang muslim untuk berhati-hati menyebarkan informasi, saya sampaikan juga hadits muflis. Namun hanya hitungan beberapa jam, akun saya diblokirnya, termasuk tidak bisa komentar lagi di FPnya. Sesudah itu saya beberapa kali mencoba membuat status yang mencoba meluruskan ketika ia membuat disinformasi.

Pada bulan Mei 2017, Kementrian Kominfo menjadi tempat peluncuran Fatwa MUI terkait Pedoman Bermuamalah di Media Sosial oleh Ketua MUI KH Ma'ruf Amin. Saya diundang secara pribadi oleh Pak Menteri Chief RA, dan rupanya di aula Kominfo banyak perwakilan netizen dan ormas Islam yang hadir. Termasuk Jonru, yang juga diundang oleh Kementrian. Beberapa rekan ikut selfie dengan Jonru. Saya hanya sempat salaman dengannya, dan kami sholat maghrib dalam satu jama'ah di masjid kementrian. Waktu itu saya berharap, hadirnya Jonru di acara itu, bisa menyadarkannya, sekaligus menjadikannya duta untuk sosialisasi Fatwa MUI yang sangat penting ini.

Harapan saya kandas, karena ternyata Jonru tidak berubah, bahkan Fatwa MUI itu seperti tidak digubrisnya. Saya menduga bahwa Jonru terperangkap oleh para followernya, dan para pendukungnya, yang secara psikologis menyulitkannya untuk berani berubah sikap untuk mengurangi postingan partisan yang penuh kebencian kepada mereka yang dipersepsikan sebagai lawan politiknya. Apalagi ketika gerakan MCA seolah mentahbiskannya sebagai the Guru, dimana ia sering menjadi narasumber utama dalam berbagai pelatihan dengan topik media sosial.

Dan kehadirannya yang pertama kali di pentas ILC rupanya menjadi anti klimaks bagi Jonru, karena setelah itu ia harus berhadapan dengan hukum, dimana ia harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di media sosial. Hingga akhirnya ia harus divonis penjara 1.5 tahun, saya termasuk yang sedih mendengarnya. Terlebih ketika tahu bahwa ia masih diperalat oleh kekuatan politik yang sengaja menjadikannya "martir", yang justru memasukkannya ke dalam jurang kerusakan, karena Jonru semakin jauh dari meminta maaf atas segala kerusakan yang telah dibuatnya.

Raisa, apa hubungannya? Tidak ada hubungan khusus dengan Jonru, tentu saja. Saya hanya kesal saja karena sebagai penggemar Xiaomi, tiba-tiba ketika pulang, istri dan anak saya sudah asyik dengan dua HP Oppo di genggaman mereka. Tidak ada hubungan dengan nikahnya dia dengan Hamish. Nggak ada.

 

(Sumber: Facebook Muh Jawy)
Wednesday, March 7, 2018 - 02:15
Kategori Rubrik: