Antara Jokowi dan Musuhnya

Oleh: Sunardian Wirodono

 
 
Krisis seperti apakah jaman Nabi Yusuf? Pangan atau ekonomi? Krisis pangan sangat mungkin, tapi krisis ekonomi pastilah juga dalam pengertian ekonomi jamannya. Sesuatu yang sangat beda dengan ekonomi uang, krisis multidimensional serta global. Sesuatu yang saling mengait, dan tak sederhana sebab dan akibatnya.

Dalam konteks itu, ketika Sandiaga Uno mengatakan bisa menye

lesaikan hanya dalam waktu 3 tahun, betapa sangat lamanya. Apalagi dengan kapasitas penguasa tertinggi, di jaman now, yang hanya berlangsung per-5 tahun sekali. 

 

 
Tapi, tak perlu menanggapi terlalu serius. Habis energi untuk sesuatu yang sia-sia. Lebih menarik menyelisik munculnya kosakata ‘Nabi Yusuf’ dalam pikiran santri post Islamisme itu, yang lebih mungkin hanya untuk perbandingan yang islami, ketika Jokowi memunculkan para Avengers sebagai musuh Thanos.

Pidato Jokowi mengenai melawan Thanos, dan winter spring, terasa lebih sekuler dan kebarat-baratan. Itu juga antara lain kritik Sandiaga. Beda kemudian dengan yang disodorkan, merujuk film biografi Nabi Yusuf. Di situ mungkin Sandi menonton adegan bagaimana Nabi Yusuf menyelesaikan krisis di Mesir jaman itu.

Apa yang diungkapkan Sandiaga tentang krisis itu bukan sekedar tendensius, namun juga sumir. Secara spesifik Sandiaga tak bisa menjelaskan, penyelesaian model apa dalam 3 tahun itu? Apakah ia tahu tentang angka 7 tahun yang didengar dan dilihat dari film maupun tim ahlinya?

Jangan-jangan (namanya juga dugaan), Sandiaga tak jauh beda dengan Fadli Zon, yang mengatakan situasi sekarang ini sulit. Kriris ekonomi, paceklik, lebih dalam pengertian betapa yang dulu mudah (asal dekat dengan penguasa), kini terpaksa gigit jari, dalam puasa panjang? Karena segala sesuatunya menjadi tak mudah di era Jokowi?

Di jaman Jokowi, pemerintahan perlahan dibenahi, dirombak, bahkan diguncang-guncang (oleh lawan disebut ugal-ugalan). Mereka yang dulu nyaman menjadi terusik. Apalagi ketika bisnis percaloan dibersihkan, perusahan-perusahaan yang dulu menjadi sapi perah mulai ditata. Saham-saham kosong mulai dipangkas. Pat-gulipat dan penggelapan pajak, juga KKN, diurai satu-satu. Indonesia harus menuju ke negri demokratis, clean governement, dengan tekanan pada indeks korupsi makin ketat.

Atau itukah krisis ekonomi yang dimaksud? Maka Prabowo memakai idiom: Kita rebut kembali. Emangnya sekarang berada di bawah musuh? Tentu saja musuh, karena merasa tersingkirkan. Titiek Soeharto, sebagai representrasi Soehartoisme, juga sudah memberi ultimatum; cukup sudah sampai di sini.

Di dalam perang pernyataan, perang teks (lucunya kadang berujung ke penuntutan hukum), sebenarnya pemetaan kubu masing-masing jelas. Menjadi perang simbolik antara Jokowisme dan Prabowoisme. Masing-masing dengan ideologi dan pengusungnya. Tentu saja ada penumpang gelap di kedua kubu. Tapi inilah awal penentuan, terus melaju bersama Jokowi atau balik kanan dengan Prabowo. Di samping ada yang merasa gagah sebagai golput.

 
(Sumber: Facebook Sunardian Wirodono)
 
Friday, December 14, 2018 - 17:00
Kategori Rubrik: