Antara Ghirah dan Amarah

Ilustrasi

Oleh : Fadly Abu Zayyan

Hari ini, PWNU Jatim telah mengutus Ansor untuk melaporkan Sukmawati ke Polisi atas dugaan Penistaan Agama melalui puisinya. Seorang kawan bertanya tentang pendapat saya atas hal ini. Terus terang saya menjawab setuju. Kenapa?

Ini adalah sebuah pelajaran khususnya bagi Umat Islam agar tahu dan memahami dimana letak perbedaan antara Ghirah dan Amarah. Tanpa perlu demo berjilid-jilid, tanpa harus ribut-ribut, tanpa umpatan Bunuh! Seret! Gantung! Ansor menyerahkan semuanya pada proses hukum yang berlaku. Tak perlu intervensi, menekan apalagi sampai mengaitkan dan mencampur aduk dengan kepentingan politik yang semakin mencemari kemurnian Ghirah itu sendiri.

Sebagaimana dalam sebuah riwayat pertempuran Ali bin Abi Thalib. Saat beliau memenangkan sebuah duel, dan pedang sudah dihunuskan untuk menuntaskan pertarungan, tiba-tiba beliau di ludahi oleh musuhnya yang sebenarnya sudah tak berdaya tepat mengenai wajahnya.

Bukannya membunuh, Sayyidina Ali malah menyarungkan pedangnya kembali. "Kenapa kau tak membunuhku? Bukankah aku musuhmu?" Mendapat pertanyaan demikian, beliau lantas menjawab: "Aku tak mau membunuhmu karena ditunggangi amarah."

Mendengar jawaban seperti itu, si musuh tersungkur menangis sambil memegang kaki Sayyidiana Ali sambil berkata: "Ajarkan aku Syahadat."

Dari riwayat di atas, kita dapat melihat jelas antara Ghirah dan Amarah, adalah dua hal yang berbeda. Tetapi saat ini sebagian umat justru masih saja mencampur adukkan antara Ghirah, Amarah dan bahkan juga Syahwat Politik. Undangan konsolidasi beragendakan "Ahokkan Sukmawati" jelas tersirat nuansa amarah. Mirip saat muncul agenda "GusDurkan Jokowi" pada aksi terdahulu yang menunjukkan betapa sempitnya pemahaman mereka tentang Ghirah. Belum lagi bicara masalah Adil sebagai ciri orang-orang yang bertaqwa. Apalagi tentang Nilai-Nilai Universal "Islam Rahmatan lil 'Alamin".

Oke, jika mengaku sudah paham tentang Ghirah, wani ora antum melaporkan Nur Sugik yang jelas-jelas melecehkan Al Qur'an dengan menafsirkannya melalui metode model ala togel? Atau malah menggoreng isu puisi Sukmawati meski sudah dilaporkan ke Polisi karena mumpung ini dalam suasana tahun politik?

"Hai orang-orang yang beriman, jadilah kalian saksi yang adil karena Allah. Dan janganlah kebencian kalian terhadap suatu kaum menghalangi kalian berlaku adil. Berlaku adil-lah, karena perbuatan adil itu lebih dekat kepada taqwa." ( Al-Maidah: 8 )

Sumber : Status Facebook Fadly Abu Zayyan

Saturday, April 7, 2018 - 21:00
Kategori Rubrik: