Antara Dokter dan Pendetaku

ilustrasi

Oleh : Eddy Pranajaya

(BEDA YANG ASLI DAN YANG PALSU)

1. Dikala virus Corona menyerangku Dokter hadir menolongku dan mengobatiku,
¤ Pendetaku stay at home jaga jarak dariku .

2. Dokter memberiku vitamin dan obat menambah imunitas tubuh.
¤ Pendeta menyuruhku berbahasa roh menambah imunitas tubuh.

3. Dokter yg merawatku memberiku makan makanan bergizi, yg mengandung vitamin C dan vitamin D,
¤ Pendeta mengirimkan minyak urapan dan anggur perjamuan kudus bagiku.

4. Tiap hari dokter hadir mengecek kesehatanku.
¤ Tiap minggu pendeta himbau dengar khotbahnya lewat online.

5. Dokter memegang tanganku, merasakan panas kepalaku.
¤ Pendeta memegang HP dan WA denganku.

6. Dokter berkata engkau akan sembuh
¤ Pendeta berkata mukjizat akan terjadi

7. Dokter berkata semua pengobatan gratis ditanggung pemerintah.
¤ Pendeta berkata jangan lupa transfer persembahannya.

Hari berikutnya...

Aku pun pulang dan sehat kembali namun aku tak lagi dengar dan bertemu dokter yg merawatku , dan ternyata dia terinfeksi dan pergi untuk selamanya...

Setelah sehat, pendeta pun datang ke rumah membesukku dan mengajakku berdoa bahasa roh. Saat itu aku tahu siapa sesungguhnya yg mengasihiku.

Aku berpikir : Dokter saja tidak takut kematian lalu mengapa pendetaku takut Corona ???

Dokter tidak pernah berkata ia yakin mati masuk Sorga, ia hanya simpan dalam hatinya. Namun ia tidak pernah lari dari tanggung jawabnya walaupun kematian di depan mata.
Sedangkan pendetaku terus khotbah hidup adalah Kristus mati keuntungan. Dan dia berkata siap mati masuk Sorga namun mengapa ia menjauh dariku.

Dari pengalamanku aku mengerti apa itu KETULUSAN & CINTA KASIH sesungguhnya. Aku mengerti apa itu profesionalitas dan apa itu kepalsuan.

Aku pun mencari tahu siapa dokter itu sesungguhnya, kutemui isteri dan anak-anaknya dan akhirnya aku tahu dokter itu adalah seorang hamba Tuhan yg merintis gereja sederhana dirumahnya...

Tidak ada kesedihan yg mendalam dari wajah isterinya. Aku ber tanya mengapa?
Isterinya menjawab "Kami memiliki iman yg sama dan kami pasti kelak bertemunya lagi."

Pikiranku : Mengapa dia yg diambil nyawanya, mengapa bukan aku saja yg mati karena Corona..
Dia tukar nyawaku dengan nyawanya supaya aku tetap hidup seperti Yesus yg mati dikayu salib untuk menanggung hidup semua orang...

Aku baru tau di pemberitaan media bahwa dokter yg sudah merawat ku ternyata ditolak untuk dikuburkan di kampungnya, malah teroris yg telah membunuh orang disambut sebagai pahlawan baginya...

( Tidak ada kasih yg lebih besar dari pada kasih seorang sahabat yg telah memberi kan nyawanya untuk sahabat sahabatnya Matius 15 : 13)

( Dokter bukanlah Malaekat..Dia sama seperti kita semua...Punya rasa takut, cemas, sedih, tangis, punya tanggungan anak & keluarganya..Tapi semuanya dilakukan karena kecintaan untuk sesama manusia lebih besar dari pada rasa ketakutannya...
DOKTER BUKAN SEBAGAI BENTENG PERTAMA DALAM MENYELAMATKAN JIWA MANUSIA, .. TAPI BENTENG TERAKHIRMU HIDUP ATAU MATI..BENTENG PERTAMA ADALAH DIRIMU SENDIRI..BENTENG PERTAMA ADALAH PILIHANMU, TETAP HIDUP ATAU MATI..

Tundukkan kepalamu, doa kan para dokter yg telah pergi mendahului kita, dan yg telah berusaha agar kamu tetap hidup...

Hargailah perjuangan para dokter & perawat ... tingkah polah dan kedisplinanmu, bukan hanya menyelamatkan dirimu, keluargamu, teman-temanmu, tapi juga menyelamatkan nyawa para dokter dan para perawat yang berjuang menyelamatkan nyawa sesamanya tanpa pamrih ...

Sumber : Status Facebook Eddy Pranajaya

Thursday, July 9, 2020 - 09:30
Kategori Rubrik: