Antara Ahok dan Momon

Oleh: Sumanto Al Qurtuby
 

Coba Anda renungkan dengan hati yang paling dalam, dengan pikiran yang jernih. Itu kalau Anda masih punya hati dan pikiran. Kalau hanya untuk menilai keadilan-ketidakadilan dan perilaku baik-buruk seseorang, tidak perlu pendidikan tinggi-tinggi, tidak perlu hafal kitab, tidak perlu berjubah atau berjas, tidak perlu lihai Bahasa Arab, tidak perlu berjenggot dan berjidat item.

Ahok hanya ngomong "gitu doang" didemo berjilid-jilid dan kini dihukum dua tahun penjara. Sementara Momon si mulut jamban itu masih berkeliaran seenaknya. Padahal, sudah berapa kali coba ia menghina ulama; menistakan tokoh, kitab suci, dan ajaran agama lain; melecehkan Islam sebagai agama mulia; menghina Pancasila; menghina Presiden RI; menghina para pendiri bangsa, dlsb.

 

Maka, jika Ahok kalian tuduh telah melecehkan agama, maka Momon adalah "mbahnya atau dedengkotnya" melecehkan agama.

Ahok sudah berbuat banyak sekali untuk pembangunan dan kemajuan Jakarta serta menciptakan pemerintahan yang bersih dan tidak korup, semua demi kemakmuran warga Jakarta, tapi masih saja kalian tidak menghargainya. Sementara si Momon kerjaannya cuma bikin ribut dan bikin onar, malah dibiarkan meraja-lela.

Ahok kalian tuduh "meresahkan masyarakat". Masyarakat mana? Masyarakat kurcaci dan gerombolan sontoloyo itu? Apakah si Momon dengan aksi-aksi gemblungnya selama ini tidak meresahkan masyarakat?

Jika kalian tidak bisa membedakan urusan sepele ini, maka saya sarankan untuk berdoa kepada Tuhan agar Dia menganugerahi hati dan otak pada dirimu. Mungkin waktu lahir, hati dan otak kalian keinggalan di got empang atau mungkin di kandang kambing...

 

(Sumber: Facebook Sumanto)

Wednesday, May 10, 2017 - 10:30
Kategori Rubrik: