Antara Agama dan Pil Ekstasi

Oleh: Sumanto Al Qurtuby

Dalam beberapa hal, agama itu mirip pil ekstasi. Keduanya bisa membuat "mabuk" dan "terbang" orang-orang yang menelannya. Sebagaimana ekstasi atau "pil koplo" ini, agama juga mampu membuat para pemeluk fanatiknya kehilangan nalar-pikiran waras. Beragama, jika tidak diiringi dengan akal sehat, memang bisa menyulap para pengikutnya menjadi "kerbau-kerbau bebal" persisseperti orang mabuk yang otaknya kosong-mlompong. 

Simaklah apa yang dilakukan oleh anggota FPI (Front Pelecehan Islam) yang menganggap jaket paskibraka merah putih bersilang ini sebagai bagian dari modus untuk memasyarakatkan salib dan mengsalibkan masyarakat (di Banten). Hanya orang "mabuk" yang mempunyai pikiran-pikiran tidak waras seperti ini. Hanya orang "mabuk" pulalah yang mempercayai Hawa (Eva)--yang oleh agama-agama Semit dinarasikan sebagai perempuan pertama di dunia--sudah berjilbab sejak detik pertama "turun" ke bumi. 

Banyak contoh orang beragama yang perilakunya bukan seperti manusia tetapi hanya "setengah manusia" saja alias "das man". Lihatlah bagaimana bengisnya perilaku sejumlah kelompok agama yang seperti orang "teler" alias "mabuk" melakukan berbagai tindakan kriminal dan tidak manusiawi: kekerasan, pengrusakan, pembunuhan, pemerkosaan dan sebagainya. Mereka mengkliam melakukan semua itu demi membela agama dan Tuhan. Agama dan Tuhan dengkulmu.

Beragama seharusnya mampu mengantarkan pemeluknya menjadi "manusia sejati" alias "der Ubermensch" yang ramah-toleran dengan sesama umat manusia dan alam semesta. Agama hadir, saya percaya, untuk membantu umat manusia agar menjadi individu-individu yang sempurna atau "manusia sejati" tadi. Apalah artinya beragama, jika hanya menurunkan derajat dan kualitas Anda dari "manusia penuh" menjadi "menusia setengah"? Beragama kalau begini caranya kan "mubazir". Mikir dikit kenapa, dikit saja...

Jabal Dhahran, Arabia

 
(Sumber: Status Facebook Sumanto AQ)
Friday, August 26, 2016 - 10:00
Kategori Rubrik: