Antara Abu Janda, Felix Siauw dan Mahfud MD di ILC "212 Perlukah Reuni? "

Ilustrasi
Oleh : Ardiansyah
 
Acara ILC  semalem membuat saya pantengin TV terus, sampai ibu saya mau nonton sinetron kaga bisa. Saya nonton ILC karena ada teman dunia maya saya, yaitu Permadi Arya atau Abu Janda dan Denny Siregar. Ketika Bung Denny di tunjuk untuk menyampaikan argumentasinya, dia seakan-akan grogi, ya karena ILC itu panggung besar di mana para intelektual kumpul. Mungkin jika saya yang menjadi Bung Denny saya pun akan grogi. Kemudian saya tunggu-tunggu sahabat Banser saya, Abu Janda untuk berbicara. Sampai selesai koh Felix berbicara. 
 
Dengan gaya bahasa khas marketing, yaitu berbicara satu nafas, koh Felix menjelaskan konsep khilafah. Tetapi, koh Felix di dalam pembicaraannya merasa bahwa dirinya mewakili Islam dan dan sombong bahwa jika anti koh Felix berarti anti Islam, dengan menggunakan perkataan “Menyerang Islam” bahkan ketika membantah Abu Janda, dengan bangga koh Felix merasa dirinya lah yang paling mengetahui Turki Usmani hanya karena menulis buku sejarah Muhammad Al-Fatih.
Sampailah sahabat saya Banser Abu Janda menyampaikan argumentasinya. Awalnya saya semangat mendengarkannya. Dia berusa menskakmat koh Felix bahwa ada gambar di mana bendera merah putih di bawah bendera HTI. Kemudian membawa gambar yang mana itu di klaim sebagai Panji Rasulullah di museum Turki. Di situ saya sudah panas dingin, karena tidak ada yang tahu pasti bagaimana bendera Nabi Muhammad. Dalam riwayat, berbeda-beda Nabi Muhammad menggunakan bendera. Foto yang di bawa Abu Janda bisa saja itu bendera sahabat atau bendera Turki Usmani. Sampai akhirnya Abu Janda mengomentari Hadis Liwa dan Rayah yang memang Dhaif. Tetapi dalam ilmu mustholah al-Hadis, hadis dhaif bisa dipakai sebagai Fadhail A’mal (keutamaan amalan), sehingga HTI bisa membalikkan itu. Jika ingin menyerang bendera HTI serang secara dalil Akli, meskipun Nabi Muhammad dalam salah satu riwayat pernah membawa bendera Liwa dan Rayah bukan berarti itu bendera negara Islam, melainkan itu hanya menandakan perbedaan kaum Muslimin dan Kaum Quraisy.
 
Sampai akhirnya Mahfud MD berbicara, dan menskakmat Abu Janda dalam ilmu hadist. Pas Abu Janda berbicara ilmu hadist, saya pun keringat dingin karena blunder bagi saya. Dan benar, Pak Mahfud menasehati Abu Janda tentang ilmu hadits. Tak sampai disitu, ciri khas Mahfud ialah, mengkritik siapapun orangnya meskipun sama-sama NU. Kalau kita lihat, ini persis dengan Gus Dur. Pak Mahfud ini secara tidak langsung ialah murid Gus Dur dalam berpolitik, karena pada waktu itu Gus Dur yang menjadikan Mahfud MD sebagai mentrian pertahanan. Gaya-gaya politik Mahfud MD hampir sama seperti Gus Dur. Waktu Gus Dur menjabat sebagai presiden, Gus Dur tidak segan-segan mencopot Jusuf Kalla dari jabatannya sebagai menteri, padahal Jusuf Kalla orang NU tulen dan sangat dihormati. Kemudian Mahfud MD ketika berbicara 212 memang seakan-akan mendukung, tetapi justru beliau hanya menganggap hal itu biasa. Ini ciri khas Gus Dur, menganggap apapun permasalahan menjadi gampang. 212 memang isu politik, tetapi kita hadapi dengan santai saja, selama mereka tetap mengakui NKRI. Jika ada yang mengakui bukan NKRI itu nanti masalah lain. Gaya ini bisa di lihat waktu Gus Dur menghadapi OPM. Waktu Orde Baru, siapapun yang mengibarkan bintang kejora di Papua akan di tembak. Pendekatan semacam ini Gus Dur ubah. Ketika Wiranto pergi ke Papua, dia melihat ada bendera bintang kejora dan menelepon Gus Dur. Gus Dur malah balik bertanya, “tetapi bendera merah putih masih ada kan?” Wiranto menjawab, “Masih ada” Gus Dur dengan santai menjawab, “Anggap aja umbul-umbul” selama bendera merah putih ada, silahkan mereka kibarkan bendera bintang kejora sambil Gus Dur menerangkan makna bendera merah putih agar Papua menyadari mereka bagian dari NKRI.
 
Nah ketika membahas alumni 212 Mahfud juga membahas mengenai apa itu negara apa itu Islam. Sehingga Mahfud menskakmat koh Felix dan Eggi Sudjana mengenai negara Islam dan Khilafah. Mahfud menjelaskan bahwa Indonesia sudah menjadi negara Islam dengan Pancasila dan UUD 45. Tidak ada kata Khilafah dalam kitab fikih. Bahkan Mahfud MD menjelaskan bahwa dirinya belajar hukum Islam dari kitab “Al-Ahkam Al-Sulthoniyyah” dengan dosen Muhammadiyah dan mengatakan tidak ada kata khilafah. Dari sini bisa kita ambil kesimpulan bahwa NU dan Muhammadiyah setuju Indonesia menjadi negara dengan dasar Pancasila dan menolak Khilafah.
 
Sumber : Status Facebook Ardiansyah
Wednesday, December 6, 2017 - 13:00
Kategori Rubrik: