Anomali Pekalongan, Saat Covid 19 Tak Jadi Komoditas

ilustrasi

Oleh : Setyo Hajar Dewantoro

Seusai libur lebaran di rumah di kaki Gunung Ciremai, saya diperjalankan ke Pekalongan Jawa Tengah. Seperti biasa, selalu ada hal menarik untuk menjadi pelajaran bersama. Kali ini yang membuat saya takjub adalah fenomena kenormalan Pekalongan baik di kawasan pusat kota maupun pinggiran kota. Saat melintasi Wiradesa yang menjadi kawasan pusat batik, saya menangkap geliat masyarakat yang menandakan kenormalan: lalu lalu orang-orang baik tua maupun muda, keramaian di pertokoan, hanya minoritas yang pakai masker, tidak ada social & physical distancing.

Suasana normal makin terasa saat saya memutuskan berhenti untuk makan di satu warung soto di kawasan Sorogenen. Warung ini penuh, kami para pengunjung ya santai menikmati hidangan, tanpa masker, dan agak berdesakan. Keesokan paginya, saat saya kembali mengunjungi tempat ini dengan berjalan kaki, karena di sini memang ada pasar tradisional, suasana tampak sangat ramai. Banyak orang berjubel, dan tentu mayoritas tanpa masker. Saya perhatikan orang-orang berwajah santai menikmati kesemarakan pasar.

Malamnya, saya ke Kedungwuni di selatan Pekalongan. Sepanjang jalan menuju Kedungwuni, suasana ramai sekali. Pertokoan, warung makan, jalanan, penuh dengan orang yang menikmati malam dalam kebersamaan. . Dan saat sampai di Kedungwuni, saya jumpai suasana yang tak kalah ramai. Kota kecamatan yang menjadi pusat konfeksi ini sangat hidup, semarak, banyak orang wisata kuliner dan belanja aneka barang.

Menyaksikan itu semua, saya mau tak mau mengambil kesimpulan: di sini gak ada Corona. Corona gak sanggup menaklukkan warga Pekalongan. Padahal Pekalongan tak terlalu jauh dari Jakarta, kawasan ini menjadi perlintasan dan orang tak perlu mengurus SIKM untuk masuk daerah ini.

Lalu saya mendapatkan informasi dari teman yang tinggal di Pekalongan, suasana ramai ini terjadi sejak issue COVID menerpa. Di Pekalongan secara umum memang semuanya relatif biasa saja, geliat sosial dan ekonomi tetap laksana situasi normal. Acara yang mengumpulkan banyak orang di kediaman Habib Lutfi, tokoh kharismatik Pekalongan, juga tetap berjalan. Di Kedungwuni saat di pasar ada orang teridentifikasi positif COVID 19, keadaan sepi hanya terjadi 1 hari. Pasar tetap buka setelah itu ya ramai lagi.

Dengan gaya seperti ini, yang terjadi adalah : Tidak ada orang mati bergelimpangan karena COVID 19. (Masih percaya "corona" sangat berbahaya?) Dari sekian daerah yang saya kunjungi di masa "pandemi", ini daerah yang paling bandel. Bandel tapi membuat saya bahagia dan terinspirasi.

Pertanyaannya adalah, mengapa Pekalongan bisa seperti ini? Apakah warga Kota dan Kabupaten Pekalongan lebih kebal ketimbang warga daerah lain di Indonesia? Jelas tidak, mereka hanya lebih waras. Mereka memilih untuk tidak paranoid, tidak overestimate terjadap issue "bahaya Corona". Jangan-jangan hanya sedikit warga Pekalongan yang membaca gossip di medsos, atau berita seram di CNN, Detik, Kompas dan media lainnya.

Saya kemudian menangkap, ada dua faktor utama yang membuat Pekalongan tetap sehat ceria di saat ini.

Pertama, issue COVID ini tidak dijadikan sebagai komoditas politik maupun bisnis. Walikota maupun Bupati Pekalongan beserta jajarannya memilih untuk: (1) Tidak menjadi paranoid dan mengambil kebijakan berdasarkan ketakutannya sendiri; (2) Tidak menjadikan issue COVID sebagai panggung agar disangka sayang dan peduli rakyat, tidak ada drama untuk meraih keuntungan pribadi di tengah penderitaan rakyat. Mereka mengambil kebijakan yang wajar, tetap mengedukasi warga, menangani yang diduga sakit COVID 19, tetapi tidak meneror rakyat dengan kebijakan irasional yang melumpuhkan kehidupan rakyat.

Kedua, peran Habib Lutfi, ulama kharismatik di Pekalongan sangatlah signifikan. Ia yang membesarkan hati masyarakat. Ia yang memberi pengertian bahwa Corona ini bisa diatasi dengan kesungguhan doa dan sikap hidup yang tetap waras, tetap bahagia. Jiwa patriotik Habib Lutfi menginspirasi mayoritas orang Pekalongan untuk tidak takut COVID 19, tetap berani untuk hidup normal.

Nah, pada titik ini pasti muncul pertanyaan, apakah Pak Jokowi tidak tahu apa yang terjadi di Pekalongan? Sementara Habib Lutfi termasuk di dalam Dewan Pertimbangan Presiden? Apakah Habib Lutfi tidak pernah memberi nasihat seperti ini, "Mas Jokowi, wis kalem, biasa-biasa wae. "

Saya resapi dalam hening, bahwa sedang ada permainan cantik. Presiden Jokowi harus bersikap lebih manis di hadapan WHO. WHO yang menjadi perpanjangan tangan kelompok tersembunyi tak bisa dihadapi dengan frontal. Harus pakai gaya Solo: ngelawan dengan halus, ngeles sedikit-sedikit, yang penting ujungnya selamat. Itulah landasan di balik sikap Presiden Jokowi dengan PBB dan "new normal". Sementara, Habib Lutfi menjadi motor dari apa yang saya sebut sebagai "gerakan Indonesia banget": kurang lebih semangatnya adalah, " Kami tak takut Corona, kembalilah ke asalmu". Kita terkesan bandel, ngeyelan, tak peduli tapi selamat. Kita selamat karena kita waras dan punya keberanian, tak takluk oleh narasi seram yang penuh omong kosong.

Hasilnya, Indonesia relatif selamat. Dan akan semakin selamat jika banyak daerah mengikuti gaya Pekalongan. Ini bukan berarti kita melawan kebijakan Pak Jokowi, justru itu cara bantu beliau yang lagi bermanuver menghadapi manuver kelompok penghianat di dalam negeri dan kelompok tersembunyi yang sedang bermain di balik layar. Semakin banyak daerah yang memilih normal, semakin cepat fase transisi new normal berakhir.

Saat kita sedang berada di jalur keselamatan, AS lagi pusing. Ya wajar, itu hukum karma. Kita bantu AS jika waktunya sudah tiba.

Sumber : Status Facebook Setyo Hajar Dewantoro

Thursday, June 4, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: