Anomali Cebong Kampret

Ilustrasi

Oleh : Budi Setiawan

1. KTP, BABO DAN KECEBONG YANG RESAH

Harus diakui tagar #2019GantiPresiden menjadi pemicu hiruk pikuk pendukung pak Jokowi dan pak Prabowo. Kecebong kelojotan melihat tagar yang dibikin Partai Kaos Sablon dan berusaha mengimbanginya dengan membuat tagar tandingan #2019tetapJokowi.

Bahkan Minggu, 22 April pendukung Jokowi memproklamirkan aplikasi “Jutaan KTP Dukung Jokowi” yang menjiplak gerakan KTP Gue Untuk Ahok. Hanya saja pengumpulan KTP untuk Jokowi mendapat tentangan karena sekarang KTP menjadi alat identitas penting yang bisa disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Karena itu, saya tidak setuju dengan pengumpulan KTP seperti itu. Tidak ada relevansi KTP dengan pilihan mendukung Jokowi.

2. MENGULITI BABO
Selain KTP, saya memantau postingan kawan Birgaldo Sinaga yang “menelanjangi” Erizeli Jeli Bandoro yang kondang dengan fanpage dia “Diskusi dengan Babo.” Berbagai komen yang muncul, sosok Babo dituding sebagai penipu. Mulai dari kebohongan dia adalah trilyuner punya 38 perusahaan tapi tidak jelas perusahaan itu namanya apa saja.

Babo juga dituding menggelapkan dana sumbangan untuk panti asuhan di Lampung yang jumlahnya mencapai 200 juta. Belum lagi usaha menggalang dana lewat koperasi Fintec yang konon kabarnya serba gelap karena Babo mengelak menjelaskan detil koperasi itu.

Selain itu Babo dituding sebagai orang PKS dan peserta 212 yang menyusup ke barisan kecebong.

Tidak hanya itu, Babo dituding menggiring opini agar Wapres Jokowi adalah Prabowo atau Agus Yudhoyono. Memang dari artikelnya, ada terbersit penggiringan opini kearah sana. Babo mencoba bergerak ketengah dan muncul spekulasi dia cari duit disitu.

Pergeseran ini terpantau oleh kecebong apalagi artikel Babo yang saya yakin dibuat oleh satu tim selama ini mendukung Jokowi dan Ahok. Babo sendiri pernah diundang ke Istana bertemu Jokowi.

3.BAHAYA
Kontroversi pengumpulan KTP dan Babo yang dikecam bagi saya adalah anomali di kubu kecebong menghadapi gebrakan PKS lewat 2019gantipresiden. Ada keresahan yang memuncak memastikan Jokowi terpilih lagi namun tidak tahu bagaimana caranya.

Penggalangan massa yang dipaksakan akan kontra-produktif untuk meraih massa mengambang yang harusnya menjadi focus kecebong untuk memastikan Jokowi terpilih kembali.

Ini yang belum nampak sampai sekarang dan bagi saya anomali ini berbahaya jika berketerusan karena antar kecebong saling berkonfik dan Jokowi kalah lewat cara yang sama seperti Ahok .

4. KIVLAN ZEIN DAN KAMPRETERS YANG GEMETER
Suasana dikubu kampret juga sama. Tagar 2019gantipresiden memicu kontroversi diantara mereka sendiri. Bombardir berita hoax pecah berantakan tidak sampai sasaran karena ketika ditanya siapa calon presidennya, para kampret bak makan garam, belepotan sambil ngeles sana sini.

Kelompok 212pun juga kebingungan karena manuver partai-partai disekitar Prabowo yang tidak jelas, apakah mendukung sang jenderal atau calon lain. Nalar politik mereka tidak nyampe untuk menyaring arah politik yang tepat karena terbiasa menjadi budak para pimpinannya.

5.SYARWAN HAMID YANG MARAH
Para kampretos kini tersentak oleh manuver Kivlan Zein yang oleh jenderal Syarwan Hamid dikatakan memindahkan dukungannya dari Prabowo ke Gatot Nurmantyo.

Syarwan Hamid yang diehardnya Prabowo marah besar diartikelnya.

Dalam postingannya berjudul *MENGUNGKAP SKENARIO GATOT NYAPRES*, Syarwan Hamid menulis :

“…Terlebih jika di kaitkan dengan tulisan Kivlan Z yang secara telanjang menyampaikan sikapnya (unek2nya). Yang bersangkutan datang ke Posko kami dan dgn bersemangat berujar persis seperti di tulis di Wa yang di buatnya. Saya terperangah mendengar KZ menyampaikan bahwa dia tdk lagi mebdukung Prabowo dgn alasan bla, bla, bla.... yang konyol dan sangat pribadi.

Kami di posko menganggap pernyataan itu cendrung memfitnah.Kelanjutan dari pernyataannya yang "luar biasa", yakni mendukung Gatot N, karena a.l. uangnya banyak yg didapat dari Tomy W dan beberapa Taipan lainnya. Jika tak mendengar sendiri, pasti Saya ragukan kebenaran pernyataan itu.

Masya Allah, begitu hebatkan tata nilai yg menjadi ukuran mengusung seorang Presiden.??? Persetan sikap yg bersangkutan mendukung GB, tapi pantaskah adinda Kivlan Z yang namanya dikenal baik, berujar naif seperti itu? Saya dan teman2 di Posko, tak bergeming dgn penilaian itu.

Kami semua mendukung Prabowo dgn kesadaran utuh akan kelebihan dan kekurangannya. Kita memang bukan cari "malaekat", tetapi mencari "Manusia" yang dinilai mampu dan berani berjibaku melawan gelombang ancaman yg sedang dan akan terus melanda Negri ini. “

Demikian Syarwan Hamid yang postingan lengkapnya dicari dengan kata kunci judul postingannya di Facebook.

Nampak jelas di kubu kampretos mengalami keresahan yang juga dirasakan kubu kecebong. Gerombolan 212 nampak jelas terbelah suaranya. Sama seperti kecebong, para kampretos juga sibuk berkonflik di kalangannya sendiri. Tapi melupakan massa mengambang yang belum menentukan pilihan.

6. MUNDUR SEJENAK
Agaknya dua kubu mesti mundur sedikit kebelakang. Menarik nafas agar keresahan yang menyesakkan dada bisa berkurang. Kemudian mengambil langkah strategis untuk memenangkan para jagonya.

Acuannya menurut saya untuk memenangkan atau mengalahkan Jokowi hanya pada satu fakta yakni :

Secara matematika politik, Jokowi punya peluang besar sebagai petahana karena sama seperti SBY, dia punya pesona untuk melenggang meraih kursi kepresidenan.

Manfaatkan atau hancurkan pesona itu dengan menyakinkan massa mengambang bahwa tindakan itu memang perlu dan penting.

Sumber : Status Facebook Budi Setiawan

Tuesday, April 24, 2018 - 15:30
Kategori Rubrik: