Anjrit

Oleh: Joni Ariadinata

 
Mungkin hanya di Indonesia, wabah penyakit masih tega dijadikan peluang politik.  Bukannya bergandeng tangan saling mendukung untuk sama-sama melawan, tapi yang terjadi adalah saling menyalahkan. Rakyat yang terbelah-pecah gara-gara pilpres "telek lencong" yang membenturkan manusia Indonesia ke dalam dua kubu (kubu setan dan kubu malaikat, ---buah karya petualang politik bernama Amien Rais), tampaknya kini kembali menguat. Maka apa pun yang dibuat oleh pemerintah dalam menangani covid-19, selalu salah. 
 
Kenapa yang dipilih social distancing, kenapa tidak lockdown? Apa sih sulitnya lockdown, demi menyelamatkan jutaan nyawa? Tuh lihat, kurs rupiah terus anjlok tak bisa bangkit lagi karena presidennya plonga-plongo. Apa? Social distancing skala besar... apa itu... darurat sipil... darurat sipil.... itu kan menyalahi aturan, itu berbau diktator. Tuh kan, rakyat dilarang mudik, sudah mulai melanggar HAM. Apa? Utang Indonesia, lihat, membengkak jadi dua kali lipat.... astaga.... tujuh turunan tak mungkin bisa dibayar... Rakyat suruh tinggal di rumah, mau makan apa.... mbok mikir..... heeee?.... dikasih stimulus ekonomi keringanan pajak jaring pengaman sosial.... heeee?... dari ngutang lagiiiiiii... mau dikemanakan negara iniiiii....? Hancur.... hancur..... Indonesia hancur total di tangan Jokowi.
 
 
Kenapa sih, kalian tidak mau, untuk kali ini saja (demi kemanusiaan), bergandeng tangan bersatu mendukung kebijakan pemerintah? Tahukah kalian, bahwa apa pun pilihan yang diputuskan sebuah pemerintahan (di seluruh dunia) dalam menangani wabah corona, semuanya memiliki dua resiko. Resiko gagal dan resiko berhasil. Italia locdown tapi gagal. Korea Selatan tidak lockdown tapi berhasil. India lockdown dan hasilnya kekacauan. Amerika, Perancis, Spanyol, ---tiga negara "maju" itu kini menyusul Italia, kelimpungan sempoyongan.
 
Mengurus Indonesia yang sangat luas wilayahnya dan dibatasi ribuan pulau, itu tidak gampang. Membutuhkan dukungan semua orang untuk bersatu, bergandeng tangan, saling membantu dan menyetujui apa pun keputusan yang diambil pemerintah. Wabah ini darurat. Wabah ini menyebar begitu cepat, ---dan kalian masih saja bertengkar soal kebijakan?
 
Anjrit. Dasar manusia Indonesia memang anjrit. Politik, politik, politik, di kepalanya cuman ada politik. Bahkan wabah pun tega dijual-jual untuk kepentingan politik.
 
Kalian memang sungguh-sungguh anjrit.
 
(Sumber: Facebook Joni Ariadinata)
Saturday, April 4, 2020 - 16:00
Kategori Rubrik: