Anjay

ilustrasi

Oleh : Ramadhan Syukur

ADA sebuah penelitian (lupa di jurnal mana) bahwa orang yang bisa mengeluarkan kalimat makian terbanyak dalam satu menit, cenderung punya IQ yang lebih tinggi ketimbang orang yang punya kosakata makian lebih sedikit. Begitu kira-kira bunyinya.

Penelitian ini mengingatkan gue pada makian Kasino Warkop yang dilontarkan dalam satu tarikan napas gak kurang dari satu menit. "Dasar monyet bau, muka gepeng, kadal buntung, kecoa tengik, babi ngepet, dinosaurus, brontosaurus, kirik..!!!” Ada yang masih inget?

Dari sejak kecil hingga dewasa, gue sudah terbiasa mendengar orang memaki. Di sekolah, di kampus, di kantor, di jalan, atau di tempat keramaian. Gue sendiri so pasti pernah ketularan memaki.

Makian dari bahasa daerah asal gue (Minang sono) banyak banget. Belum dari bahasa daerah lain. Meski gue gak tahu artinya, tapi gue tahu orang itu sedang memaki. Bedanya kalo dilontarkan ke gue, gue gak bakal tersinggung. Karena gue gak ngerti artinya.

Meski akhirnya gue tahu artinya, silakan maki gue dengan kata makian kayak: huajinguk, jingan, juancok, uasu, pap ma kah, pukimak, kampang, atau telaso. Gue paling cuma cengar cengir.

Kecuali elo memaki gue "pantek wa ang", gue jelas gak terima. Terutama kalo yang memaki orang dari asal daerah yang sama dengan gue. Lain hal kalo berbeda asal, apalagi yang ngucapin temen baik gue, gue anggap bercanda.

Dan di Indonesia memang banyak sekali variasi kata makian. Dari Sabang sampai Merauke punya kata makian masing-masing. Sastrawan Ajip Rosidi pernah meneliti dan kemudian mengklasifikasikannya jadi enam bagian: kata-kata yang berhubungan yang dengan agama, kelamin, nama bagian tubuh, fungsi bagian tubuh, yang bermakna kurang lebih sama dengan kata bodoh, dan kata-kata yang berupa nama-nama binatang.

Salah satu kata makaian yang paling populer menurut gue, "jancuk". Kata makian asal Jawa Timur ini gue gak tahu arti bakunya. Tapi kira-kira artinya keparat, brengsek, atau ungkapan marahlah.

Tapi seiring perjalanan waktu, dalam dunia pergaulan kata "jancuk" mengalami penyederhanaan bentuk dan arti. Anak milenial meringkasnya jadi bahasa akrab pergaulan jadi "coeg".

Sama seperti temen gue monolog Butet yang dalam setiap statusnya selalu ditutup dengan makian kocak dan bersahabat "uwasuwok" yang diplesetkan dari kosa kata kasar bahasa Jawa, "asu" (anjing).

Dalam bahasa Indonesia, makian "anjing" boleh dibilang yang terpopuler untuk mengungkapkan kemarahan atau kejengkelan.

Kenapa anjing? Konon sejarahnya, anjing sebagai umpatan digunakan pertama kali oleh orang Belanda yang menyamakan kaum pribumi dengan anjing. Di tempat-tempat keramaian yang hanya untuk kalangan Belanda, Eropa, dan Jepang, selalu ada tulisan Verboden voor Inlanders en Honden (Pribumi dan Anjing Dilarang Masuk). Para politikus dan rakyat Belanda pun mengecap Bung Karno sebagai "anjing piaraan Jepang". Sementara kaum pergerakan memaki orang-orang yang bekerja sama dengan Belanda sebagai "anjing Belanda".

Setelah makian anjing menjalar turun temurun, sampailah ke era generasi milenial. Makian kasar ini mereka perhalus menjadi "anying", "anjrit", dan yang lagi populer "anjay".

Di sebuah mall gue pernah denger anak remaja heboh ngobrol sambil tertawa-tawa yang di setiap akhir kalimatnya disebutlah kata anjrit atau anjay itu. Bukan untuk memaki siapa-siapa. Cuma kesal saja sama kebodohan dirinya sendiri.

Itulah uniknya bahasa, karena berjalan selalu dinamis. Kadang yang dulu baku sekarang jadi gak baku. Dulu kasar sekarang jadi gak kasar lagi. Itu semua tergantung penuturnya karena makna gak melekat pada kata namun pemikiran penutur.

Eh, kemarin gue baca Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) meminta penggunaan kata 'anjay' dihentikan sekarang juga. Komnas PA ini menilai (alias mengancam) kata 'anjay' yang sedang populer dipakai anak-anak bisa berpotensi dipidana.

Binun gue. Ini Komnas PA kebanyakan kerjaan apa kurang kerjaan ya. Mbok ya konsultasi dulu sama temen-temen gue yang ahli di Fakultas Ilmu Budaya UI sana. Sejauh mana penggunaan sebuah kata bisa menjerat seseorang ke pasal pidana. Apalagi kata itu sudah mengalami ameliorasi.

Tahu apa itu ameliorasi dan peliorasi, Pak? Makanya nanya. Jangan main pidana-pidana aja. Itu cuma satu lho Pak. Gimana kalo ada yang teriak maki-maki kayak Kasino, "Dasar monyet bau, muka gepeng, kadal buntung, kecoa tengik, babi ngepet, dinosaurus, brontosaurus, kirik..!!!" Layak dihukum mati kali yak? Itu baru anjay, coeg!

Sumber : Status Facebook Ramadhan Syukur

Tuesday, September 8, 2020 - 19:15
Kategori Rubrik: