Anies, Tommy dan Zig-Zag Politik Keluarga Cendana

Oleh : Zuliansyah

Keluarga Cendana mulai bangkit kembali dengan memasuki gelanggang politik. Mereka menggunakan isu-isu romantisme Orde Baru, lobi politik untuk gelar kepahlawanan (daripada) Soeharto, dan memainkan jaringan kekuasaan serta modal kekayaan yang selama ini ditimbun dari uang rakyat.

Manuver politik keluarga Cendana sangat terasa pada Pilgub DKI 2017 ini. Gerakan-gerakan politik Cendana, melalui Tommy Soeharto, Tutut Soeharto dan Titiek Soeharto yang membangun aliansi dengan kelompok Islam dan front politik dari kelompok Prabowo Subianto, yang merupakan (mantan) menantu Soeharto.

Zig-zag politik Keluarga Cendana sangat terasa dengan mengambil momentum Pilkada DKI untuk panggung politik mereka. Tommy dan Titiek Soeharto membangun kedekatan dengan pasangan calon Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Pasangan calon ini menggabungkan kekuatan massa dari Islam garis keras (FPI) dan kekuatan Orde Baru. Sungguh mengerikan.

Kedekatan Anies-Sandi dengan Keluarga Cendana mulai mengemuka sejak Februari 2017 lalu. Pasangan calon ini, bertemu dengan Siti Hediyati Hariyadi (Titik Soeharto), yang kini menjadi anggota DPR-RI dari Partai Golkar. Pertemuan berlangsung pada Rabu (22/2) di kediaman Titiek, di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Pada pertemuan ini, hadir pula Prabowo Subianto, mantan suami Titiek yang kini menjabat sebagai Ketua Umum Partai Gerindra, partai pengusung utama Anies-Sandi.

Dukungan ini, jelas tampak sebagai keberpihakan keluarga Cendana dengan kelompok Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Namun, paslon ini ngeles, bahwa dukungan bersifat pribadi, bukan atas nama rezim Orde Baru. “Setahu saya (dukungan) pribadi saja, bukan dari keluarga Cendana. Bagi kami dukungan dari setiap warga negara itu penting dan amanah. Karena itu, kami akan pegang sebaik-baiknya,” ungkap Anies, seperti dikutip Kumparan (12/3).

Pada Sabtu (11/3), diselenggarakan pengajian di Masjid at-Tien. Pengajian ini, diselenggarakan untuk memperingati Supersemar dan Haul Soeharto. Pada pengajian ini, hadir Imam Besar FPI, Ustadz Rizieq Syihab, Arifin Ilham, Prabowo Subianto, dan barisan keluarga Cendana.

Narasi Anies-Tommy

Tommy Soeharto sepertinya sedang menata langkah menuju kekuasaan. Ia sedang memainkan bidak-bidak catur dalam panggung politiknya, menggunakan kekuasaan dan infrastruktur keuangan yang dimiliki jaringan Keluarga Cendana. Manuver Tommy harus dibaca sebagai langkah politik untuk menyusup ke panggung politik. Dan, Pilkada DKI Jakarta menjadi test-case yang penting untuk menata langkah ini.

Isu-isu yang dimainkan di ruang publik maupun media sosial untuk mengenang Soeharto, sangat kencang. Kampanye bertajuk “Piye Kabare, Enak Zamanku to?” merupakan upaya untuk membangkitkan romantisme Orde Baru terhadap warga negeri ini. Upaya mengenang Orde Baru ini, menjadi bagian untuk memainkan

Tommy Soeharto pernah menjadi aktor kriminal, karena pembunuhan terhadap Ketua Muda Bidang Hukum Pidana Mahkamah Agung (MA), Syafiuddin Kartasasmita (60) pada 2001. Pada waktu itu, korban diduga dibunuh karena menjatuhkan vonis hukuman penjara 18 bulan serta denda 30 miliar kepada Tommy yang dianggap bersalah, karena kasus tukar guling PT Goro Batara Sakti (GBS) dan Bulog. Pada waktu itu, Tommy kabur ketika hendak dijebloskan ke tahanan.

Pembunuh Syafiuddin Kartasasmita memang bukan dari tangan Tommy, namun ia sebagai otak di balik peristiwa keji ini. Dua pembunuh bayaran menghabisi nyawa Kartasasmita. Tim pelacak dari Polisi, yang dikenal sebagai Tim Kobra bergerak dan bekerja keras untuk menangani kasus ini. Akhirnya, Tommy tertangkap.

Pada waktu itu, dua pembunuh bayaran yang menjadi anak buah Tommy dihukum seumur hidup. Sementara, anak mantan Presiden Soeharto ini divonis 15 tahun penjara. Kemudian, Mahkamah Agung memutuskan pengurangan hukuman untuk Tommy menjadi 10 tahun. Singkatnya, dengan beberapa kali keringanan hukuman, Tommy hanya menjalani masa tahanan selama 5 tahun saja.

Jaringan gelap dan kekerasan Tommy sudah terjadi sejak ia masih muda. Ia dikenal sebagai putra Soeharto yang paling flamboyan, dengan beragam sepak terjang di dunia bisnis, preman dan kekuasaan. Pada 1980an, ia diduga menggunakan tentara untuk memaksa sejumlah pemilik tanah di Nusa Dua serta Pantai Dreamland Bali untuk menjual tanah dengan harga murah. Intimidasi dan ancaman kekerasan dari aparat militer yang digunakan Tommy untuk menekan rakyat kecil.

Karena kelakuan ini, serta pola bisnisnya yang makin tidak terkontrol, Benny Moerdani pernah mengingatkan presiden Soeharto untuk membatasi anak-anaknya. Benny merasa, tingkah polah anak-anak presiden Soeharto akan berbahaya bagi Orde Baru, legitimasi presiden dan menyengsarakan rakyat. Di luar dugaan, Soeharto malah menyingkirkan Benny karena kritiknya terhadap anak-anaknya yang dibela oleh Bu Tien.

Kita perlu jeli memahami relasi kuasa di Pilkada DKI 2017 ini, yang menjadi titik tolak politik Indonesia masa depan. Jangan sampai, Pilkada hanya menjadi panggung politik dari Keluarga Cendana, yang ingin memainkan bidak catur dalam politik masa kini. **

Sumber : qureta

Saturday, March 18, 2017 - 14:00
Kategori Rubrik: