Anies Memang Rasis

ilustrasi

Oleh: Saiful Huda Ems.

Saat Anies menuai banyak kritik Netizen soal tidak efektifnya pembangunan Bambu Getah Getih, serta mark up dana pembiayaanya yang sangat menyolok, Anies tiba-tiba memberikan pernyataan mengejutkan:"jika pembangunan BAMBU GETAH GETIH itu dibuat dari besi, maka besinya akan dibeli dari Tiongkok, sedangkan kalau dari Bambu, Bambunya akan dibeli dari dan menguntungkan orang-orang kampung". Sepintas pernyataan Anies itu merupakan hal yang cukup logis dan terkesan pemihakannya pada rakyat kecil yang hidup di kampung, namun jika hal itu kita renungkan lebih dalam, ada suatu pesan rasisme politik dalam pernyataan Anies.

Indonesia memiliki segudang pabrik besi dan baja, meski saya pernah mendengar ada sebagian besar pengusaha Indonesia mengimport besi dari luar negeri, setelah pabrik di negara tsb. mendaur ulang besi bekas dari Indonesia. Namun itu tidak berarti Indonesia tidak mampu memproduksi besi dari olahan pabriknya sendiri. Bahan baku besi di Indonesia sangat banyak tersedia, karena itu terdengar janggal sekali ketika Anies menyatakan kalau Bambu Getah Getih terbuat dari besi, besinya akan import dari Tiongkok. Sungguh ini manuver politik rasisnya Anies yang ia kemas dengan narasi politik yang terdengar sederhana dan lebih terkesan merakyat. Seolah-olah segala persoalan yang menjurus pada dirinya langsung ia tubrukkan dengan Cina, komunis, kafir dlsb.

Kebusukan politik Anies yang dibungkus dengan kesantunan kemasan bahasa seperti itu akan terus menerus ia pertahankan. Dan dengan terus menerusnya Anies mempertahankan narasi-narasi SARA atau rasisnya yang seperti itu, ia berusaha menutupi tumpulnya gagasan perubahan yang logis dan realistis, yang dapat menjawab tantangan berbagai persoalan di DKI Jakarta. Selanjutnya Anies akan terus mengembangkannya menjadi gerakan politik rasis yang berskala nasional, yang ia harapkan hal itu akan menjadi "tabungan" politiknya untuk mencapai tampuk kekuasaan, yakni menjadi RI I di tahun 2024.

Pada masyarakat yang masih belum merata tingkat kematangan beragama dan berpolitiknya seperti masyarakat Indonesia ini, --karena baru di zaman Pemerintahan Gus Dur, Megawati dan Jokowi kran-kran keterbukaan agama itu dibuka--, strategi politik Anies yang tidak beradab seperti itu nampaknya memang cukup lumayan efektif bagi politisi-politisi pecundang seperti dirinya, terbukti ketika ia memenangkan PILKADA DKI Jakarta beberapa tahun lalu dengan strategi politiknya yang sama: membenturkan masyarakat Islam dengan Cina, Komunisme, kafir dlsb.

Cina atau Tiongkok memang merupakan nama suatu negara diluar Indonesia, membenturkan masyarakat Islam Indonesia dengan Cina bisa jadi bukanlah suatu masalah, ketika jika memang ada hal yang harus dikritisi oleh Indonesia terhadap negara Cina. Akan tetapi jika kata Cina atau Tiongkok sudah keluar dari mulut seorang Anies, tentulah semua orang akan berpikir berkali-kali lipat untuk menafsirkannya, dan rata-rata akan berkesimpulan bahwa Cina yang dilontarkan Anies bermaksud menyikut warga keturunan Cina di Indonesia. Kenapa hal itu bisa terjadi? Karena Anies adalah jawaranya persilatan lidah politisi kadal di Indonesia. Ia kerap bermain-main dengan kata-kata, dan hampir seluruh kata-katanya beraromakan rasialisme atau SARA. Kita SST (Sama-sama Tau) bukan?...(SHE).

Sumber : Status Facebook Saiful Huda Ems (SHE). Advokat dan penulis.

Sunday, July 21, 2019 - 14:00
Kategori Rubrik: