Anies Hanya Bermodal Kata-kata

Oleh : Septa Nuril Fahmi

Tidak ada sedikitpun dari seorang Anies Baswedan yang menggambarkan ia adalah seorang eksekutor handal. Justru, ia kerapkali terlihat seperti seorang motivator yang sangat pandai menyihir para pendengar dengan kata-kata indahnya.

Memang sangat disayangkan, jika seorang calon pemimpin hanya bermodalkan kata-kata tanpa dibarengi dengan jiwa pekerja dan rekam jejak yang bagus. Warga Jakarta yang terbukti cukup rasional, tentu dalam memilih pemimpin mempunyai banyak pertimbangan. Karena pemimpin tersebut akan menentukan arah Jakarta 5 tahun ke depan.

Warga Jakarta hanya butuh sosok pemimpin yang bekerja secara nyata dan mampu memberikan hasil atas apa yang dikerjakan. Sedangkan harapan itu terwujud, jika calon pemimpin mempunyai pengalaman dan tahu permasalahan yang sedang dihadapi Jakarta, seperti kemacetan, banjir, pendudukan, pekerjaan, dan permasalahan lainnya.

Rekam Jejak

Anies merupakan mantan Rektor Universitas Paramadina dan Menteri Pendidikan dan Budaya (Mendikbud).  Namun, Anies tidak mempunyai pengalaman sebagai kepala daerah. Bahkan, semasa Anies menjadi Mendikbud , banyak program prioritas yang  tidak mampu dijalankannya dengan baik.

Salah satu program prioritas Presiden Jokowi yang tak mampu dijalankan dengan baik oleh Anies adalah Kartu Indonesia Pintar (KIP). Pendistribusian KIP oleh Kementerian Pendidikan dan Budaya (Kemendikbud) tidak merata.

Padahal, Anies sudah bekerja selama 20 Bulan dan pendistribusian KIP terbilang mandeg. Hal ini disebabkan Data Pokok Pendidikan (Dapodik) yang tidak mendetail, seperti siswa tergolong mampu atau tidak. Ditambah kemalasan Kemenndikbud dalam mencari data sehingga pendistribusian KIP juga ikut terganjal. Di samping itu, Anies tidak sesuai ekspektasi Presiden Jokowi yang menginginkan bekerja secara cepat.

Penilaian buruk atas kinerja Anies selama menjadi Mendikbud juga diutaraka oleh Direktur Lembaga Pemantau Akuntabilitas Pendidikan (LPAP), Abi Rekso. Menurutnya, key performance index (KPI) Anies tampak buruk saat masa transisi. KPI diukur berdasarkan indikator kompetensi guru, indeks prestasi sekolah dan angka perkelahian siswa.

Selain itu, Anies saat menjadi Mendikbud hanya mementingkan program-program yang bersifat populis saja. Anies menganjurkan para orangtua untuk mengantarkan anak-anaknya saat pertama kali masuk sekolah. Ketika pada Hari Film Nasional tahun 2016, Anies memberikan sambutan yang juga menganjurkan menggunakan pakaian adat pada hari tertentu untuk menunjukkan keberagaman.

Program-program Anies ketika menjadi Mendikbud yang hanya sebatas anjuran semakin memperlihatkannya hanya bermodal kata-kata saja. Seharusnya, Anies tidak hanya melakukan program-program yang bersifat seremonial saja, melainkan program-program yang menyentuh isi dari pembangunan pendidikan nasional, seperti riset, teknologi di pendidikan, profesionalisme tenaga pendidik, dan sebagainya.

Balada Anies

Sejak pertama kali dalam pencalonanya sebaga Cagub Jakarta 2017, Anies hanya sibuk menyerang sang petahana, Ahok. Dengan dibalut kesantunan dalam bertutur kata, Anies sebenarnya penuh dengan kenyinyiran.

Hal ini terlihat dari beberapa programnya untuk 5 tahun ke depan dan dalam beberapa debat yang diadakan KPUD Jakarta. Pertama, ketika Anies yang terlihat jelas mengatakan akan membangun rumah untuk warga Jakarta dengan down payment (DP) 0% yang kemudian ia ganti dengan DP Rp.0.

Dengan keahliannya berkata-kata, Anies mencoba ngeles dengan mengatakan DP Rp.0, namun harus menabungnya terlebih dahulu selama 6 bulan dengan kisaran Rp. 2,3 Juta perbulan. Hal ini sangat tidak masuk akal, jika memang program tersebut diperuntukkan untuk warga tidak mampu.

Terlebih, Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 18/16/PBI/2016 yang menyatakan tidak diperbolehkannya Program Rumah dengan DP Rp. 0. Menurut Gubernur Bank Indoneisa, Agus Martowardojo uang muka yang harus dibayarkan dari jenis rumah yang diakuisisi adalah minimal 15 persen. Jika tidak, maka akan mendapatkan teguran keras dari otoritas.

Kedua, program tentang relokasi warga Bukit Duri oleh Ahok yang sangat ditentang Anies. Padahal kita tahu, Ahok tidak hanya menggusur begitu saja, melainkan hanya merelokasi ke tempat yang lebih layak dan nyaman serta sangat manusiawi.

Karena, ancaman banjir selalu menerjang kawasan Bukit Duri setiap tahunnta dan sangat mengancam keselamatan warga di daerah tersebut. Satu-satunya cara hanyalah penyelesaian program normalisasi sungai yang baru menyentuh 40%, karena terganjal dengan penolakan warga yang terkena dampak penggususran.

Awalnya, Anies mengunjungi Kawasan Bukit Duri yang memang tempat tersebut sudah tidak bisa ditata lagi menurutnya. Hal menjadi berubah, ketika warga Bukit Duri memenangi gugatan di PTUN. Seketika langsung, Anies merubah sikap dengan mengatakan tidak akan menggusur tempat tersebut.

Ketiga, selama debat pada putaran pertama Anies selalu menyinyir yang selama ini dilakukan petahana. Menurutnya, soal data angka partisipasi murni (APM) Jakarta Utara yang dibilang di bawah Biak dan peringkat kementerian yang dia pimpin diklaim peringkat 9 dari 22 kementerian.

Demi meyakinkan pemilih, Anies mencoba menggunakan data untuk menjatuhkan lawan-lawannya dan mengangkat citra dirinya. Padahal APM Indonesia 2015/2016 DKI Jakarta 67,91%, Jakarta Utara 51,79%, sedangkan Biak itu 51,49%.

Klaim  Anies atas peringkat 9 Kemendikbud dari 22 kementerian sangat membohongi publik. Data yang dikeluarkan Ombudsman Republik Indonesia menyebut Kemendikbud berada di peringkat 22 dari 22 kementerian.

Anies yang berlatarbelakang sebagai dosen memang tak membuat heran masyarakat bahwa ia sangat pandai beretorika. Setiap kali berbicara di depan umum, seringkali menunjukkan kata-kata motivasi untuk menggugah hati para pendengarnya.

Menurut Fucault, setiap manusia berambisi untuk menjadi pemimpin. Untuk mencapai ambisi tersebut, manusia seringkali menggunakan media bahasa untuk mendapatkan legitimasi terhadap dirinya. Apa yang dikatakan Fucault sangat pas sekali dalam menggambarkan diri seorang Anies.

Media bahasa yang selama ini Anies gunakan hanya untuk menyihir para pendengar. Dengan kata-kata indah seringkali para pendengar dibuat terkagum-kagum yang mensinyalir bahwa mereka telah paham dan tersihir.

Dengan demikian, sosok Anies yang pandai berkata-kata sangat cocok sekali menjadikannya sebagai seorang motivator bukan sebagai gubernur. Karena seorang gubernur bukan saja pandai berbicara, melainkan harus mempunyai program yang kongkret dan menjadi eksekutor untuk menyelesaikan segala permasalahan di Jakarta. **

Sumber : qureta

Friday, March 24, 2017 - 11:30
Kategori Rubrik: