Angelo Wake Kako

Oleh: Vika Klaretha Dyah Sasanti

"Angelius Wake Kako (Angelo), Senator muda asal Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), Angelius Wake Kako, berfoto bersama kedua orangtuanya di halaman gedung MPR RI. Selasa, 01/10."

Demikian tulisan yang saya baca di beberapa postingan teman hari ini. Saya sepakat dengan rata-rata pendapat mereka tentang foto bersahaja ini. Terasa lebih bermartabat, lebih mengharukan daripada foto legislator lain dengan harem-haremnya. Apalagi kemudian otak iseng saya berpikir, karena semua sistem kependudukan sekaran berbasis IT, dan setahu saya sistem ini hanya memungkinkan seorang 'single' menikah. Bila tidak single, sistem tak dapat memproses, dan ini artinya andai menikah, bukanlah pernikahan legal yang diakui negara. Entahlah...

 

OK saya tak akan berlarut-larut membahas hal ini. Saya hanya akan menceritakan obrolan saya dan sahabat beberapa hari sebelumnya. Tentang betapa hotmatnya orang Indonesia Timur pada ibunya. Ibu selalu menjadi prioritas dalam hidup mereka, kendali untuk selalu berusaha menjadi orang baik.

Kami berdua kemudian mengingat banyak kisah lucu mengharukan tentang tokoh 'mama'. Favorit kami berdua selalu kisah tentang seorang galak, ditakuti siapapun, tetapi mendadak jadi penakut dan penurut bila ada panggilan dari Mama. Sio Mamae, kata teman, mengingat lagu daerah terkenal. "Jaga beta pung mamae....." tambah saya bersenandung haru.

Saya terungat Uskup Bello. Dia berkata, di manapun dia berada, dia selalu merindukan sayur 'raba-raba' masakan ibunya. Baginya itulah masakan terlezat di dunua. Di masa kecil, dengan segala keterbatasan, ibu Uskup Bello ajan pergi ke halaman menetik aneka tanaman yang bisa dimasak untuk sayur. Proses memetik tanaman di pekarangan itulah yang disebut 'raba-raba'. Setelah dimasak, jadilah masakan istimewa bagi keluarga. Kisah ini mengesan sekali untuk saya. Bentuk ketahanan pangan juga ketahanan budaya yang dilakukan peremouan. Tanpa banyak berwacana.

Kisah lain tentang teman saya yang pergi ke barber pertama kali setelah merantau jauh dari ibunya. Sebelum itu sang 'Mama' yang selalu memotong rambutnya. Meski hanya dengan model begitu-begitu saja, ia merasa dengan model rambut guntingan mamanya itulah ia merasa paling ganteng. Saya melihat kerinduan dan cintanya yang dalam pada sang Mama. Seperti juga saat ia sering berkata, "Aduh Mama piarae...." saat bersedih.

Teman yang lain menceritakan tugasnya di masa kecil untuk pergi ke pasar. Ibunya akan membekalinya dengan catatan belanja yang panjang. Membuatnya pontang-panting ke seluruh penjuru pasar mencari pesanan ibunya. Dan sesampainya di rumah, ibunya akan meletakkan aneka makanan yang sulit didapat itu dalam satu piring dan menyuruhnya makan. Teman saya itu biasanya geli sekaligus jengkel, "Oh Mama, kali tau ini kue cuma buat aku. Mana mau aku serepot tadi keliling pasar."

Saya dan sahabat pun saling tertawa mengingat cerita-cerita tersebut. "Tetapi bukan cuma tradisi di Indonesia Timur saja penghormatan pada Mama. Ingat cerita Naga Bonar? Bahkan sesudah jadi Jendral pun si Mamak tetap ditakuti Naga Bonar. Dan si Emak tetap menganggap Naga Bonar cuma anaknya yang pencopet dan bukan pejuang.... "

Apapun itu, kata saya, saya suka kisah penghormatan pada Ibu. Bukan hanya karena itu budi pekerti yang baik, tetapi itu penghormatan pada perempuan. Di negeri yang terkadang memandang perempuan hantalah perhiasan, kisah penghormatan pada Ibu itu bisa jadi langkah awal untuk pengajaran kesetaraan gender.

Yup, kata teman. "Makanya aku kurang suka legenda soal Ibu yang mengutuk anaknya. Entah jadi pohon, batu atau apapun. Mengapa tidak mengedukasi anaknya saja, betapapun lalimnya si anak."

Saya sesikit tersentak pada kebenaran kata-kata teman saya. Legenda bagaimanapun refleksi keadaan setempat, kata saya. Mungkin memang berhadapan dengan masyarakat yang terlalu keras kepala, sehingga perlu sedikit ditakut-takuti.

Bisa jadi begitu, kata teman. Namun apa salahnya kebiasaan dan rantai kekerasan itu diputus. Bahkan bila itu cuma berbentuk kisah dongeng. Ah tapi patriarki memang budaya yang terlalu kuat untuk direformasi. Buktinya ya foto legislatir ngantukan dan harem-haremnya itu....

Saya mengangguk.

 

(Sumber: Facebook Vika Klaretha DD)

Friday, October 4, 2019 - 17:30
Kategori Rubrik: