Aneh Jika Anda Menempatkan Felix Siaw dan Irene Handoko Sebagai Dai

Ilustrasi

Oleh : Lantip Wicaksono

Sebetulnya banyak dai kekinian yang pantas dipertanyakan kapasitas keagamannya namun anehnya justru malah diikuti atau selalu benar pendapatnya. Kita pernah tahu kepleset lidahnya Tengku Wisnu di televisi atau Nani Handayani, Ketua Badan Perempuan dan Ketahanan Keluarga DPP PKS yang salah dalam menulis ayat Al Qur’an. Padahal keduanya melakukan ceramah di televisi. Ini jelas membahayakan agama Islam. Diakui atau tidak, ada sekelompok organisasi yang selalu mengklaim merekalah yang memahami Islam paling benar, bahkan menuduh pihak lain keliru dalam memahami Islam.

Media social membantu mereka jadi tumbuh subur dan menjamur. Akibatnya orang-orang yang tidak kompeten dalam agama terlihat mumpuni padahal levelnya masih sangat jauh bahkan layak untuk berdakwah. Memegang hadits sampaikan kebenaran walau satu ayat tidak difahami dengan baik. Bagaimana mereka bisa berdakwah, sekelas Nani Handayani yang menjabat DPP PKS bisa teledor menulis ayat Al Qur’an padahal acara tersebut siaran tunda. Apakah dirinya tidak memeriksa terlebih dahulu pada Al Qur’an?

Kita semua menginginkan belajar Islam secara baik dan tujuan utama sebagai muslim itu mencari Ridla Allah SWT. Banyak muslim yang secara niat saja masih tidak pas dalam beragama seperti mencari surga. Ini pemahaman yang tidak tepat sebab Sang Pemilik surga itu ya Allah, sehingga tujuan kita jelas. Kembali pada ajaran Rasulullah, tentu harus dimaknai secara menyeluruh. Banyak orang yang memiliki kapasitas keagamaan secara mumpuni. Anehnya di era kekinian banyak orang lebih percaya pada muallaf Felix Siaw serta Irene Handoko. Mereka berdua jelas masih butuh banyak belajar agama seperti kita semua. Banyak ulama yang lebih pantas kita anut dibandingkan dengan mereka berdua terkecuali di daerah kita tidak ada yang lain.

Pun tumbuhnya media social memudahkan kita mencari ulama yang punya kapasitas keilmuan mumpuni untuk belajar langsung. Sebagai awam, bukan tempat kita mencoba membaca terjemahan Al Qur;an dan kemudian berusaha menerapkannya tanpa bimbingan Ulama yang bisa dipertanggungjawabkan keilmuannya. Ada ribuan Ulama NU yang mempelajari agama belasan bahkan puluhan tahun, tidak hanya dalam negeri namun hingga keluar negeri. Sanad keilmuan mereka jelas lebih bisa dipertanggungjawabkan dibandingkan dengan Dai instan versi media social. Jika anda perhatikan para dai KW alias keilmuannya terbatas selalu reaksioner atas problem-problem yang muncul. Akibatnya keputusan yang diambil pun salah.

Contoh sederhana ya para kelompok agamawan yang bergabung di aksi 212, sekarang buktinya mereka terpecah. Mereka ulama-ulama duniawi yang menyeret agama untuk kepentingan politik mereka. Disana ada Bakhtiar Nasir, Tengku Zulkarnain, Sobri Lubis, Amien Rais, Al Khathath dan banyak lagi. Kini mereka berebut pengaruh dalam Persaudaraan Alumni 212, Presidium 212, Garda 212 dan kelompok-kelompok kecil lainnya. Tidakkah hal ini menunjukkan syahwat manusiawi mereka dan anda masih mempercayai mereka?

Pun 2 orang muallaf yakni Felix Siaw serta Irene Handoko yang sudah semestinya masih butuh banyak belajar seperti kita semua namun sudah anda elu-elukan. Pun bukan berarti mereka selalu salah tapi menempatkan mereka sejajar dengan ulama-ulama besar jelas tidak. Maka dari itu, tempatkan mereka biasa saja dan anutlah ulama dengan riwayat keilmuan yang jelas. Yakinlah disekitar kita banyak ulama yang jauh lebih mumpuni dibandingkan mereka. Silahkan baca, dengar dan fahami apa yang mereka sampaikan lalu bandingkan dengan apa yang Felix atau Irene tuliskan dalam sosmed mereka. Jika kita jernih menelisik cuitan mereka di sosmed, banyak logika yang cacat bahkan bertentangan dengan yang dimaksud dalam ajaran Islam.

 

Tuesday, February 6, 2018 - 16:30
Kategori Rubrik: