Andaikan Hijrah Seperti Ini.... Tentu....

ilustrasi

Oleh : Ainur Rofiq Al Amin

Sekali lagi menyinggung tentang hijrah. Saya baru saja dapat kiriman foto dari Budhe Nyai Nur Fahimah.

1. Foto dari komunitas nekad hijrah yang berisi ajakan agar pendidikan anak diarahkan ke pesantren bermanhaj salaf. Tentu dapat dipastikan bahwa ajakannya bukan diarahkan ke pesantren NU yang memang sudah lama ada, berdiri sejak zaman penjajahan, bahkan tradisi pesantrennya sudah ada sejak masa para wali. Pun juga bukan ajakan agar ke pesantren MD.

Pesantren bermanhaj salaf ini kira-kira lahirnya dadakan alias baru muncul sekitar era reformasi. Saya sebenarnya tidak paham apa arti manhaj salaf mereka ini. Karena memang gak jelas.

2. Foto jualan bilor dan telur gulung hijrah serta tahu bakso hijrah. Apa yach bilor itu? Sebenarnya akan menjadi jualan yang masih bisa diterima apabila produknya berkualitas atau ringkasnya halalan thayyiba. Saya sejak lama kepengen (sayang belum bisa mengejawantahkan, maklum bukan ahli bisnis) agar semua penjual makanan, termasuk kaki lima yang bejibun di sekitar kita baik berupa penjual cilok, bakso, mie, ayam dll agar dalam mengolahnya menggunakan bahan yang alami, pewarna alami (bukan pewarna pakaian) dan penyedap alami. Walau tidak harus menggunakan frasa pewarna hijrah dan penyedap hijrah. Sehingga menjadi makanan sehat yang saat orang mengkonsumsi tiada dampak buruk untuk jangka menengah dan panjang.

Apabila para penjual yang mengatasnamakan hijrah itu melakukan hal di atas, maka saya bisa apresiasi. Tapi apabila jualan yang ada tempelan hijrah hanya sebagai komoditas dagangan (komodifikasi hijrah), apalagi memanfaatkan sentimen peristiwa semisal demo jilid dan demo angka, tentu tiada nilai tambah, malah nilai kurang, kemaruk dan memanfaatkan hijrah.

Sumber : Status Facebook Ainur Rofiq Al Amin

Tuesday, February 25, 2020 - 08:15
Kategori Rubrik: