Andaikan Ahok Menang

Oleh : Erizeli Jely Bandaro

Ada nitizen bertanya kepada saya." Apa yang akan terjadi bila ternyata Ahok-Djarot, menang? Saya tidak menjawab dengan seketika. Namun dia menjelaskan bahwa bagaimana orang yang sudah ditegaskan oleh Ulama sebagai penista agama ternyata di pilih oleh orang banyak. Apakah serendah itu keimanan orang islam di Jakarta? Tidak adakah sedikit saja secercah iman di hati mereka? apabila agamanya di lecehkan oleh orang lain yang tidak seiman seharusnya dia tersinggung. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana murka Allah kepada rakyat DKI pada khususnya, dan rakyat Indonesia pada umumnya. Demikian katanya. Yang menyiratkan keresehan , seakan dunia akan berakhir karena kemenangan Ahok. Saya hanya tersenyum.

Bagi saya islam sebagai agama di jamin keagungannya oleh Allah. Allah telah berfirman (yang artinya): “Sungguh Kami telah menurunkan Adz-Dzikr (Al Qur’an), dan Kami pula yang benar-benar akan menjaganya“. (QS. Al-Hijr: 9). Dan Al Quran sebagai wahyu yang di turunkan Allah kepada manusia adala ruh ajaran Islam. Dan itu sudah di jamin oleh Allah akan kesuciannya. Jadi engga perlu risaukan itu. Engga perlu baper mau bela segala. Apakah kita lebih hebat di bandingkan Allah. Lantas bagaimana seharus membela Agama itu ? Gunakan ajaran agama itu sebagai jalan hidup, yang tercermin dari cara berpikir ( way of thinking ) , merasakan ( feeling ) dan kemampuan memfungsikan semua potensi positip ( functioning ) sebuah cara hidup ( the way of life ) dan cara menjadi ( way of being ) yang transformative. Dengan cara ini maka agama akan menunjang kesehatan jiwa dan kedamaian masyarakat. Agama dipandang sebagai 'comprehensive commitment' dan 'driving integrating motive'. Agama diterima sebagai faktor pemadu (unifying factor). Hanya dengan cara itu manusia mampu menciptakan lingkungan yang penuh kasih sayang.

Andaikan Ahok menang maka itu harus di jadikan pelajaran bagi kita. Itulah kehendak Allah. Karena kekuasaan itu bersumber dari Allah dan Allah akan memberi kepada siapa saja yang di kehendakinya. Bagi yang tidak memahami ini mungkin masih memandang agama sebagai something to use but not to live. Orang berpaling kepada Tuhan, tetapi tidak berpaling dari dirinya sendiri. Agama digunakan untuk menunjang motif-motif lain: kebutuhan akan status, rasa aman atau harga diri. Mereka melaksanakan bentuk-bentuk luar dari agama. Mereka puasa ,Sholat, naik haji dsb, tetapi tidak didalamnya. Beragama seperti ini adalah beragama yang ghurur (tertipu). Tertipu, karena dikira sudah beragama, ternyata belum. Beragama seperti ini memang erat kaitannya dengan penyakit mental. Sehingga kesimpulannya, cara beragama seperti ini tidak akan melahirkan masyarakat yang penuh kasih sayang. Sebaliknya, kebencian, iri hati, dan fitnah masih tetap akan berlangsung.

Jadi siapapun yang menang maka itu adalah takdir yang di tetapkan Tuhan untuk kita imani dan berubah menjadi lebih baik... Andaikna Ahok menang dalam Pilkada DKI maka itu tanda agar kita umat islam yang punya obsesi menjadi pemenang dan meubah sistem yang di inginkan , agar mengubah sikap dalam beragama. Jangan lagi mudah baper tapi cerdaslah. Andaikan Ahok kalah, maka perubahan dalam bersikap harus terus di pupuk agar tidak hanya jadi follower buta..Jangan pula euforia. Ingat siapapun yang menang sistem tidak berubah.**

Sumber : facebook Erizeli Jely Bandaro

Monday, February 6, 2017 - 15:00
Kategori Rubrik: