Andai Keangkuhan Itu Sedikit Saja Menjadi Keadilan

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Jakarta banjir, ya sejak lama potensi itu selalu menimpa Jakarta. Hanya setelah Jokowi dan Ahok mengurus Jakarta ada perbedaan yg nyata dari kondisi sebelumnya, walau belum menyelesaikan semuanya namun progressnya dirasakan warga. Tidak ada yg terlalu istimewa Ahok bercengkrama dengan air Jakarta, dia hanya mengenal sifat air yg suka kepada tempat yg rendah dan protes kalau ada yg menghalanginya mengalir, akibat dari protes air yg ditimbulkan adalah ketidaklancaran yg mengakumulasi menjadi banjir, simpel kata Pak JK untuk ngurus banjir, iya simpel, kalau saja mau bekerja bukan cuma bicara, air tidak mengenal baliho gubernur yg memantau, air mengharap pasukan orange menyapa mereka.

 

 

Anies-Sandi ini tipikal orang yg banyak bicara tak bisa bekerja, gengsinya seluas dunia dan angkuhnya mengalahkan nalarnya, dari sejak kampanye sudah bisa dibaca, idenya provokatif tapi sulit dieksekusi. DP 0 %, Tidak menggusur, Toleran kepada pedagang Kaki5, dst, yang penting jangan meneruskan bekas kerjaannya Ahok, ibarat melihat barang mereka tidak mau ada gambar Ahok, najis aku istilah Tessie. Namun masalahnya bukan bungkus gambar Ahok, tapi isi yg ditinggalkan Ahok, esensi sebuah kebaikan dan kebenaran dalam mengerjakan itu yg diwariskan Ahok, itu pula yg tidak dimengerti dua badboy yg pakai sempak saja mereka selalu lupa dimana tempatnya, dan tidak bisa membedakan antara pembalut wanita dan kebab india, semua mau dimakan walau beda rasa.

Keadilan, ya, selalu kita lupa bahwa keadilan selalu harus ada pada setiap kita bicara, dan menilai siapa saja, namun kadang kita lupa, bahkan dalam kejengkelan kita kepada aniespun kita selalu lupa bahwa tidak semua banjir di Jakarta adalah bukan salah mereka, yg mereka lupa bahwa tindakannya menghindari apa yg sudah dilakukan Ahok menjadi malapetaka, warga Jakarta yg menerima imbasnya. Program membentuk pasukan Orange, Hijau dan Biru yg diwariskan Ahok dihabisi tanpa memikirkan akibatnya, dan konyolnya tanpa solusi pengganti. Contoh konyol kasus Tanah Abang yg macet karena pedagang kaki5, malah jalan rayanya yg mau ditutup, kalau menutup jalan ya itu namanya memakai pembalut. Kok tidak sekalian dipindah ke Monas yg lebih luas. Ya memang mereka harus sadar bahwa mereka penerus Ahok dgn keenceran otak dan rasa sosial yg begitu kental, sementara Anies dan Sandi kelakuannya saja yg bengal.

Bullyan orang begitu gencar, JKT58 tak bisa memberi alasan padahal mereka menjual harapan bahwa jaminan gubernur seiman akan lebih aman, yg ada sekarang mulai banjir merendam. Maaf kondisi ini tidak bisa selesai dalam satu dua hari karena air yg datang tidak pernah permisi duluan, sementara ruang penampungan menyempit sesempit pola pikir pelaku kebijakan. RUMONGSO ISO, ORA ISO RUMONGSO. WARGAMU SENGSORO, AWAKMU GUR NURUTI WOWO, JEBULE CILOKO, CILOKO NIES...

Selamat datang banjir, Jakarta masih terus ramah buatmu.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Tuesday, December 12, 2017 - 22:15
Kategori Rubrik: