Anda Orang Pintar? Jangan Terprovokasi Sara

Oleh :Mery DT

Tadi siang sambil menunggu di ruang tunggu kantor client, aku membaca artikel yang di-posting seorang teman di WA group.  Judulnya: Gemuruh Takbir di Paripurna DPR Saat Politikus PKS Bacakan Surat Toleransi.  Isinya tentang seorang anggota DPR dari fraksi PKS, yang meminta waktu untuk membacakan sebuah surat terkait dengan pernyataan Gubernur DKI Jakarta soal Al Maidah ayat 51.  Hal itu terjadi sebelum sidang Paripurna yang akan membahas tentang Perjanjian Paris atas Konvensi Kerangka Kerja PBB mengenai perubahan iklim.

Saat membaca paragraf pertama, terbersit dalam benakku, “Ya ampun, nggak kelar-kelar nih masalah, walaupun Ahok sudah minta maaf.”

Sebelum membacakan surat dr. Gamal Albinsaid, si politikus memberi kuliah tentang toleransi sambil menyelipkan sebuah tuntutan supaya Presiden dan Kapolri membawa (Ahok) ke jalur hukum. 

Bagi saya, kata dr Gamal: "The highest result of tolerance is respect and social relations", toleransi itu adalah bentuk penghormatan kita pada perbedaan yang ada. Mulai dari hal yang kecil seperti makanan, cara berpakaian, cara beraktivitas, sampai hal yang besar soal agama, kitab suci, dan prinsip Ketuhanan.

Kemudian kataku dalam hati; “Seberapa tolerankah Anda terhadap perbedaan dengan orang lain? Seberapa tolerankah Anda menerima permintaan maaf orang lain?  Seberapa tolerankah Anda menerima orang yang berbeda cara pandang?  Karena di dalam surat Anda, yang kubaca hanya tentang orang lain yang bertoleransi terhadap Anda.  Tidak ada contoh di mana Anda yang bertoleransi terhadap orang lain.  Anda sungguh beruntung, karena selama perjalanan ke Eropah, orang-orang yang Anda temui sangat menghormati Anda.”  

Dr Gamal belum menuliskan arti toleransi yang sepenuhnya, maka aku akan membantunya.  Menurut http://dictionary.cambridge.org toleransi itu adalah (1) willingness to accept behavior and beliefs that are different from your own, although you might not agree with or approve of them, and (2) the ability to deal with something unpleasant or annoying.

Kalau menurut aku, toleransi itu tidak hanya menerima hormat dari orang yang berbeda, tapi juga memberi hormat kepada orang yang berbeda.  Hubungan yang timbal balik.  Dua arah.  Dalam kasus Ahok, banyak juga muslim yang menganggap tidak ada yang salah dengan ucapannya.  Sebaliknya banyak pula yang menganggapnya menghina Al-quran.  Dan demi mengakhiri konflik, Ahok pun minta maaf.

Surat dr. Gamal ini bertanggal 10 Oktober 2016, pun Ahok meminta maaf pada tanggal yang sama.  Aku tidak tahu apakah surat ini dia rilis sebelum atau sesudah Ahok minta maaf.

Aku tersenyum karena dr Gamal mengutip perkataan Ayaan Hirsi Ali.  Ayaan menuliskan quote itu untuk mengkritik Islam.  Dr Gamal malah memakainya untuk membela Islam.  Menarik ya?

Ayaan adalah muslim keturunan Somalia yang kemudian menjadi atheis, melarikan diri ke Belanda dan menjadi warga negara Belanda.  Di Belanda, bersama sahabatnya Theo Van Gogh, mereka membuat film yang berjudul Submission.  Film ini isinya kritikan keras terhadap Islam dalam memperlakukan perempuan.  Karena film tersebut, Van Gogh dibunuh oleh warga negara Belanda keturunan Maroko, dan Ayaan pun mendapat ancaman mati dari para Islamist.

Baru kemaren kami diskusi sampah di group WA, dan aku menyanjung dr Gamal untuk aksi kemanusiannya dalam pemanfaatan sampah.  Tapi setelah membaca surat itu, aku kecewa dan rasa bangga itu memudar dalam dadaku.

Baik, kita tinggalkan dr Gamal dan kembali pada politikus yang memanfaatkan suratnya.

 

Olehnya, kasus ini dikipas lagi. Bara yang sudah hampir padam diharapkan membara lagi.  Aku terlalu naïf bila mengatakan ini murni masalah agama.  Aku tahu, ada tujuan yang ingin digapai dengan menunggangi isu ini.  Berharap dapat dukungan dari parlemen untuk menekan Polisi menangkap Ahok.  Dengan demikian Ahok keluar dari arena pertarungan Pilgub rasa Pilpres ini.

Semua tahu bahwa si politikus ini berbeda jagoan dengan Ahok.  Mengeliminir lawan akan lebih memudahkan memenangkan pertandingan.  Mungkin bagi mereka pertandingan nanti terlalu berat.

Tentang kutip mengutip ayat kitab suci oleh yang bukan umatnya, Ahok bukan yang pertama.  Aku jadi teringat Amin Rais.  Beberapa tahun lalu, sepertinya ada kasus maksiat yang sedang hangat.  Kasus yang melibatkan politikus atau pejabat, aku lupa. 

Kemudian dalam sebuah wawancara Amin Rais berkata, “Ketika ada seorang perempuan kedapatan berzinah, dia dibawa ke hadapan Yesus untuk minta pendapat cara menghukum perempuan tersebut.  Kemudian Yesus berkata “Barang siapa diantara kamu ada yang tidak pernah berzinah, dialah yang pertama melemparkan batu kepada perempuan ini.”  Ternyata tidak ada yang melempar, karena semua orang Yahudi ketika itu pernah berzinah.”

Aku terkesima menontonnya berbicara seperti itu.  Tidak ada kalimat Yesus yang mengatakan “barang siapa diantara kamu tidak pernah berzinah, TAPI barang siapa diantara kamu tidak berdosa …”

Perbedaannya hanya satu kata, tapi artinya menjadi sangat berbeda.

Apakah orang Kristen memprotes kesalahan kutip yang dilakukan Amin Rais tersebut?  Tidak.  Karena orang Kristen memaklumi, dia bukan Kristen dan dia tidak paham apa yang dia katakan.

Itu toleransi menurut aku. Kemampuan menerima sesuatu walaupun itu mengganggu dan menjengkelkan. 

Kemudian tadi sore aku juga membaca tulisan rekan Natalia Laskowska tentang Spiral Kebencian.  Di akhir tulisan dia mengatakan; “Kebencian seperti ular, melilitkan pada sesuatu yang sebenarnya tidak ada, tapi menjadi persoalan, karena penghasutan yang cocok. Dan dia akan memutar terus, naik tanpa menemui ujung.”

Dalam masyarakat yang multi etnis, multi kultur, multi agama dan keyakinan, hanya satu yang bisa mempersatukan, yaitu toleransi.  Bertenggang rasa terhadap hal yang berbeda, berlapang dada terhadap kekurangan dan kesalahan orang lain, berlomba saling memberi hormat, dan lain sebagainya.

Sementara memelihara kebencian hanya akan menghancurkan diri kita sendiri.  Lebih luasnya, negara kita sendiri.  Rasa benci itu ibarat racun yang kita minum setiap hari kemudian kita berharap dapat sembuh.  Tidak mungkin.

Peneliti berkata, tingkat toleransi dalam hidup kita dapat dikaitkan dengan tingkat kebahagiaan.  Orang yang toleran hidupnya lebih bahagia.  Atau juga orang bahagia akan menjadi lebih toleran.  Dibolak-balik pun, intinya adalah rasa toleransi dan bahagia itu seiring sejalan.

Lawan kata toleransi adalah intoleransi.  Intoleransi merupakan kegagalan dalam menghargai dan menghormati keberagaman, perbedaan pendapat atau keyakinan orang lain.  Intoleransi tumbuh subur dalam masyarakat awam dengan tekanan ekonomi yang berat, juga dalam gelombang politik yang panas yang menjual perbedaan untuk merebut simpati.

Intoleransi akan mendorong polarisasi dalam masyarakat; pro dan konta.  Saat ini DKI sedang diguncang isu panas penistaan agama.  Hebatnya, polarisasi itu tidak hanya terjadi di DKI, tapi hampir di seluruh Indonesia.  Ormas Islam di satu sisi meminta Ahok di tangkap.  Masyarakat Indonesia bagian Timur mengancam akan merdeka atau melakukan perlawanan bila Ahok dikriminalisasi. Salah satunya seperti ini "Masyarakat NTT Murka Dan Siap Musnahkan FPI Jika Berani Mengancam Bunuh Ahok."

Gelombang panas Pilgub DKI ini telah menjadi milik seluruh rakyat Indonesia.  Siapa pun yang bermain api, rakyat yang akan terbakar.  Aku tahu sebagian besar rakyat Indonesia ini menginginkan perdamaian.  Ada baiknya kita sebagai masyarakat tidak menari pada gendang yang ditabuh politikus nakal dan culas.

Mari tambahkan sedikit kadar lapang dada untuk menerima kekurangan atau kesalahan orang lain dalam resep toleransi kita, maka niscaya kita akan lebih bahagia.  Dan bahagia akan membawa damai sejahtera.

Khusus untuk politikus yang berusaha membakar akar rumput, aku mau katakan, hentikan, coy!  Itu tidak elok.  Aku tahu Anda tidak bodoh, tapi Anda menjadi kelihatan bodoh.**

Sumber ; qureta.com

Thursday, October 20, 2016 - 08:45
Kategori Rubrik: