Anda Muslim?

Oleh : Sumanto Al Qurtuby

Ada cukup banyak “Facebookers” yang menginbox saya dan bertanya penuh selidik bak intel FBI: “Anda Muslim?”. Saya sendiri malas sekali membalas pertanyaan-pertanyaan model beginian. Meskipun sebetulnya kadang saya tergoda juga untuk membalasnya, tapi selalu saya urungkan. Kemudian saya jawab sendiri dalam hati: “Anda petugas sensus penduduk?”. Emang kalau Muslim kenapa, kalau non-Muslim juga kenapa? Masalah buat loh?

Lalu, ada pula si penanya yang melanjutkan “pertanyaan santapan rohaninya”. Kalau Anda non-Muslim, kenapa memakai nama “Al Qurtuby”. Bukankah itu “nama Islam”? Sebaiknya Anda jangan menggunakan nama itu. Lagi, saya juga malas menjawab pertanyaan model begini. “Al Qurtuby” itu adalah Arabisasi dari kata Cordoba, sebuah kota di selatan Spanyol yang dulu, pada Abad Pertengahan Islam, menjadi salah satu kota utama Kerajaan Islam (Daulah) Andalusiyah (Andalusia) atau juga dikenal dengan Daulah Umayyah II.

Di kota inilah dulu pada abad ke-8 M dibangun sebuah masjid megah bernama La Mezquita yang belakangan menjadi gereja Katolik pada abad ke-13 setelah terjadi perubahan politik di Spanyol atau Andalusia. Dari kota ini pula telah lahir berbagai sarjana Muslim top-markotop kaliber dunia di berbagai disiplin. Banyak di antara mereka yang menyematkan nama “Al Qurtuby” di belakang “nama-nama aslinya”. Oleh “lidah Arab”, kata “Cordoba” itu dilafalkan “Qurtuba”, dan orang dari “Qurtuba” itu disebut “Qurtuby”. Itu sama dengan nama Indonesia yang kemudian dalam “lidah Arab” disebut “Indunisi”, Jawa menjadi “Jawi”, Jogja jadi “Jogjawi”, Joko jadi “Jokowi” he he. Intinya kata “Al Qurtuby” itu bukan “nama Islam.” Kalau “nama Arab” iya.

Kemudian, banyak pula yang tanya: “Kalau Anda Muslim, kenapa mengolok-olok Islam?” Tampaknya si penanya sedang kebingungan membedakan antara “mengkritik” (criticize) dan “mengolok-olok” (insult), antara Muslim sebagai “pemeluk / pengikut agama Islam” dan “Islam” sebagai sebuah ajaran, doktrin, atau sistem kepercayaan, atau apalah definisinya.

Mengkritik (sebagian) Muslim dengan begitu tidak secara otomatis mengkritik (apalagi mengolok-olok) Islam. Apakah kalau saya mengkritik perilaku biadab dan intoleran gerombolan teroris ISIS, Taliban, atau kaum “Muslim pentungan” yang "tengil" di Indonesia, misalnya, sama dengan mengolok-olok Islam? Tentu saja bukan, kan? Kaannnn. Jadi, jadi orang tidak usah “sensi bok”. Lagi pula, saya bukan hanya mengkritik perilaku sebagian umat Islam saja tapi juga sebagian umat agama lain yang melakukan tindakan berlawanan dengan nilai-nilai kemanusian universal.

Pertanyaan diatas juga tersirat sebuah ansumsi seolah-olah kalau non-Muslim itu sudah biasa mengolok-olok Islam. Padahal, banyak umat non-Muslim yang sangat empati terhadap agama Islam dan kaum Muslim (meskipun ada yang sebaliknya). Sebalinya, ada sebagain umat Islam yang justru melakukan tindakan konyol, arogan, intoleran, dan penuh kekerasan yang justru telah menodai dan merendahkan martabat agamanya sendiri.

Jabal Dhahran, Arabia**

Sumber : facebook Sumanto Al Qurtuby

Saturday, October 1, 2016 - 12:45
Kategori Rubrik: