Ancaman Seorang Pecundang

ilustrasi

Oleh : Aldira Maharani

"Sampaikan ke Jokowi, tunggu saya keluar!"

Begitu kata Bahar Smith sambil berjalan usai mendengarkan tanggapan jaksa atas eksepsinya di Gedung Kearsipan dan Perpustakaan Kota Bandung, Kamis (14/3/2019).

Saya sebagai orang waras menanggapi pernyataan Bahar Smith ini sebagai lelucon murahan.

Dia mengaku Habib dan penceramah, tapi isi ceramah nya kasar penuh caci maki dan sumpah serapah kepada kepala negara.

Dalam setiap ceramah, isinya selalu merendahkan kepala negara, Tapi saat dia menghina kepala negara, kepala negara lagi sibuk kunjungan kerja ke daerah dengan segudang kesibukannya, bahkan saat dia lagi melakukan penganiayaan sama santrinya, kepala negara lagi santai sama keluarga dan cucunya.

Dipikir2 yang ribet itu dia sendiri, belum juga divonis dan di penjara eh sudah ngomong ngalor ngidul, heboh sendiri.

Padahal kasus yang menjerat nya murni tindakan kriminal, eh yang disalahin malah Pak Jokowi yang gak ada sangkut pautnya dengan kasus yang menimpa nya.

Kebencian Bahar Smith terhadap Pak Jokowi itu sudah mendarah daging. Dan kebencian itu ibarat mengharapkan orang lain mati padahal dia sendiri yang meminum racunnya.

Sungguh orang yang bernama Bahar Smith tidak pantas disebut keturunan apalagi disebut cucu Nabi Muhammad, tapi lebih pantas disebut sebagai seorang pecundang.

Nabi Muhammad SAW mengajarkan umatnya untuk menghormati pemimpin bukan malah menghina sesama umatnya dan menghina sesama ciptaan Allah.

Semakin tinggi rasa kasih sayang kita kepada manusia maka akan semakin tinggi pula derajat cinta Allah terhadap kita.

Sebaliknya semakin kita membenci kepada sesama manusia lainnya, maka semakin rendah pula kedudukan kita di hadapan Allah.

Bahkan Nabi Muhammad SAW manusia dengan akhlak terbaiknya diutus oleh Allah SWT untuk menyempurnakan ahlak manusia.

Jadi tidak ada alasan untuk menghina dan membenci orang lain seenaknya, karena benci akan membakar jiwamu.

Bagaimana mungkin engkau akan menyembah dan mencintai Allah dengan benar, jika jiwamu penuh terbakar api kebencian.

Sedangkan Allah Azza wa jalla itu maha cinta. Allah adalah cinta dan bersama Allah sama dengan bersama cinta, meninggalkan cinta sama saja meninggalkan Allah.

Pesan Moral :

Orang berhati besar, jika salah intropeksi diri dan belajar dari kesalahan.

Orang berhati kecil, jika salah menyalahkan orang lain jika yang terjadi tidak sesuai dengan yang dia inginkan dan mencari kambing hitam atas masalah yang terjadi.

Sumber : Status Facebook Aldira Maharani

Friday, March 15, 2019 - 07:45
Kategori Rubrik: