Ancaman RUU Ketahanan Keluarga

ilustrasi

Oleh : Vika Klaretha Dyahsasanti

Regulasi baru tentang ketahanan keluarga ternyata jadi bahan rumpian yang asyik belakangan ini. Tak habis-habisnya saya mendengar keluhan, baik langsung maupun lewat medsos tentang betapa beratnya hidup bila regulasi itu berlaku. Dimulai dari bahasan yang ringan, keluarga yang tinggal di rumah sempit, sesak, ruangan terbatas, untung-untung masih bisa hidup. Betapa pedihnya hati mereka jika kemudian ada aturan ketat tentang pemisahan kamar dan lain-lain itu.

Maka rumpian menjadi ramai, terkadang berujung makian. Ketidakpekaan para legislator tentang keadaan riil di Indonesia. Harga rumah, tanah dan bahan bangunan mahal. Bahkan bagi mereka yang notabene dianggap kelas menengah, seperti PNS biasa. Dengan kredit yang nyaris menghabiskan gaji kami, rumah yang bisa kami angsur maksimal bangunan satu tingkat di tanah 100 m2. Bisa dibayangkan berapa jumlah kamar di tanah sesempit itu. Lalu bagaimana dengan sebagian besar masyarakat berpenghasilan UMR?

Saya sendiri punya kejengkelan lain soal statement para 'yang terhormat regulator' itu. Dikatakan pemisahan kakak adik beda jenis kelamin itu untuk menghindari incest. Di situ saya merasa para 'vibrator' tidak familiar dengan metode ilmiah dan statistik. Kasus incest memang ada, saya akui itu, namun jumlahnya tentu saja sangat kecil, tidak bisa dijadikan sampel contoh kebejatan moral. Lebih tepatnya lagi, sangat tidak pas untuk dijadikan dasar pengambilan keputusan. Apalagi saya yakin, sang 'generator' belum pernah melakukan penelitian ilmiah tentang kausalitas antara incest dan tidur sekamar. Bagi saya ini hanya sekadar 'piktor', pikiran kotor.

Legislator piktor, rasanya ini rima yang tepat. Kepiktoran berlebihan itu memang agak menyebalkan saya beberapa tahun terakhir. Saya ingat, seorang teman berencana mengadopsi anak, tetapi dia hanya mau anak laki-laki. Dengan dalih, 'biar tidak terjadi apa-apa dengan bapaknya kelak di kemudian hari' (maksudnya suaminya). Mendengarnya saya berusaha sabar tidak komentar. Hanya saya merasa, sebegitu rendahkah kepercayaan dia pada kasih sayang? Seseorang yang telah mengurus seorang bayi sejak lahir, tentu yang ada pada dirinya hanya kasih sayang pada bocah tersebut. Hingga kelak si bocah dewasa. Kasih sayang, dan bukan cinta penuh gairah. Tentu kita bicara orang normal. Dan sampai saat ini, penyimpangan di luar itu hanya kasuistik. Tidak bisa dijadikan sampel untuk pengambilan keputusan.

Begitulah, belakangan kita hidup di tengah hal-hal seperti itu. Kepiktoran akut. Beberapa kali saya menghadiri acara perkawinan dengan pemisahan tamu pria dan wanita. Bahkan mempelai pun diipisah. Tamu wanita hanya bisa melihat mempelai wanita, demikian juga sebaliknya. Lebih parah lagi, para pramusaji untuk tamu perempuan juga perempuan. Mereka terpaksa membawa baki yang berat berisi piring-piring hidangan. Sesuatu yang seharusnya dibawa oleh pramusaji laki-laki. Pernah suatu kali bahkan saya mendapati pramusaji yang tanpa sengaja memecahkan piring karena berjalan terhuyung-huyung membawa 6 piring sekaligus, plus baki kayu yang berat.

Semuanya hanya karena pikiran yang berdasar kepiktoran. Mengira bahwa itu adalah pemikiran bijak, menghindari kerusakan moral manusia. Moral yang disempitkan hanya sebatas perkara hubungan laki-perempuan, terutama sex. Masalah moral yang lebih urgent tidak pernah dibahas. Lalu memaksakan diri kembali ke aturan masa lampau, kala pria bejat penuh nafsu bisa menubruk perempuan di depan umum. Seperti hewan berebutan betina di musim kawin. Ingat, peradaban manusia berkembang. Kesadaran manusia modern, juga regulasi yang ada, tidak lagi memungkinkan manusia menjadi barbar asal tubruk perempuan di tempat umum. Pendidikan cara pengendalian diri jauh lebih penting.

Kisah-kisah serupa itu banyak, dan semuanya berujung pada domestifikasi perempuan. Agar perempuan tidak lagi bisa berada di ruang publik, apalagi bekerja. Tak peduli pada kenyataan: tuntutan hidup keluarga modern seringkali sudah sulit terpenuhi jika hanya dicukupi satu orang saja. Herannya, yang mengajukan regulasi bernama indah ketahanan keluarga itu justru perempuan, legislator pula....

Mungkin benar kata teman saya, "Ya, kali sejak dia jadi legislator baru ngerasain beratnya kerja. Sementara dia sebenarnya pemalas, enakan di rumah. Ongkang-ongkang. Tapi kalau dia nggak jadi kerja, jatahmya mungkin makin dikit. Nggak cukup buat beli skinker. Mungkin lakinya juga punya banyak bini buat dihidupi. Makanya dia ciptain undang-undang biar lakinya nggak ketemu betina lain di luar rumah. Aman. Nggak mungkin kecantol... "

Saya cuma bisa terpingkal-pingkal.

Sumber : Status Facebook Vika Klaretha Dyahsasanti

Monday, February 24, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: