Analisis Seorang Santri Atas Foto Hari Tanoe di Pesantren

Oleh: Mochamad Ihsan Ufiq

 
Tentu pemandangan pada foto dibawah ini sangat menyayangkan. Jika kita tidak mau menggunakan akal dan logika kita, berbagai persepsi negatif akan muncul untuk disampaikan. Ujung-ujungnya pesantren, kiyai, santri dan kelompok yang menjadi bahan ejekan dan bullyan. Namun wajar, bully-membully sekarang sudah wajib hukumnya tak pandang bulu siapa yang dibully... 

Sebagai anak (paten) santri lulusan pesantren yang pernah merasakan manisnya kehidupan pesantren, analisa saya begini:

1. Ada seorang politisi non-muslim bertamu ke sang kiyai dan pesantrennya. Sang kiyai tentu tidak akan menolak kunjungan siapapun walaupun non-muslim karena islam tidak melarang umatnya untuk menerima tamu kafir. Bahkan islam tetap memerintahkan menghormati dan memuliakanya semampunya. 

2. Sudah tidak heran kedatangan sang poilitisi patut diwaspadai karena biasanya ada udang dibalik rempeyek. Sang kiyai yang arif akan sangat berhati-hati, jika sang politisi menawarkan bantuan dana pembangunan pesantren atau dana lainnya, sang kiyai harus melihat: kalau dananya murni sumbangan akan diterima. Tapi kalau ada maunya wajib ditolak dan perlu ada pernyataan.

3. Namun sang kiyai biasanya hafal betul maksud kedatangan sang politisi. Mau bantuan apapun biasanya langsung ditolak dengan lembut atas dasar kewaro'an, zuhud dan tidak mau menggunakan sesuatu yang remang-remang penuh intrik. Cukup disambut dengan senyuman dan hidangan seadanya sebagiamana tamu umumnya.

4. Untuk menghormati sang tamu wajarlah jika sang politisi disilahkan bertemu dan melihat para santri. Apalagi jika sang politisi sendiri yang ingin bertemu. Kiyai yang bijaksana tidak akan melarangnya.

5. Namanya santri, mereka adalah makhluk lugu, lucu, culun, yang sangat terbatas pengetahuannya akan dunia luar apalagi hiruk pikuk perpolitikan Indonesia. Melihat ada tamu pake kopyah bersorban diciumlah tangannya, tak pandang bulu siapa saja ia karena sang santri merasa setiap tamu yang diterima pak kiyai biasanya juga kiyai atau orang terhormat.

6. Toh dalam tradisi dan kearifan pesantren diajarkan menghormati orang yang lebih tua dengan cara cium tangan. 

7. Tidak pantas bagi orang yang tidak tahu permasalahan, lantas ia menjadi paling vokal berkomentar negatif. Apalagi jika sampai menyudutkanh imej baik kiyai, santri, pesantren, kelompok sampai nama organisasi besarnya dicap antek aseng.

Demikian analisa gaib yang bisa saya utarakan. Sebelum memberikan komentar negatif, ada baiknya kiranya kita memposisikan diri menjadi sang kiyai dan santri tersebut, supaya tidak tergesa-gesa komentar miring dan mengekang nafsu jahat kita.

Salam (paten) santri
Mochamad Ihsan Ufiq
Doha, 24 April 2016

 
(Sumber: Facebook Mochamad Ihsan Ufiq)
Monday, April 25, 2016 - 19:00
Kategori Rubrik: