Analisis Pernyataan Prabowo "Indonesia Punah Jika Kita Kalah"

Ilustrasi

Oleh : Doddy Soelistyo

Ucapan Prabowo Indonesia bubar, dan terakhir Indonesia punah, tidak bisa dipandang enteng. Pernyataan itu harus dipandang serius. Terlalu naif jika pernyataan itu hanya dijadikan bahan ledekan atau bahan bulian terhadap Prabowo. Menganggap Prabowo lagi bermimpi, berhalusinasi dan berkhayal soal Indonesia bubar dan punah adalah sikap fatal.

Jika ucapan itu diabaikan, maka taruhannya adalah keutuhan NKRI.

Pemerintahan Jokowi bersama TNI-Polri sudah mulai bergerak bersama intelijen membuat beberapa kontra-skenario yang mungkin dilancarkan Prabowo. Apalagi sejak sekarang Kubu Prabowo sudah gencar mencari-cari alasan kekalahan kubunya.

Prabowo jelas amat berpotensi memicu perang saudara di republik ini. Prabowo punya kekuatan yang cukup untuk menghancur-leburkan Indonesia. Potensi kekuatan Prabowo itu bisa dilihat dalam beberapa hal.

Pertama, Prabowo adalah bagian dari keluarga Cendana. Ia adalah anak mantu Soeharto, ipar dari Tommy Soeharto dan seluruh keluarga Soeharto lainnya.

Dalam setiap situasi apapun, keluarga Soeharto siap mendukung apapun tindakan Prabowo untuk merebut kekuasaan dengan cara apapun juga. Kelanjutan bisnis trah Soeharto amat tergantung pada keberhasilan Prabowo dalam merebut kekuasaan.

Apalagi saat ini keluarga Soeharto diharuskan membayar uang pengganti 4 triliun Rupiah atas korupsi di Yayasan Supersmar-nya keluarga Soeharto.

Jika Prabowo memutuskan untuk memicu perang saudara, dana tak terbatas dari keluarga Soeharto yang tersimpan tujuh turunan itu siap digelontorkan. Bohong jika Kubu Prabowo memframing dirinya tak punya dana. Itu hanya taktik dari insting militernya mengelabui masyarakat.

Ke-2,
Prabowo adalah seorang Letnan Jenderal. Saat ini ratusan purnawirawan jenderal yang tidak mendapat bagian dalam pemerintahan Jokowi, sedang bersatu di bawah kendali Prabowo. Tiap purnawirawan jenderal itu punya pengikut di kalangan prajurit aktif TNI atau di kepolisian. Mereka ini paham betul bagaimana memicu perang saudara di republik ini.

Sangat gampang memicu kerusuhan di republik ini. Serbuan serentak di beberapa tempat oleh prajurit baret merah berbaju sipil 1998 di bawah kendali Prabowo adalah buktinya. Hanya satu gerakan saja, kerusuhan rasial meluas ke kota-kota di seluruh Indonesia.

Ke-3,
Prabowo tinggal mengeluarkan satu perintah, maka kelompok yang menamakan dirinya alumni 212 itu siap menjadikan republik ini seperti Suriah. Kaum radikalis yang tergabung dalam kelompok 212 itu siap digerakkan kapan dan dimana saja.

Kekuatan 212 yang terorganisir rapi tak bisa dipandang enteng. Mereka sewaktu-waktu berubah dari bereaksi damai menjadi bereaksi teror dan brutal. Kekuatan real Prabowo satu juta orang dari 212 sudah di tangannya belum lagi pendukung fanatiknya lewat partai.

Ke-4,
Secara implisit negara-negara luar semacam Amerika, Inggris, Arab Saudi, Singapura dan Australia siap memberi dukungan kepada Prabowo. Negara-negara itu cukup kuat membela tindakan Prabowo di dunia internasional jika dibutuhkan. Jika Indonesia hancur, maka negara-negara itu mendapat banyak keuntungan.

Di dalam negeri tentu tidak diabaikan peran sekelompok orang semacam Fadli Zon, Harry Tanoe dan kelompok elit Golkar. Mereka ini masih punya simpati kepada keluarga Cendana.

Ketika pertarungan sudah meruncing menjadi keluarga Soeharto vs keluarga Soekarno maka orang-orang semacam Aburizal Bakri dan konco-konco Golkar yang ada di Pemerintahan Jokowi, siap balik badan.

Kita paham bahwa, di era pemerintahan Jokowi, para mafia di berbagai lini semakin terdesak dan tidak bisa bermain. Para konglamerat hitam banyak yang diam-diam tidak menyukai pemerintahan Jokowi. Mereka secara sembunyi-sembunyi mendukung Prabowo atau secara munafik mendukung Jokowi namun menggerogotinya dari belakang.

Pertarungan di Pilpres 2019 diprediksi lebih sengit dan berbahaya dibanding Pilpres 2014. Salah satu tolak ukur bahayanya adalah bangkitnya kelompok-kelompok berbasis agama yang sempat redup di era Soeharto. Bangkitnya kelompok Islam dengan ditunggangi kelompok Cendana, oknum purnawirawan TNI-Polri dan kelompok fanatik pendukung Prabowo memudahkan skenario apapun yang dipilih Prabowo.

Merujuk pada hasil akhir Pilpres 2019 mendatang, maka ada 3 kemungkinan yang paling mungkin diambil oleh Prabowo.

Pertama, skenario menang. Jika Prabowo menang maka kelompok-kelompok Islam yang ribut di Era Jokowi akan tenang. Imbalannya Prabowo akan membiarkan mereka menguasai negara dan mendikte Prabowo secara leluasa termasuk reuni di istana. Sementara kelompok minoritas tetap mendapat perlindungan dari Prabowo secara semu.

Bahayanya adalah, kelompok-kelompok Islam garis keras tadi yang diprediksi semakin kuat di era Prabowo, tinggal menunggu waktu untuk mengambil alih kekuasaan dan merubah negara ini menjadi negara khilafah.

Kelompok-kelompok mafia seperti di Jakarta era Anies secara senyap kembali membangun jalan-jalan tikus kekuasaan di lingkar Prabowo. Jika Prabowo menang, secara kalkulasi politik, Indonesia secara semu aman dan damai.

Para pendukung Jokowi tidak akan mampu meniru dan berani melancarkan perlawanan jalanan seperti yang dilakukan HTI, FPI, PKS dan anasir kelompok 212 lainnya.

Ke dua, skenario menerima kekalahan. Jika Prabowo kalah maka ia bisa mengambil opsi menerima kekalahan sambil terus membangun kelompok oposisi merebut kekuasaan 2024. Menyebut bahwa kelompok pro Prabowo akan tamat termasuk Tommy Soeharto, Amin Rais jika Prabowi kalah adalah keliru. Kekuatan oposisi tetap saja besar dan aksi jalanan tetap saja siap berkorbar untuk mengintip blunder Jokowi di era periode ke duanya.

Ke tiga, opsi perang. Opsi ini tetap terbuka mengingat jejak Prabowo sebelumnya. Sinyal-sinyal Prabowo mengambil opsi ini bisa dilihat dari berbagai ucapan konsistennya bahwa Indonesia punah. Indonesia hanya punah jika ada konflik horizontal.

Skenarionya adalah Prabowo akan memicu perang saudara dengan alasan tidak menerima kekalahan dengan menuduh Kubu Jokowi curang. Kerusuhan massal serentak jelas akan sulit diatasi oleh aparat. Bahkan aparat sangat mungkin terbelah menjadi pro Jokowi-pro Prabowo.

Benih-benih perang antar suku, agama dan ras di republik ini sudah ada dan sedang tumbuh. Bahkan seperti api dalam sekam yang siap membara kapan saja.

Penutupan gereja di beberapa tempat di Indonesia dan aparat terkesan menutup mata adalah contohnya. Aksi pemotongan salib di kuburan yang terjadi di Yogyakarta adalah jelas penghinaan terhadap agama lain.

Masalahnya, kelompok minoritas yang tidak sabar akan membalas di daerah-daerah tertentu seperti di Papua, NTT, Menado, Kalimantan Barat, dan Sumatera Utara lebih keras.

Lalu, kelompok-kelompok Islam yang ada di barisan Prabowo berbalik membalas sehingga ada alasan timbul kerusuhan SARA skala besar yang berujung pada perang saudara.

Tentu yang paling berbahaya adalah jika dalam kelompok Islam sendiri seperti yang terjadi di Suriah-Irak saling membantai.

Mungkin agak geli mengaitkan skenario ke tiga ini dengan tindak-tanduk Sandiaga Uno. Sandiaga Uno berkoar-koar menjual dollarnya untuk membantu Rupiah. Faktanya ia hanya diberitakan menjual dollarnya $1000 saja.

Lalu, Sandiaga secara terus-menerus menjual saham perusahaannya. Apakah aksi Sandiaga ini untuk mengantisipasi Indonesia punah pasca Prabowo kalah?

Pernyataan bahwa Indonesia akan punah sudah terlontar berkali-kali di mulut seorang tokoh paling berpengaruh di republik ini setelah Presiden Jokowi. Dialah Prabowo Subianto. Apakah ini hanya psy war untuk merebut kekuasaan?

Melihat kekuatan Prabowo seperti yang sudah dipaparkan pada awal tulisan ini, maka ia punya potensi untuk memicu perang saudara yang berujung Indonesia punah.

Lalu, di atas kepunahan itu, Prabowo akan membangun sebuah negara baru, negara khalifah. Begitulah kura-kura.

Sumber : Status Facebook Doddy Soelistyo

Saturday, December 22, 2018 - 17:30
Kategori Rubrik: