Analisis Abal-Abal Gabener Masuk Comberan

Ilustrasi

Oleh : Kajitow Elkayeni

1. Ini foto rekayasa. Ya iyalah semua foto juga rekayasa. Maksudnya foto ini dipersiapkan demikian rupa demi tujuan tertentu. Persis seorang model ketika ia membuat gerakan tertentu agar tampak cantik. Foto ini juga demikian. Bedanya dengan foto di tempat sampah dulu adalah, penjiwaannya lebih total. Foto ini terkesan natural. Saya kasih jempol untuk talentnya.

2. Foto orang ke dua dari kiri tampak fokus pada kameramen. Ia juga tersenyum simpul. Hal itu menandakan, tim pencitraan, ups, maksud saya, tim pembersihan gabener, kurang solid. Mungkin ini dilakukan spontan sehingga mereka kurang persiapan. Atau oknum yang tidak fokus itu melihat sesuatu yang lucu. Mislanya, gabener kok tol... eh, maksudnya tul... lus begitu.

3. Ada dua orang yang berdiri di tepi sebelah kiri. Mereka memang kameramen cadangan. Wajahnya agak kurang jelas, tapi mungkin dia juga tersenyum ke arah rekan mereka yang turun ke comberan. Sekali lagi wajahnya kurang jelas, hanya arah pandangan dan asumsi senyuman yang menunjukkan totalitas rekan mereka nyemplung, demi hasil foto yang bagus. Rekaan ini tentu harus dibayar sepadan. Tahu sendiri itu comberan.

4. Di samping dua kameramen cadangan itu ada salah seorang warga yang sangat santai. Ia menyilangkan kakinya. Tidak masalah dengan tudak adanya penghormatan terhadap pimpinan tertinggi. Gabener pribumi itu sangat merakyat. Tapi sikap santai seperti di pantai itu menunjukkan ia tak perduli dengan adegan nyemplung di comberan. Artinya, ia tahu persis adegan itu sekadar rekayasa.

5. Di ujung paling kanan, ada oknum satu lagi santai memegang sekop yang tak menyentuh comberan. Seperti saat kita foto pura-pura terbang dengan melompat tinggi-tinggi. Dan anehnya, tukang sekop itu tak bawa karung sekalian. Sekop yang bersih itu melayang di udara seolah menunggu aba-aba, 1, 2, 3...

6. Orang di belakang gabener sepertinya tahu gelagat pembawa sekop itu. Melihat pakaiannya yang berbeda, sepertinya ia bukan bagian dari PPSU, atau mungkin jabatannya agak tinggi. Melihat fokus pandangannya ke arah tukang sekop, mengindikasikan upaya untuk menegurnya. Tapi terlambat.

7. Gabener mengisi kantong yang terlihat kosong. Itu artinya saat ia mengeruk comberan dengan tangannya itu hanya demi momen cepat. Mungkin ia hanya ingin memeberi arahan dan contoh pada bawahannya.

8. Gabener sebenarnya bisa menggunakan sekop yang dibawa oknum di belakangnya itu. Tapi demi kepentingan fotografi, itu kurang natural. Dengan menggunakan tangan, menunjukkan ia total dengan arahan kameramen. Lagipula sekopnya memang sengaja berada sangat jauh agar dimaklumi ia menggunakan tangan.

9. Muka gabener serius bahkan tampak marah, sementara kita tahu seperti poin kedua, ada oknum yang malah cengengesan ke arah kameramen. Ini sangat bertolak belakang. Itu artinya, seriusnya bikinan. Tidak asli.

10. Foto ini bagus, istilah fotografinya, gambar yang bercerita. Gabener pribumi layak mendapat gelar baru yang senapas dengan totalitasnya itu. Misalnya Gabener Comberan, eh, maksud saya gaberner pembersih comberan...

#BelajarNyinyir
#BukanRoySuryo

Sumber : Status Facebook Kajitow Elkayeni

Monday, January 1, 2018 - 15:00
Kategori Rubrik: