Anak Di Kota Ramah Anak

ilustrasi

Oleh : Matt Bento

South China Morning Post mempublikasikan sebuah video seorang bocah perempuan Tiongkok yang sedang berlatih tenis meja.

Li Yiyi, gadis cilik itu berlatih di bawah seorang pelatih yang keras. Li Yiyi harus mengikuti semua metode latihannya tanpa kompromi.

Instruksi yang keras membuat Li Yiyi menangis, tetapi ia tidak berhenti. Kedua orangtuanya yang menyaksikan dari pinggir arena mengaku tak tahan melihat anaknya menangis, tetapi mereka menyadari, seperti itulah cara untuk menjadi maju.

"Mempelajari sesuatu yang baru memang sulit," kata orangtua Li Yiyi.

Buah dari ketekunan dan ketahanan berlatih keras Li Yiyi menjadi petenis meja berprestasi. Dia menjadi juara dalam kejuaraan kelompok umur yang diikutinya. Li Yiyi bercita-cita menjadi atlet tenis meja profesional.

Keberhasilan Li Yiyi adalah kombinasi antara kemauan keras sang anak, pelatih tanpa kompromi, orangtua yang menyadari pentingnya sebuah latihan keras bagi seorang anak bila ingin maju, dan fasilitas latihan memadai.

Kita tinggalkan kisah Li Yiyi. Di depan rumah saya ada lapangan sepakbola milik pemerintah, bernama Lapangan KONI. Mungkin dulu dimiliki oleh KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia).

Karena lapangan ini berada di depan rumah, dulu ketika muda saya suka latihan bersama anak-anak kampung yang tinggal di lapangan KONI. Sering melakukan pertandingan persahabatan baik di kandang maupun tandang. Dari lapangan sepakbola inilah lahir Pepen Rubianto, pemain sepakbola yang pernah memperkuat PSSI Yunior ketika mengikuti Kejuaraan Dunia Yunior di Tokyo tahun 1979.

Pepen menjadi pesepakbola yang bagus karena selalu melatih dirinya dengan keras. Pepen bergabung dengan klub sepakbola setempat, Kompas (Kesatuan Olahraga Masyarakat Pancoran Mas), yang secara rutin melakukan pertandingan persahabatan dan menggelar turnamen sendiri. Dari kampung kami juga banyak pesepakbola yang direkrut oleh klub Persikabo, milik Pemerintah Kabupaten Bogor.

Geliat sepakbola di kampung kami mulai surut setelah lapangan KONI dipagar sekelilingnya. Untuk berlatih harus ijin, dan belakangan dikutip uang sewa lapangan. Tidak terlalu besar, tetapi bagi kami yang sebagian besar lahir dan besar di kampung ini, rasanya memberatkan.

Semak-semak dan rumput liar kini tumbuh di pinggir lapangan . Di sebuah pojok, sudah menjadi tempat pembuangan sampah tidak resmi. Sampah telah menjadi penghuni tetap lapangan. Anak-anak, juga mereka yang berlatih sepakbola, membuang begitu saja botol atau gelas plastik minuman, atau sampah apa sama yang mereka bawa.

Kini Lapangan KONI sudah tidak terawat. Sebagian tembok yang mengelilinginya roboh. Tribun yang terbuat dari besi rusak parah, ruang ganti pakaian pemain menjadi sarang hantu, dan bila malam konon digunakan oleh hantu-hantu yang masih doyan makan di warteg.

Lapangan KONI menjadi tempat yang asyik menikmati malam. Banyak ABG yg suka berada di lapangan KONI bila malam hari. Warga beberapa kali memergoki pasangan yang berbuat mesum. Sementara bila siang, ada juga yang bermain bola, tidak serius, hanya untuk bersenang-senang, berbagi dengan anak-anak yang main layangan. Tidak ada anak-anak yang berlatih dan dilatih seserius Li Yiyi.

Pemerintah Kota Depok nampaknya tidak pernah peduli dengan nasib Lapangan KONI Depok, sekaligus tutup mata dengan pertumbuhan anak-anak muda yang semakin liar. Mungkin itu implementasi dari predikat Kota Layak Anak. Dibiarkan anak-anak muda tumbuh liar seperti bunga di tepi jalan.

Tiga kali berturut-turut Depok mendapat Predikat Kota Layak Anak dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Salam untuk teman-teman jurnalis yang kini tinggal di Depok, Supriyanto MartosuwitoAgus AsiantoMusa SanzStevy WidiaDewi Bundanya DelhaqsarGino Franki Hadi dan banyak lagi yang masih lupa untuk disebutkan namanya di sini.

Sumber : Status Facebook Matt Bento

Friday, July 3, 2020 - 10:00
Kategori Rubrik: