Anak Berhijab Bukan Ukuran Keberhasilan Didik Keluarga

ilustrasi
Oleh : Mimi Hilzah
Anak perempuan saya dulu mulai berjilbab pas masuk sekolah menengah pertama. Dia sendiri yang bertanya apakah boleh. Boleh saja kata saya, asal tahu konsekuensinya dan bertanggung jawab. Alasannya kenapa pakai jilbab, saya tidak bertanya jauh. Bagi saya, itu sebuah pilihan yang tidak perlu dipertanyakan. Entahkah itu memang bentuk kesadaran, entahkah karena ikut-ikutan. Sah saja. Semua orang toh berproses dan yang mengalaminya ya mereka sendiri.
Sampai detik ini ia masih berjilbab. Rasanya bagaimana? Biasa saja, Bu Pak... Tidak mendadak merasa jadi orang tua yang sudah berhasil mendidik anak. Parameter keberhasilan didikan orang tua lha ya ndak mentok di urusan pakaian semata. Akhlaknya terutama, bagaimana ia memperlakukan manusia lain, bagaimana ia di dalam maupun di luar rumah membawa dirinya. Bisa belajar disiplin dan memangku tanggung jawab tidak? Adabnya sudah baik tidak?
Kami mungkin bisa dituding sebagai orang tua yang tidak serius menjiwai agama. Tergantung lagi, agama itu bagi kalian apa dan untuk apa? Sebagai seorang yang mendapat cap murtadin di Kristen dan muallaf di Islam, saya belum pernah berubah pendapat bahwa agama adalah semacam peta untuk membantumu memilih rute perjalananmu ke depan, dan seperti apa kau ingin menjalaninya. Yang lucunya jika ada yang bertanya soal mengapa saya memilih agama yang sulit, banyak aturan dan yang umatnya ada saking taatnya terlihat seolah sedang mabuk beragama?
Sulitnya ya palingan bersifat teknis belaka. Hal-hal yang kadang bertabrakan dengan sifat manusia saya yang suka malas-malasan dan menunda. Shalat misalnya. Kalau puasa ya seiring waktu saya belajar menahan lapar dan haus itu bukan tantangan sebenarnya. Esensi puasa yang lebih tinggi adalah mengendalikan hawa nafsu dan membiasakannya. Menjadikannya kebiasaan baik. Sebelum nantinya mengantar diri manusia saya menjadi orang yang lebih sederhana, mampu memilih keinginan, mampu membagi yang bisa saya nikmati sendiri kepada orang lain. Berinteraksi dengan orang lain juga lebih luwes kalau kita pandai mengelola emosi dan hawa nafsu. Saya sudah membuktikannya sendiri.
Soal sedekah ya gampang. Asal ada duitnya, haha... Yang berat dari pelajaran sedekah itu, kalau lagi sempit, bisa tidak merelakan yang sedikit itu untuk dibagi? Di sisi lain, ada tantangan yang lebih joss dari memiliki penghasilan yang baik dari sebelumnya tidak punya apa-apa. Kita bisa jadi pelit atau malah rakus. Perasaan yang biasa menggoda itu, kalau sudah mulai lancar mengumpulkan, rasanya sayang kalau dilepas ke orang lain. Tapiiii, saya kemudian memahami bahwa dunia bekerja seringnya tidak adil. Maka mengapa ketika kita mampu, kita tidak mencoba menegakkan keadilan-keadilan kecil versi kita yang bisa kita usahakan? Minimal dari lingkungan kita, syukur-syukur kalau bisa lebih luas. Yang sudah kaya dan punya kesempatan lebih banyak, bantulah yang belum kaya dan terbatas peluangnya. Supaya bisnis si kaya berkah? Bukaaannn! Nggak usah mencari pembenaran nilai/upah yang merupakan hak mutlak Yang Di atas. Niatkan saja supaya senyum itu bisa dibagi-bagi, perut bisa sama kenyang, anak-anak orang lain bisa sekolah sama baiknya dengan anak-anak kita. Rasa syukur dan bahagia itu toh nggak jadi habis jika dinikmati dengan manusia lain.
Nah, saya sudah melantur ke mana-mana. Padahal tadi ceritanya mau ngomongin jilbab
Ya, saya juga prihatin soal sekolah yang mengharuskan siswi di luar Islam mengenakan jilbab. Pertama ya jilbab itu tidak mewakili agama mereka. Kedua, ini sekolah negeri kan ya, bukan sekolah khusus agama. Ketiga, ayolah... mau sampai kapan kita seperti ini? Selalu mencari celah dan cara untuk menunjukkan, hei... agamaku yang paling bagus, lho...
Saya mungkin tidak akan berhenti menjadi sok tahu mengingatkan teman-teman sekalian, walau tidak mutlak, apa yang kita katakan dan kerjakan di luar sana bisa sekali mewakili wajah agama yang kita anut di mata orang lain. Makanya saya menjauhi mereka-mereka yang terlalu fanatik sampai-sampai semua di luar keyakinannya adalah salah. Selain itu saya juga menghindari mereka yang sibuk mengolok-olok keyakinan orang lain yang justru tidak pernah menjadi pengalamannya.
Saya mencintai agama saya dengan mengikuti semua petunjuknya tanpa harus menyinggung keyakinan orang lain yang tidak memahami apa yang saya percayai. Karena cinta saya kepada Rasulullah, sekuatnya saya ingin meneladankan kelembutan dan sifat adil beliau kepada semua manusia tanpa pilih-pilih. Walau beratnya minta ampun, sungguh saya senang hati melakukannya.
Pun kepada Allah yang memberi saya hidup. Saya belajar bentuk takluk yang sebenarnya itu justru sangat indah ketika kau dipenuhi kesadaran penuh bahwa hidup yang kau diberi ini adalah kesempatan yang sangat besar untuk menjadi manusia yang bermanfaat. Kepada bumi, kepada isinya, bahkan kepada kucing-kucing liar sekalipun. Begitu besarnya saya mencoba memberi, itu karena saya ingin Allah tahu bahwa saya berterima kasih atas semua hal yang datang dalam hidup saya bahkan untuk pengalaman-pengalaman pahit yang membuat babak belur. Saya tak akan sekuat ini kalau latihan saya hanya rebahan dan nonton drakor.
Jadi agama itu apa buatmu? Coba temukan dulu jawabannya. Mungkin dari jawaban sederhana kita lantas bisa mengurai kerumitan-kerumitan yang berasal dari ego dan pikiran kita sendiri. Lalu setelahnya, kita akan lebih berhati-hati mengelola diri dan memperlakukan manusia lain. Nanti bukan masalah lagi agama siapa yang paling bagus dan benar. Tapi yang menjadi fokusnya, dari agama yang kalian peluk, apa hasil baik yang paling signifikan yang benar-benar rahmatan lil alamin? Menjadi rahmat bagi semua tanpa terkecuali.
Sumber : Status Facebook Mimi Hilzah
Sunday, January 24, 2021 - 08:15
Kategori Rubrik: