Anak-Anak Presiden, Kita Belajar Apa?

Oleh: Thamrin Sonata

Anak-anak Presiden, masih ada. Ya, anak-anak presiden sejak proklamator hingga wong Solo biasa saja. Mereka, anak-anak itu, bukan anak-anak biasa. Lha, anak orang nomor satu dari sebuah negeri berpenduduk terbesar keempat di dunia, lho. Apa kita bisa ikut nunut belajar dari anak-anak presiden itu?

Mestinya, jawabannya: ya. Belajar dari yang baik dari buah yang jatuh dari pohon orang berkuasa dalam suatu kurun waktu. Apakah itu? Ternyata beragam dari anak-anak presiden itu. Dan semalam, Rabu (24/2) saya belajar dari Gibran Rakabumi dan Kaesang Pangarep dari sebuah layar televisi: Mata Najwa. Anak Presiden Sebelumnya Pastilah anak-anak presiden-presiden sebelumnya punya sisi baiknya. Meski lebih banyak yang tidak kita ketahui.

Dan, itulah yang membuat kita tak bisa belajar dari anak-anak presiden itu. Apalagi, ketika era media dibungkam dengan bahasa yang kedengaran bagus: bebas bertanggung jawab. Contoh kecil saja: memberitakan pacar dari “Si Anak” pun ndak boleh. Meski di sisi lain, di sisi “positifnya” kita dengar: pacarnya banyak, cantik-cantik dan senang gonta-ganti. Lalu, kita dengar yang lainnya lagi. Bahkan ia mesti menjadi menteri atau jabatan mentereng, mungkin mendesak kepada orangtuanya, selain punya pemasukan materi yang bisa tak terhingga.

Entah dengan cara apa pun. Akibatnya, “anak polah bapak kepradah”.  Anak nakal bapake kena getahnya. Eh, semalam sebuah tontonan ger-geran tapi membuat saya mikir beneran. Ini anak-anak presiden atau bukan? Kok acap kali menjawab, “Ah, biasa saja.” Atau, “Ayah orangnya maunya melucu. Tapi ndak lucu. Orang tertawa, mungkin karena kasihan”. Kayaknya ini bukan dagelan a la Srimulat, yang kebetulan ngetopnya dari Bale Kambang, Solo yang pernah saya sambangi.

Tapi beneran. Meski semacam guyon pari keno, humor yang asal dan bisa benar. Lha, si anak malah membuka rahasia ayahnya yang sukanya main kecebong, anak katak. Bahkan, hingga ketika Si Anak diajak ke Raja Ampat, pas jelang Tahun baru 2016. Tentang kecebong. Jualan Kemandirian Anak paling kecil, Kaesang belajar di Singapore, sudah banyak yang tahu. Termasuk kerap main di medsos, dan entengan gayanya. Juga membuka rahasia di semalam itu tentang kebiasaan bapaknya suka kecebong. Lalu Si Sulung yang sudah menikah, Gibran, yang sedikit lebih serius daripada sang adik. Ia, salah satu usahanya, jualan martabak. Markobar namanya.

“Kan ini promosi gratis,” sebutnya ketika ia bersedia tampil di Mata Najwa. Cerdas. Namun ia dan adiknya, tetap anak-anak presiden yang benar-benar biasa saja. Termasuk berani tampil seadanya. Tanpa beban. Tidak mengambil kesempatan karena kebetulan orangtuanya sedang berkuasa. Padahal, ketika ia mengambil keputusan untuk menjadi pengusaha dari bawah, banyak orang-orang anak buah bapaknya ketika di Solo, ditampiknya. Dan ia mengambil keputusan berani “untuk tidak KKN” mendapat order dari lingkungan Pemkot Solo. Berjualan secara bebas saja.
 

“Orang kan (ke saya) beli makanan. Tastenya yang dipertimbangkan,” jawabnya tentang orang-orang yang mengenal Gibran jualan soal isi perut itu. Artinya, pertimbangannya, enak atau tidak. Layak atau tidak dibeli. Bukan karena itu jualan dari anak orang (paling) penting. Jelas. Ini sebuah usaha dari bawah dan sama sekali tak ingin untuk memanfaatkan orangtuanya, hingga sekarang sebagai presiden.

“Jangan dicampuradukan bisnis dan politik. Bapak tetap jalan. Saya juga jalan dengan bisnis saya,” ungkap Gibran, sederhana. Mana ada anak-anak presiden sebelumnya yang demikian cair dan berani tampil apanya untuk dikupas “oleh” media?

Bahkan, ketika dengan nakal Mata Najwa menghadirkan Ernest Prakasa yang ditugasi untuk “ngeledekin” dua anak presiden yang masih berkuasa. Meski sang Komedian itu membuka dengan kata maaf. Maka, saya – yang mulai terlibat di media sejak Presiden kedua – pun minta maaf dalam menilai anak-anak presiden sebelumnya. Yang masih hidup dengan cara dan gayanya. Jauh panggang dari api sate pembakaran moral orang tuanya. 

(Sumber: Kompasiana)

Thursday, February 25, 2016 - 16:45
Kategori Rubrik: