Anak-Anak, Pandemi dan Gawai

ilustrasi

Oleh : Teguh Arifiyadi

Batas minimum usia seseorang yang diperbolehkan memiliki akun pada aplikasi zoom adalah 16 tahun, sedangkan batas minimum usia seseorang yang diperbolehkan menggunakan aplikasi whatsapp adalah 13 tahun. Demikian juga Google—termasuk didalamnya android, gmail, youtube— yang melarang anak dibawah 13 tahun untuk mengakses platform tersebut tanpa supervisi.
.
Jika kita taklid pada aturan tersebut, artinya kita (seharusnya) tidak akan pernah memberikan akses kepada anak kita untuk mengakses platform-platform tersebut atau jikapun diberikan, harus dengan pengawasan selekat-lekatnya.
.
Dilemanya, apa iya kita akan larang anak-anak dibawah usia 13 tahun mengakses platform-platform tersebut sementara di era pendemi, pembelajaran anak-anak ‘memaksa’ menggunakan sarana tersebut? Padahal, nyaris mustahil bagi orang tua mendampingi anaknya berjam-jam mengakses internet selama masa pembelajaran.
.
Tak perlu naif, tanpa pandemi pun, kita terbiasa memberikan akses secara sukarela kepada anak, tak hanya akses, banyak anak-anak dibawah usia 13 tahun yang bahkan sudah kita berikan perangkat pribadi.
.
Di Amerika sekalipun, menurut the research firm Influence Central, rata-rata anak memiliki smartphone mereka sendiri di usia 10 tahun. Lho, bukannya batas usia seseorang untuk memiliki dan menggunakan gawai itu diatas 13 tahun?
.
Intinya, aturan-aturan pembatasan usia mengakses perangkat bagi anak di era pandemi ini menjadi ambyar. Beberapa orang tua yang selama ini melarang atau membatasi anaknya mengakses internet menjadi kelimpungan sendiri. Kita, secara sadar atau tidak sadar, sering menjadikan smartphone sebagai "sebaik-baiknya" teman pengasuhan bagi anak.
.
Google sebetulnya menawarkan salah satu solusi dengan google family link. Aplikasi ini memberikan jalan bagi anak dibawah 13 tahun untuk memiliki akun sekaligus memberi jalan orang tua melakukan supervisi ‘jarak jauh’ terhadap anak secara daring. Syaratnya, anak-anak yang dimonitor oleh orang tua tersebut harus memberikan persetujuan untuk diawasi. Nyatanya, lambat laun anak-anak mulai belajar cara melepas persetujuan ‘supervisi’ ini tanpa disadari orang tua mereka. Anak-anak yang terlahir sebagai warga digital, tentu akan lebih cepat belajar hal baru dibanding orang tuanya yang hanya imigran digital.

Sebagai orang tua, meski tak gagap teknologi, saya sendiri kesulitan mensupervisi penggunaan internet oleh anak. Banyak kelalalain-kelalaian yang sangat mungkin menyebabkan anak saya terpapar informasi negatif. Aturan penggunaan gawai oleh anak yang biasanya hanya diizinkan di akhir pekan, terpaksa kami longgarkan untuk kebutuhan pembelajaran (khusus untuk di sulung). Banyu Bumi, anak kedua kami, masih bisa dibatasi oleh emaknya untuk tidak mengakses smartphone di hari kerja. Pekerjaan membatasi anak berinternet itu seperti sebuah misi berat di sebuah medan perang yang pasti menguras emosi dan melelahkan jiwa raga.
.
Di akhir pekan, saya berupaya mengajak anak saya beraktifitas luar ruang (bersepeda dan main sepak bola). Tapi balik lagi, di era pendemi, aktifitas luar ruang oleh anak yang memungkinkan interaksi dengan orang lain itu juga sama bahayanya.
.
Terus kudu piye? Mau tak mau kita terpaksa bertoleransi dengan mengambil sedikit demi sedikit risiko sambil terus berdoa agar mereka baik-baik saja.
.
Yang pasti, imunitas yang harus disiapkan orang tua terhadap anak di era pandemi tidak hanya melulu imunitas fisik saja, melainkan juga imunitas pikiran dan hati agar anak menjadi kebal paparan konten negatif internet. Itu mahaberat!
.
.
Referensi:
https://zoom.us/terms
https://faq.whatsapp.com/…/sec…/minimum-age-to-use-whatsapp/
https://support.google.com/meet/thread/42247268?hl=en
https://support.google.com/accounts/answer/1350409?hl=en
https://www.nytimes.com/…/whats-the-right-age-to-give-a-chi…

Sumber : Status facebook Teguh Arifiyadi

Friday, July 24, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: