Anak-Anak Kita, Anak Zamannya

ilustrasi

Oleh : Ade Kumalasari

Saya kok agak risih kalau ada yang nyombong generasi 90-lah yang terbaik. Kemudian disangkal sama generasi 80-an, mereka lah yang lebih baik. Tentu kalau mendengar ini, generasi 70-an bakalan protes. Untungnya mereka tidak ada di Facebook 

Menurut saya setiap generasi punya tantangannya sendiri. Yang lebih penting dari 'lomba' menjadi generasi terbaik dari sejarah umat manusia *sigh* adalah menjadi insan terbaik dari setiap zamannya.

Kita tidak pernah tahu tantangan apa yang akan dihadapi generasi anak-anak kita. Mereka mungkin akan punya pekerjaan yang sekarang belum ditemukan. Ketika saya masih SD dulu, Ibu saya juga tidak akan pernah membayangkan anaknya bekerja sebagai blogger, atau menjadi editor lepas yang tidak perlu masuk kantor. Saya pun masih terheran-heran ada profesi 'buzzer':)

Yang bisa kita lakukan untuk anak-anak adalah memberinya bekal agar mereka bisa bertahan di zamannya. Saya ajari anak-anak ketrampilan hidup standar seperti mencuci baju (tanpa mesin), memasak sederhana, mencuci piring, menyapu dan mengepel lantai dan lain-lain. Alhamdulillah kami tidak punya asisten rumah tangga, jadi lebih mudah. Lalu survival skill lainnya adalah bisa berenang dan bisa naik sepeda.

Di era informasi ini, anak-anak (tak terelakkan) terpapar oleh kecanggihan teknologi. Kalau saya generasi klik, anak saya adalah generasi tap. Tanpa diajari pun, balita bisa dan luwes memainkan gawai (gadget). Untungnya anak-anak kami mendapatkan sekolah yang bagus. Big A dan Little A sempat kami titipkan di childcare di Sydney. Percaya atau tidak, di sana tidak ada TV atau gawai apapun. Satu-satunya alat elektronik yang ada adalah tape recorder untuk memainkan musik ketika anak-anak menari. Sebagai gantinya ada peralatan melukis, bak pasir, playdough (malam), kostum untuk bermain drama, pernak-pernik kerajinan dan ratusan buku. Anak-anak di bawah umur lima tahun tidak dikenalkan pada 'screen' atau layar.

Kembali di Surabaya, Big A dan Little A sekolah di SD Alam. Ruang kelas mereka tidak ber-AC, taman bermain mereka tidak berbeton, anak-anak boleh kotor dengan tanah, dan pohon di sekolah mereka lebih banyak daripada mobil jemputan yang parkir di halaman sekolah.

Kami tidak anti teknologi, malah sebaliknya. Kami ingin anak-anak menguasai teknologi agar bisa menghasilkan sesuatu. Teknologi mestinya membuat kami menjadi lebih produktif. Big A boleh nonton drama Korea, tapi harus menulis di blog dan menyelesaikan proyek buku cerpennya. Little A boleh You Tube-an, tapi harus membuat craft/art/video review. Plus semua harus membaca buku setiap hari. Walau harus diakui, aturan ini susah ditegakkan di hari libur 

Apakah teknologi merusak generasi sekarang? Tergantung bagaimana kita menggunakannya. Kami punya TV berdebu yang tidak pernah kami tonton. Saya lebih memilih medium internet karena anak-anak bisa lebih berkuasa mencari dan memilih sendiri tayangan mereka. Waktunya pun tidak tergantung oleh saluran TV/TV kabel. Tapi mereka butuh pendampingan. Kami tidak menerapkan sensor, tapi mengajari anak-anak untuk menyensor sendiri. Ketika mengetikkan sesuatu di Google, ribuan data muncul, tapi mana yang bisa dipercaya? Mana yang masuk akal, mana yang harus dicurigai? Tentang ini, orang-orang dewasa aja masih kesulitan, hehe. Biar ahlinya, Nino Aditomo, nanti yang menulis tentang ini. Kami mengajari anak untuk bernalar. Not what to think, but how to think.

Yang terakhir, kami rajin mengajak anak-anak traveling. Mengenal budaya suku dan bangsa lain membuat wawasan dan pikiran kita lebih terbuka. Bukan hanya golongan kita saja yang berhak tinggal di muka bumi ini. Kami belajar, di negara maju, pejalan kaki dimuliakan, orang-orang difabel diberi fasilitas agar bisa mandiri. Sementara di negara berkembang, kami juga belajar bahwa kedermawanan kadang ditemukan pada orang yang paling tidak beruntung, bahwa senyum tulus keramah-tamahan ditemukan di pelosok desa. Kami jadi lebih menghormati sesama manusia makhluk Tuhan.

Bolehlah kita bernostalgia, tapi anak-anak kita adalah anak-anak zamannya. Semoga anak-anak kita menjadi generasi yang lebih humanis, rasional dan bahagia.

Sumber : Status Facebook Ade Kumalasari

Tuesday, January 21, 2020 - 10:15
Kategori Rubrik: